Review: Inglourious Basterds (2009)
December 15, 2009
SPOILER ALERT !!!!
SPOILER ALERT !!!!
Sejarah ditulis oleh manusia. Sejarah dapat ditulis ulang oleh manusia.
Oke…. dua kalimat barusan memang kurang cocok untuk memulai sebuah artikel ringan tentang film. Dan, berhubung tidak ada orang yang ingin membaca artikel ‘berat’ tentang film di dunia blog Bahasa Indonesia, saya akan memulai ulang tulisan ini. Saya akan menyimpan dua kalimat tersebut, dan menggantinya dengan kalimat yang lebih umum.
“Inglourious Basterds adalah karya klasik Quentin Tarantino.” Kita dapat menemukan elemen-elemen klasik khas Tarantino dalam film ini, elemen-elemen yang membuat film ini menjadi guilty pleasure bagi saya. Pleasure, karena film ini memang mengasyikkan. Dalam Inglourious Basterds penonton digiring dengan rapi melewati jalinan plot yang menegangkan, lucu, dan beragam. Selama saya menonton film ini, saya tidak dapat menentukan tokoh utama karena plot-plot yang ada memiliki sumbangan tersendiri terhadap film ini. Termasuk plot yang dibangun di sekitar Inglourious Basterds, sekumpulan prajurit Yahudi-Amerika yang dipimpin oleh Aldo Raine (Brad Pitt). Para Basterds bertugas di Perancis tahun 1941 untuk mengganggu kegiatan Nazi yang sedang berkuasa di sana. Namanya di-judul-kan ternyata tidak membuat para Inglourious Basterds sebagai satu-satunya elemen, atau plot, utama dalam film ini. Walau mereka penting bagi jalan cerita, mereka tidak lebih penting dari protagonis selanjutnya.
Shosanne Dreyfusses (Melanie Laurent) adalah Yahudi keturunan Perancis yang berhasil lari dari pembantaian Nazi. Pembantaian itu menewaskan seluruh keluarganya di depan mata Dreyfusses sendiri. Cerita kemudian berlanjut dengan Dreyfusses yang tinggal di Paris dengan kesempatan untuk balas dendam, tidak hanya terhadap Nazi tapi sekaligus Her Fuhrer Adolf Hitler dan semua orang penting Nazi, termasuk Joseph Goebbels. Inilah yang menjadikan Dreyfusses sebagai protagonis lain, sebanding dengan prajurit-prajurit Basterds. Tanpa salah satu dari mereka cerita tetap dapat berakhir, tapi tidak akan terlalu mengasyikkan.
Karena tanpa ada dua plot, kesempatan bagi Hans Landau(diperankan dengan luar biasa oleh Christoph Waltz) untuk muncul semakin sedikit. Padahal Hans yang perwira Nazi merupakan tokoh utama film ini. Sebagian karena akting yang sangat memikat, sebagian lagi karena keberadaannya sangat dominan dalam film ini. Landau menjadi titik gravitasi yang menarik bagian-bagian plot yang tercecer menjadi padu. Pada awal film Landau dihadirkan sebagai pria yang membunuh semua keluarga Dreyfusses, dengan demikian bertanggung jawab atas tumbuhnya keinginan balas dendam dalam gadis itu. Landau juga dikenalkan sebagai pria yang dijuluki The Jewish Hunter atau Si Pemburu Yahudi saking ahlinya memburu Yahudi, menjadikannya musuh alami bagi geng Basterds. Dan, dilihat dari beberapa sisi, Landau juga bertanggung jawab atas matinya Hitler di akhir cerita. Ya, Hitler mati. Itupun bersama Goebbels dan kawan-kawan. Di film ini Nazi dihancurkan di Paris lewat rencana pembunuhan terhadap perwira-perwira utamanya.
Basterds menjadi pleasure karena film ini merupakan parodi yang berjalan baik. Guilty, karena film ini sangat Tarantino. Sebagaimana halnya film Tarantino lain, film ini memberikan sentuhan humor yang kasar. Aldo Raine, misalnya, memiliki hobi mengumpulkan kulit kepala Nazi. Hobi yang muncul karena dia adalah Yahudi keturunan Indian. Sarkasme yang dimunculkan keberadaan Yahudi keturunan Indian dan senang menguliti kepala orang dilengkapi dengan julukan Raine yang sangat norak: Aldo the Apache. Oh ya, Raine juga senang mengukir kepala serdadu Nazi yang dibiarkan selamat dengan gambar swastika, untuk menggantikan seragam, katanya. Humor sadis. Sungguh sangat Tarantino.
