Dia plagiator, tapi aku suka
February 9, 2010
Selamat malam, teman. Doa saya untuk kamu yang sedang membaca tulisan ini: supaya kamu bisa melewati malam yang baik, tidur yang nyenyak, mimpi yang indah.
Saya sendiri saat ini belum bisa tidur. Saya mau tidur, tapi belum mampu. Di kepala saya ada berita yang sedang terpikirkan, cukup mengusik otak dan memaksa mata tetap terbuka.
Beberapa saat yang lalu, saya dikejutkan oleh berita tentang kemungkinan dicabutnya gelar profesor seorang dosen dari universitas tetangga. Mengejutkan, karena dia mundur di bawah tuduhan telah menyalin tanpa ijin artikel-artikel ilmiah untuk dicetak di media nasional atas namanya. Tindakan itu kita kenal dengan nama plagiat, di dunia akademis itu tindakan haram. Hanya sedikit kurang kejam bila dibandingkan dengan fitnah.
Pada awalnya saya tidak percaya. Make no mistake, I don’t know him and I have no love for him. Saya tidak percaya bukan karena ingin membela orang itu, melainkan karena dia adalah figur yang disegani secara nasional sebagai suara berpengaruh dalam studi Hubungan Internasional. Dan, orang macam itu ternyata plagiator! (saya yakin bahwa dia plagiator sesudah membaca beberapa artikel yang membandingkan tulisannya dengan karya orang lain yang dicurinya)
Saya kecewa. Tapi tulisan ini tidak akan digunakan untuk menghujat dia sebagai pelampiasan kekecewaan saya akan berkurangnya contoh teladan di Indonesia. Apalagi karena adanya kasus plagiarisme di negeri ini, sudah sejak lama saya maklum kalau Indonesia adalah tanah pembajakan (dan saya bersyukur untuk itu, kadang-kadang)
Saya ingin membahas dukungan untuk si mantan profesor. Saat meneliti kasus ini saya menemukan banyak dukungan moral pada si dia pada situs facebook, kebanyakan oleh orang yang mengenalnya secara pribadi atau pernah diajar dalam kelasnya.
“Wow”, pikir saya. I know that he is charming, ’smart’ (when he’s not plagiarizing), and that his teaching is easy on the ear. Kesan yang ditimbulkan olehnya selalu baik. Semua orang yang saya kenal, jika pernah bertemu dengannya sering mengutarakan kekaguman mereka. Wajar kalau banyak orang yang suka padanya, wajar pula jika mahasiswa-mahasiswi menjadikannya pengajar favorit. Dan… mungkin, wajar jika dalam melewati cobaan ini banyak yang mendukungnya.
Ini bisa menjadi kasus yang menyentuh hati, jika saya bukan orang yang dilahirkan kritis (beberapa menyebutnya ’sinis’, btw). Melihat lakon yang ditunjukkan pada aktor, satu korban disokong banyak dukungan, saya malah terpikirkan perbandingan antara orang kaya yang terbukti berbuat kriminal tingkat tinggi–pembunuhan, pencurian besar-besaran, dll–tapi mendapat keringanan hukuman dengan nenek tua yang dituduh mencuri tiga buah kakao tapi dihukum ’sepantasnya’.
He he.
Jika plagiator itu orangnya ketus, mukanya jelek, cara bicaranya kasar, bau… jika plagiator itu sosok yang dengan mudah kita benci… mungkin, yang ada di facebook malah makian, ya.
Yah, setidaknya kasus ini bisa memberi saya pelajaran berharga. Saat ini saya telah membatalkan rencana untuk menerjemahkan tiga artikel ilmiah–dua bahasa Inggris, satu bahasa Eskimo–dan mengrimnya ke koran-koran lokal untuk mengangkat nama, biar cepat dapat kerja.
Saya bukan jenis orang yang mudah mendapat dukungan di facebook, tampaknya.
P.S: saya tidak menyebut nama karena ikut simpatik sama si dosen itu, toh, saya juga pernah nyontek semasa ulangan. Kalau penasaran, coba saja cari di google soal plagiat di koran The Jakarta Post. Kalau ketemu berarti jodoh, kalau nggak berarti kamu beruntung. hidupmu tidak perlu disia-siakan untuk pencarian yang belum jelas juntrungannya. Kamu sudah cukup menyia-nyiakan waktumu dengan membaca tulisan ini sampai selesai :p
Google, thank you for the optimism
January 26, 2010
———–
January 20, 2010
dislike for fake smile and plastic attitude made it hard for me to sugar-coat my word.
ZARDOZ (1974) Filsafat Kehidupan Lewat Sci-Fi
January 11, 2010
Zardoz (1974) adalah film dengan plot sangat rumit. Film ini mengambil tahun 2293 sebagai lokasi. Saat itu manusia tidak hidup bergelimangan McDonald, karena dunia sedang kacau. Bumi diisi oleh manusia yang disebut, Brutals” yang dijajah “Eternals” yang memiliki pasukan khusus, “exterminators“ yang menyembah Zardoz–semacam dewa berbentuk batu yang melayang di udara.