Sekarang, karena telah menunaikan kewajiban memberikan gambaran umum, saya akan kembali ke dua kalimat pertama saya, “Sejarah ditulis oleh manusia. Sejarah dapat ditulis ulang oleh manusia.” Dua kalimat itu pertama kali saya baca dalam karya Edward Said, Orientalism, pada tahun pertama kuliah. Said bilang dia terinspirasi oleh Vico dan Foucault. Seeprti Said, mungkin Tarantino juga terinspirasi oleh Vico dan Foucault dan menulis film ini. Mungkin juga dia tidak peduli sama sekali soal Vico dan Foucault. Tapi dalam film ini dia melakukan hal yang membuat saya teringat kepada Said, Vico, dan Foucault. Tarantino menulis ulang sejarah.
Dia menulis ulang sejarah, setidaknya, lewat dua cerita. Cerita pertama, tentu saja, adalah kematian Hitler. Sementara cerita kedua adalah perlawanan Yahudi. Yahudi yang, sepanjang ingatan saya, sering ditampilkan Holywood sebagai korban kini ditampilkan sebagai kelompok yang mampu melwan Nazi, termasuk menjadi serdadu sadis yang senang menyiksa Nazi sampai mati. Basterds, dan film Defiance yang dibintangi Daniel Craig, berdiri membelakangi tabu yang menjadikan Yahudi dan pembantaian Yahudi sebagai subyek yang sensistif. Di film ini, Yahudi tidak menjadi korban… mungkin kalau film ini dilanjutkan, Yahudi akan mendirikan negara di Afrika, bukan di Timur Tengah.
Mungkin juga tidak. Sekali lagi, mungkin Tarantino tidak peduli sejarah, atau Said, atau Vico, atau Foucault. Mungkin Tarantino hanya menjadi Tarantino dan bersikap kurang ajar dan membuat film yang membunuh Hitler. (oleh Yahudi!! oleh Yahudi!!)
P.S: Apa kesombongan akademisi berhasil saya tampilkan di tulisan ini?
Ninja dalam Ilmu Politik
December 12, 2009
Ninja telah hadir dalam budaya populer modern dalam posisi nyaman antara legenda dan kenyataan. Jika dalam kenyataan ninja hidup dalam bayangan, dalam legenda ninja menikmati perayaan yang luar biasa. Legenda mengatakan bahwa ninja adalah kelompok manusia super yang bisa melakukan kegiatan fisik sambil melawan hukum-hukum fisika: terbang, menghilang, membelah diri, hingga memanggil siluman rubah ekor sembilan. Keajaiban ninja menjadi salah satu faktor yang membuat kelompok rahasia ini sering diperbincangkan, termasuk dalam literatur-literatur klasik yang menjadi bahan diskusi Ilmu Politik. Tulisan ini bermaksud merangkum catatan-catatan penulis klasik yang pernah mencatat tentang ninja.
Saya akan memulainya dari literatur pada masa Yunani Kuno. Memang. dalam film dokumenter Ninja Assassin disebutkan bahwa catatan terlama tentang ninja berasal dari rekam jejak perjalanan Ibnu Battuta. Itu salah. Thucydides sempat mencatat dalam The Peloponnesian War tentang ninja. Saat Athena menyudutkan kaum Melian, seperti dicatat pada bagian Melian Dialogue, orang-orang Melian itu menjawab, “it might be true that the strong could do anything while the weak has to accept it. But in front of the silent assassin clan who often wear tight black clothing while killing, that difference is meaningless.” Bisa kita lihat di sini, bahwa Thuciydides mencatat kata-kata, “the silent assassin clan who often wear tight black clothing“, yang dapat diartikan sebagai isyarat keinginan kaum Melian untuk menyewa jasa ninja. Karya ini ditulis 16 abad sebelum Ibnu Battuta.