Ajaran utama Zardoz adalah:
The gun is good. The penis is evil. The penis shoots seeds, and makes new life to poison the Earth with a plague of men, as once it was, but the gun shoots death, and purifies the Earth of the filth of brutals. Go forth . . . and kill!
Luar biasa maha-rumit dan dalam sekali filsafat kehidupan serta keberadaan dalam film ini. Betul-betul menyentuh sisi tergelap kejahatan manusia, oh zardoz yang bijak. Zardonz yang pintar dan cendikia, yang menyadari kejahatan terselubung di balik celana dalam pria.
Wajar saja kalau aktor kawakan Sean Connery bersedia bermain di film ini.
How I Survived Skripsi (A Story)
January 3, 2010
“Yup, finished. Saving it now, and ready to turn it in!”, kata saya.
Sekarang sudah pukul 3.35 pagi, suara pria membaca ayat Al-Quran sudah terdengar. Tentu saja saya hanya berasumsi itu ayat Al-Quran. Buat saya yang tidak hapal Al-Quran, saya hanya bisa menduga bahwa bahasa–yang terdengar seperti–Arab itu adalah ayat dan bukan mantera pemanggil Jin Minyak dari Timur Tengah.
Hmm.
Kedengarannnya itu memang ayat Al-Quran, Sebentar lagi saya akan mengambil air untuk wudlu. Uh, lagi-lagi satu hari terlewati tanpa tidur yang baik.
Naskahnya sudah harus diserahkan siang nanti. Berarti… saya masih punya beberapa jam waktu tidur setelah shalat. Masih ada waktu untuk mengejar kesempurnaan, tidak ada salahnya memeriksa ulang naskah ini.
Oke, paragraf pertama enak dibaca. Datanya cukup, tidak terlalu padat. Bahasanya cukup renyah.
Paragraf kedua, kok narasinya terlalu meloncat ya? Lebih baik ditambahkan satu kalimat lagi… ya, kalimat tambahan ini cukup untuk sementara.
Paragraf ketiga…
“Oh, sapi!”, makian itu keluar tanpa sengaja. Karena saya lupa mengubah baris ini:
Amerika Serikat melakukan invasi militer ke Grenada pada 1983, saat itu Ronald Reagan menjabat sebagai Presiden. Invasi ini dilakukan Reagan karena Grenada baru saja melewati kudeta yang mendudukkan pemerintahan militer dengan ideologi komunis.(PWNED!!) Selain itu, pemerintahan tersebut juga memiliki hubungan erat dengan Kuba. (DOBL PWNED!!) Pada masa itu komunis dan Kuba menjadi dua kata khusus dalam kebijakan luar negeri A.S, karena Perang Dingin masih berlangsung. (M-M-M-MONSTER KILL!!)
Sedikit (sekali) tentang Hannah Arendt
December 31, 2009
Pada tahun awal di kampus, saya dikenalkan dengan Hannah Arendt. Sekilas saja, karena nama dia adalah salah satu dari sekian banyak yang harus dihapalkan demi lulus mata kuliah Pengantar Ilmu Politik. Saat itu, kami yang masih cupu diharapkan mampu mengulang nama serta ide orang-orang terkenal saat ujian akhir yang berbentuk lisan. Ide Hannah Arendt yang harus kami hapalkan adalah banality of evil. Artikel ini akan membahas sedikit tentang ide barusan.
Melacak refleksi Arendt tentang evil tidak mungkin dilakukan melalui satu literatur saja. Seorang pembaca yang tertarik seharusnya membaca beberapa karya Arendt selain Eichmann, karena refleksi terhadap evil memang salah satu tema sentral dalam filsafat Arendt.
Tapi, pembaca tetap perlu tempat yang nyaman sebagai pengantar terhadap filsafat Arendt. Dan di catatan ini saya menggunakan Eichmann in Jerusalem serta cerita tentang Otto Adolf Eichmann.
Eichmann, mantan Letnan Kolonel Nazi Jerman, sedang diadili di mahkamah Israel pada 20 Mei 1960. DIa berdiri sebagai terdakwa atas lima belas tuduhan, termasuk kejahatan kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap orang Yahudi. Selama perang Eichmann memang membantu pembantaian Yahudi dalam holocaust, tapi dia tidak pernah membunuh satupun Yahudi secara langsung. Satu-satunya kejahatan yang dia lakukan, menurutnya, adalah membantu terlaksananya pembantaian itu melalui manajemen logistik dan transportasi Nazi. Tugas birokratis yang melancarkan proses pembantaian.