Referensi tentang ninja di masa Yunani kuno tidak berhenti di sana. Dalam Crito, misalnya, Plato sempat membayangkan dialog tentang pembebasan Socrates dari penjara. Socrates yang sedang dibujuk untuk keluar dari penjara menolak dengan alasan khawatir pembebasannya akan menurunkan derajat hukum di mata rakyat. Tapi Socrates mampu keluar, dia bilang “I could enlist the help of the eastern rogue, they who hid from the light and kill from the shadow, but I chose not to.” Penjabaran, “eastern rogue, they who hid from the light and kill from the shadow” bisa jadi menyiratkan keinginan Plato untuk memanggil vampir demi menolong Socrates. ATAU itu adalah isyarat tentang ninja.
Saya cenderung percaya bahwa Plato menulis itu dengan ninja di pikirannya. Karena hal ini akan konsisten dengan catatan Plato tentang Atlantis, yang ditenggelamkan oleh konspirasi, “eastern rogue” barusan. Di mana Plato jelas-jelas menyebut penenggelaman itu dilakukan di siang bolong. Dan, yah, vampir tidak mungkin menenggelamkan pulau di siang bolong kan?
Kata “ninja” sendiri baru dikenal sekitar Abad Pertengahan, kemungkinan dibawa oleh pedagan dari jalur sutera. Sebelum itu, catatan mengenai pembunuh berpakian hitam nan ketat dan beraksi dalam gelap menyebar dalam banyak literatur. Salah satu penggunaan terkenal tentang kata ninja ada pada edisi awal The Prince. Pada awal masa penulisaannya, Machiavelli menyarankan sang pangeran untuk bersikap seperti, “lion, fox, and ninja.” Saat menjadi singa, pangeran harus menjadi kuat untuk mengalahkan serigala. Saat menjadi rubah, pangeran harus menjadi cerdik untuk menghindari perangkap. Saat menjadi ninja, pangeran menjadi sempurna.
Tapi bagian ninja dihilangkan oleh Machiavelli secara misterius. Dan fakta bahwa dia pernah memasukkan ninja dalam tulisannya hanya tersisa dalam surat yang dia simpan dalam berkas pribadi. “I don’t believe that it is the philosopher that should be prince. My personal observation has taught me that it is ninja who has the necessary qualities to become sovereign ruler. Sadly, my conclusion should be kept for myself for reasons that I cannot convey to you.“, tulis Machiavelli dalam surat itu.
Sayangnya sesudah Machiavelli sedikit sekali tulisan tentang ninja. Kalaupun ada, seringkali tulisan itu tidak memberi keterangan yang bisa dijadikan petunjuk tentang keberadaan ninja. Ninja telah belajar untuk tetap ada di bayangan tampaknya.
[Bagian ini akan dilanjutkan dengan ninja dalam literatur Ilmu Politik dan Hubungan Internasional kontemporer seperti karya Gabriel Almond, Robert Putnam, Hans Morgenthau, atau E.H. Carr. To be continued.. ]
———-
P.S: Tidak ada yang menganggap ini tulisan serius kan?
review: Doghouse (2009)
December 11, 2009
ZOMBIE!!!! Woo hooo!!!Akhirnya saya menulis soal zombie di blog ini!! Oh. Mata saya mulai berkaca-kaca…
Ehm.
Zombie, dari bahasa Latin “Zombinus”, berarti mayat hidup. Film zombie, dari bahasa Latin “Filmus Zombinus”, berarti film tentang mayat hidup. Sejak saya pertama kali menonton filmus zombinus saya ingin menulis khusus tentang satu film zombie, tapi belum terlaksana juga. Bukan karena film zombie yang ada baru-baru ini buruk semua, sama sekali bukan. Terima kasih pada populernya zombie di bumi manusia, film zombie layak tonton sering sekali muncul, seperti Zombieland yang baru ada itu.
Tapi kalau sudah malas menulis, ya malas.
Dan kalau sudah ingin menulis, ya menulis. Termasuk kali ini. Saat saya baru menonton film berjudul Doghouse, tiba-tiba keinginan itu muncul. Panggilan keinginan itu langsung saya jawab lebih cepat dari 108.
Saya pun pergi ke toilet, karena itu keinginan untuk membuang yang tidak perlu. Setelah itu saya minum teh dicampur madu. Push-up 30 kali. Main game komputer dua jam. Pergi ke Jatinangor dan kembali ke rumah dengan Karim*n. Pergi ke Jatinangor dan kembali dengan sepeda. Membangunkan teman untuk mengantarkan saya pergi ke Jatinangor dan kembali dengan sepda motornya. Ditolak. Push-up 30 kali lagi. Dan tiba-tiba saya ingin menulis.
Voila. Inilah tulisan saya tentang film yang baru saya tonton itu: Doghouse.
Ceritanya, sekelompok pria paruh baya pergi ke desa. Perjalanan itu direncanakan sebagai penyembuhan bagi salah seorang dari mereka yang baru saja melewati perceraian. Di kepala pria-pria itu mereka akan melakukan apapun yang pernah mereka lakukan: raw, masculine fun. Seperti dulu, waktu mereka masih bocah seumuran saya.
Sayang beribu sayang. Janji tinggallah janji, duhai tuan, bulan madu tinggallah mimpi. Bukannya petualangan senang-senang yang mereka dapatkan, mereka malah dihadapkan dengan perjalanan brutal.
Desa yang mereka tuju sudah dipenuhi zombie. DAN semua zombienya perempuan! Ternyata desa itu diserang oleh virus aneh yang hanya menyerang perempuan dan mengubah mereka menjadi, untuk meminjam salah satu kalimat dari film, “an army of pissed off, man-hating, feminist cannibals.”
Menarik.
Film ini memulai tangga menuju klimaks di atas pijakan berikut: pertama, desa itu dipenuhi zombie; kedua, yang menjadi zombie hanya perempuan; ketiga, zombienya doyan pria; keempat, jagoan-jagoan kita adalah pria terakhir di sana; kelima, zombienya lapar; keenam, saya juga lapar. Jadi di tengah film saya keluar kamar dan mencari makanan ringan… mungkin karena semua push-up dan bolak-balik ke Jatinangor itu ya?
Eh…
Tadi sampai mana?
Ah.
Iya, ini memang film komedi. Dan asalnya yang dari Inggris serta genrenya membuat saya langsung membandingkannya dengan Shaun of the Dead. Kalau dilihat sekilasa saja, kita memang bsia mengira bahwa film ini hanya membonceng popularitas Shaun of the Dead. Tapi persamaan itu keliru.
If in Shaun of the Dead the zombie is the message, in this movie the zombie is the messenger.
Omong-omong, saya harus bilang kalau ini bukan film anti-perempuan. Ini juga bukan film maskulin atau pro-pria. Buat saya ini adalah film-yang-ditulis-dengan-ide-maskulisme-di-kepala-walau-bukan-berarti-maskulin-tetapi-lebih-ke-parodi-maskulisme-kontra-feminisme-yang-condong-ke-maskulinnya-karena-kemungkinan-ditulis-pria.
Kualitas filmnya sendiri tidak terlalu buruk. Film ini bergerak dengan alur cepat. Ditambah lagi beberapa bagian ditulis dengan sangat pintar, tetapi banyak juga yang lemah dan menghilangkan mood. Humor yang ada di film ini tidak umum bagi penonton Indonesia, bisa jadi kebanyakan bagian malah akan terasa garing. Idenya bagus, tapi penulisan skenario masih bisa diperbaiki lagi.
Kalau mau mencari filmus zombinus lucu, saya masih menyarankan Shaun atau Zombieland. Kalau mau mencari filmus maskulinus yang ada zombinusnya, ini pilihan yang baik. Tapi jangan terlalu berharap…
P.S: Di UrbanDictionary.com ada arti kata doghouse: “Where you are, figuratively, when you’re on bad terms with your girlfriend or wife.”
jangan menulis kalau kamu bisa hidup tanpa menulis
December 1, 2009
Itu kata Rainer Maria Rilke, pujangga Jerman yang surat-suratnya sedang saya baca sekarang.
Dan, untuk kamu, pembaca, saya akan mengutip berpanjang-panjang satu bagian yang saya baca berulang-ulang. Berulang-ulang.
Find out the reason that commands you to write; see whether it has spread its roots into the very depths of your heart; confess to yourself whether you would have to die if you were forbidden to write. This most of all: ask yourself in the most silent hour of your night: must I write? Dig into yourself for a deep answer. And if this answer rings out in assent, if you meet this solemn question with a strong, simple “I must”, then build your life in accordance with this necessity; your whole life, even into its humblest and most indifferent hour, must become a sign and witness to this impulse.