Saat mendengar ada makhluk macam Eichmann, Arendt memutuskan untuk pergi mencatat persidangannya, yang berlanjut kepada sebuah laporan tentang banality of evil. Lucu, ‘banality of evil’ sendiri hanya disebut dua kali dalam Eichmann. Pertama, dalam sub-judul buku itu, dan kedua, dalam bagian menjelang akhir bukunya, sebagai komentar terhadap kata-kata akhir Adolf Eichmann, “After a short while, gentleman, we shall all meet again. Such is the fate of all men. Long live Germany, long live Argentina, long live Austria. I shall never forget them.” Komentar Arendt, persisnya, adalah:
“In the face of death, he had found the cliche´ used in funeral oratory. Under the gallows, his memory played him the last trick; he was elated and he forgot that this was his own funeral.
It was though in those last minutes he was summing up the lesson that this long course in human wickedness had taught us—the lesson of the fearsome, word-and-thought-defying banality of evil.” (Eichmann in Jerusalem, hal. 252)
Evil is banal. Eichmann melakukan apa yang dia lakukan bukan karena dia tidak memiliki moral, tapi karena dia berada dalam rezim dimana moral tidak dapat digunakan. Eichman sendiri diamati oleh Arendt sebagai orang yang “terrifyingly normal”. Orang biasa yang, tanpa status mantan Nazi, tidak akan tampak jahat.
Evil is banal, karena dia dapat terjadi tanpa harus dilandasi tujuan jahat. Arendt tetap berpendapat bahwa Eichmann bersalah dan layak digantung untuk perbuatannya. Tapi kesimpulan itu didapat setelah melepaskan Eichmann dari status atau sifat evil. Pandangan Arendt inilah yang memicu kontroversi seputar banality of evil, karena pandangan umum menasbihkan tujuan jahat sebagai akar kejahatan. Setan menjadi jahat karena ia memiliki niat ‘jahat’. Dan Eichmann adalah setan bagi Yahudi, seharusnya dan sewajarnya dia pun berniat jahat. Arendt bermasalah karena dia melakukan analisis di luar kewajaran itu.
Sebelum Eichmann, Arendt terlebih dulu menulis The Origins of Totalitarianism. Di prakata buku itu dia menyatakan,
“And if it is true that in the final stages of totalitarianisman absolute evil appears (absolute because it can no longer bededuced from humanly comprehensible motives), it is also true that without it we might never have known the truly radical nature of Evil.”
Ya, pandangan mengenai banality of evil ternyata didahului oleh absolute dan radical evil.
Arendt sampai pada radical evil saat dia sedang menyusun faktor-faktor politik dan sosial yang membentuk totalitarianisme: imperialisme, rasisme, anti-Semitisme, terpecahnya suatu negara-bangsa, dan persekutuan antara kapital dengan “mob”. (Peter Baehr, “Introduction” dalam “The Portable Hannah Arendt”. Hal. xvi.) Faktor-faktor tersebut melahirkan dominasi total sebuah rezim yang dilanjutkan dengan, “the murder of the moral person… the annihilation of juridical person, the destruction of individuality.”
Kejahatan radikal ini melahirkan manusia yang “superfluous.” Manusia yang manusia dan bukan manusia dalam waktu bersamaan. Hal ini dijelaskan Arendt dalam sebuah surat kepada Karl Jasper, yang juga filsuf,
“Evil has proved to be more radical than expected. In objective terms, modern crimes are not provided for in the Ten Commandments. Or: the Western Tradition is suffering from the preconception that the most evil things human beings can do arise from the vice of selfishness. Yet we know that the greatest evils or radical evil has nothing to do anymore with such humanly understandable, sinful motives. What radical evil really is I don’t know, but it seems to me it somehow has to do with the following phenomenon: making human beings as human beings superfluous (not using them as means to an end, which leaves their essence as humans untouched and impinges only on their human dignity; rather, making them superfluous as human beings). This happens as soon as all unpredictability—which, in human beings, is the equivalent of spontaneity—is eliminated. And all this in turn arises from—or, better goes along with—the delusion of the omnipotence (not simply with the lust for power) of an individual man. If an individual man qua man were omnipotent, then there is in fact no reason why men in the plural should exist at all.”[1]
Jadi, si evil ini radical atau banal? Arendt sempat menulis jawaban pertanyaan itu dalam sebuah surat kepada Gershom Scholem sesudah penerbitan Eichmann:
“Indeed my opinion now is that evil is never “radical”, that it is only extreme,and that it possesses neither depth nor any demonic dimension. It can overgrow and lay waste the whole world precisely because it spreads like a fungus over the surface. It is ‘thought-defying,’ as I said, because thought tries to reach some depth, to go to the roots, and the moment it concerns itself with evil, it is frustrated because there is nothing.”[2]
[TAMAT]
[1] penekanan saya tambahkan supaya kutipan panjang ini makin keren
[2] Arendt menyebut roots, karena radical berasal dari kata radix. Bahasa Latin untuk akar. Oh ya, penekanan saya tambahkan sendiri juga di bagian ini.