Jawaban saya untuk dia: saya bisa hidup tanpa menulis. Hidup yang kering dan kaku, dengan imajinasi terlindas rata oleh setrika panas maksimal. Tapi saya bisa hidup.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa saya lebih hidup saat menulis. Hidup saat menulis ini berat. Karena saya tahu kalau kamu, pembaca, sedang berusaha membunuh saya di tulisan ini. Tapi saya akan hidup.
Saya tetap bisa hidup saat tangan saya tidak lagi mengetik. Saya tetap akan hidup saat tulisan ini selesai.
Terima kasih.
Senang untuk teman
November 10, 2009
Alhamdulillah. Segala puji bagi Tuhan.
Saya sedang senang sekarang. Tapi senang ini tidak ada hubungannya dengan saya. Saya sedang senang untuk teman-teman saya. Saya senang untuk mereka karena mereka sedang mulai memasuki mimpi mereka. Mereka telah lulus tes Calon Pegawai Negeris Sipil untuk Departemen Luar Negeri. Sebentar lagi mereka akan mulai masuk ke Pejambon No. 6 dan memulai karir sebagai diplomat.
He he.
Saya lebih senang lagi saat tahu kalau teman-teman itu, banyak yang jadi teman main saya. Teman tertawa. Teman bekerja. Teman berdebat. Teman yang tak jelas kenapa kita bisa berteman. Cerita saya dan mereka bisa lucu kalau dituliskan. Tapi tangan saya bisa kram kalau memaksa menulisnya.
:-)
Selamat untuk mas Yudi, uda Reski, kang Alfan, kang Makki, kang Raksa, neng Ade, kang Fajar, teh Ganis, kang Ivan, dan kang Ilmi. Semoga ini menjadi awal yang baik ya, untuk kamu sekalian.
Dan khusus untuk Adi Bramasto (yang juga berhasil melewati seleksi CPNS)
*ngakak guling guling sampai jaaaaaaaaaaauuuuuuuh*
What I wrote for Politics 101
November 7, 2009
Di malam sesunyi ini, aku sendiri, sambil mengetik bahan bantuan untuk mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Politik. Not that i’m a kind soul or anything… I’m just finding–yet another–legitimate escape from thesis.
Supaya blog ini ada tulisan baru, bergembiralah karena ini, ada dua bagian saya cuplik.
Pertama, yang ada di bawah entri Alexis de Tocqueville
“Democracy in America” itu bukan buku tentang satu konsep, melainkan buku perjalanan. Dalam buku ini Tocqueville mencatatkan berjebah refleksi tentang Amerika, hasil perjalanan dia keliling Amerika pada 1831.
Saya catatkan ulang beberapa kutipan yang menarik:
“”…I know of no other country where love of money has such a grip on men’s hearts or where stronger scorn is expressed for the theory of permanent equality of property.” (http://www.tocqueville.org/chap5.htm)
“If there ever are great revolutions there, they will be caused by the presence of the blacks upon American soil. That is to say, it will not be the equality of social conditions but rather their inequality which may give rise thereto.” (Ibid)
Dia juga sempat bilang kalau Amerika Serikat mampu… err.. “to exterminate the Indian race… without violating a single great principle of morality in the eyes of the worl.d” (dari buku “Democracy in America” terbitan Everyman’s Library pada 1994. volume 2. halaman 355)
Ha ha
Kedua, beberapa catatan kaki di bawah entri Oliver Cromwell
catatan kaki pertama
a.k.a the guy who, practically, single-handedly threw British monarchy down, created a parliamentary government, defended it, and managed to die of a naural cause… syphilis.
catatan kaki kedua
Ok, I joked about syphilis. But he did die a natural death (no guillotine, public execution, etc.)
dan catatan kaki terakhir
British monarchy was restored after his death. And they hate Cromwell so much that they dug his grave to execute his corpse, and put his head on top of a pole. Some people then evacuate his head and secretly buried him. The story gets better from here, the location remains hidden until this day with only two people knowing the exact location. They’re two chosen professors from Cambridge University’s Sidney Sussex College. The location kept as secret and handed down from generations to generations to, well, protect Cromwell’s head from the royalist. And I’m not joking here.
Kalau ada anak HI Unpad yang lagi mengambil DDIP dan mampir ke blog ini, saran saya kepada kamu adalah jangan terlalu berharap. Saya belum yakin saya punya niat untuk menyelesaikan artikel ini. Selain itu…
Stop reading my blog and start studying.




