Senang untuk teman
November 10, 2009
Alhamdulillah. Segala puji bagi Tuhan.
Saya sedang senang sekarang. Tapi senang ini tidak ada hubungannya dengan saya. Saya sedang senang untuk teman-teman saya. Saya senang untuk mereka karena mereka sedang mulai memasuki mimpi mereka. Mereka telah lulus tes Calon Pegawai Negeris Sipil untuk Departemen Luar Negeri. Sebentar lagi mereka akan mulai masuk ke Pejambon No. 6 dan memulai karir sebagai diplomat.
He he.
Saya lebih senang lagi saat tahu kalau teman-teman itu, banyak yang jadi teman main saya. Teman tertawa. Teman bekerja. Teman berdebat. Teman yang tak jelas kenapa kita bisa berteman. Cerita saya dan mereka bisa lucu kalau dituliskan. Tapi tangan saya bisa kram kalau memaksa menulisnya.
:-)
Selamat untuk mas Yudi, uda Reski, kang Alfan, kang Makki, kang Raksa, neng Ade, kang Fajar, teh Ganis, kang Ivan, dan kang Ilmi. Semoga ini menjadi awal yang baik ya, untuk kamu sekalian.
Dan khusus untuk Adi Bramasto (yang juga berhasil melewati seleksi CPNS)
*ngakak guling guling sampai jaaaaaaaaaaauuuuuuuh*
What I wrote for Politics 101
November 7, 2009
Di malam sesunyi ini, aku sendiri, sambil mengetik bahan bantuan untuk mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Politik. Not that i’m a kind soul or anything… I’m just finding–yet another–legitimate escape from thesis.
Supaya blog ini ada tulisan baru, bergembiralah karena ini, ada dua bagian saya cuplik.
Pertama, yang ada di bawah entri Alexis de Tocqueville
“Democracy in America” itu bukan buku tentang satu konsep, melainkan buku perjalanan. Dalam buku ini Tocqueville mencatatkan berjebah refleksi tentang Amerika, hasil perjalanan dia keliling Amerika pada 1831.
Saya catatkan ulang beberapa kutipan yang menarik:
“”…I know of no other country where love of money has such a grip on men’s hearts or where stronger scorn is expressed for the theory of permanent equality of property.” (http://www.tocqueville.org/chap5.htm)
“If there ever are great revolutions there, they will be caused by the presence of the blacks upon American soil. That is to say, it will not be the equality of social conditions but rather their inequality which may give rise thereto.” (Ibid)
Dia juga sempat bilang kalau Amerika Serikat mampu… err.. “to exterminate the Indian race… without violating a single great principle of morality in the eyes of the worl.d” (dari buku “Democracy in America” terbitan Everyman’s Library pada 1994. volume 2. halaman 355)
Ha ha
Kedua, beberapa catatan kaki di bawah entri Oliver Cromwell
catatan kaki pertama
a.k.a the guy who, practically, single-handedly threw British monarchy down, created a parliamentary government, defended it, and managed to die of a naural cause… syphilis.
catatan kaki kedua
Ok, I joked about syphilis. But he did die a natural death (no guillotine, public execution, etc.)
dan catatan kaki terakhir
British monarchy was restored after his death. And they hate Cromwell so much that they dug his grave to execute his corpse, and put his head on top of a pole. Some people then evacuate his head and secretly buried him. The story gets better from here, the location remains hidden until this day with only two people knowing the exact location. They’re two chosen professors from Cambridge University’s Sidney Sussex College. The location kept as secret and handed down from generations to generations to, well, protect Cromwell’s head from the royalist. And I’m not joking here.
Kalau ada anak HI Unpad yang lagi mengambil DDIP dan mampir ke blog ini, saran saya kepada kamu adalah jangan terlalu berharap. Saya belum yakin saya punya niat untuk menyelesaikan artikel ini. Selain itu…
Stop reading my blog and start studying.
[...tapi sengaja diumumkan terlambat. Takut ketahuan khalayak ramai soalnya.]
All changed, changed utterly
and Adiwena was born
MENULIS
October 23, 2009
Saya akan menulis. Menaruh kata-kata yang tumpah dari otak dalam satu wadah, supaya tekanan darah bisa naik dan saya berhenti muntah. Biarkan saya menulis di malam ini.
Tanpa henti, saya akan menulis. Kilatan cahaya akan meloncat dalam layar, membentuk pelangi dalam paragraf. Gatotkaca akan bertarung melawan Darth Vader. Dan saya akan menulis di tengah perang antar bintang. Melaporkannya dalam kejelasan fotografis hingga ledakan besar akan terbaca secara visual. Saya telah mengambil gambar lewat huruf. Keabadian adalah tugas untuk generasi selanjutnya. Mereka akan mengartikannya tanpa tahu kalau saya sedang tertawa.
Terus dan terus. Saya akan menulis! Sampah dan surga mendapatkan porsi yang sama di dalam narasi yang kurang tertata. Tidak ada pesan yang ingin disampaikan di sini, hanya tulisan. Tapi kita akan membacanya karena ini adalah ganja bagi manusia. Keingintahuan adalah candu. Gosip adalah bumbu kehidupan. [Hei, Krisdayanti dan Anang barusan cerai!]
Ini adalah sebuah perlombaan. Lucky Luke berhasil menang, dia pecundangi bayangan.
Never mind the asteroid,
the hot throat of the volcano,
a sun that daily drops into the void.
Comb the drying riverbed for drink.
Strut your bird-hipped body.
Practice a lizard grin. Don’t think.
Stretch out your tail. Walk, as you must,
in a slow deliberate gait.
Don’t look back, Dinosaur. Dust is dust.
You’ll leave your bones, your fossil feet
and armored eye-lids.
Put your chin to the wind. Eat what you eat.
[Jessica Goodheart - Advice for a Stegosaurus]
Sesudah menulis, saya mungkin akan membantu Gatotkaca. Kasihan dia. Vader sedang dibantu Karna.
RATM – The Battle of Los Angeles
October 22, 2009
Garis tebal ditarik oleh pylox hitam di atas tembok kusam. Pertama dari bawah, lalu ke atas sambil membentuk garis-garis yang tidak lurus, dan ke bawah lagi. Tinta yang meluruh–tampaknya garisnya terlalu tebal–membentuk siluet seseorang yang mengacungkan tangan kanan ke atas. Di tengah-tengah siluet yang awalnya dibiarkan kosong kemudian diisi oleh tulisan “The Battle of Los Angeles”. Garis tulisannya tebal. Warnanya hitam. Grafiti ini menjadi sampul depan album seminal band Rage Against The Machine (RATM). Nama mereka ditambahkan dengan rapi lewat komputer di atas siluet. Times New Roman.
Sebenarnya saya malas menulis tentang album ini. Saya bukan penggemar berat RATM. Album ini juga sudah terlalu terkenal tanpa harus diperkenalkan lagi. Siapapun yang melewati tahun 1999, saat album ini diluncurkan, dalam kemudaan pasti pernah mendengar album ini. Apalagi bocah seperti saya, kalau tidak pernah mendengarkan lagu jedang jedung grompyang seperti ini kok rasanya kurang… eh, gaul. [Akhirnya kata itu muncul juga di blog ini. Maafkan saya pembaca yang budiman, saya harap saya tidak berdosa]
Album ini muncul di radio pertama kali waktu saya SD. Kakak saya, waktu itu SMP, membeli album ini dan memutarnya di dalam mobil sepulang sekolah. Itu kali pertama saya mendengar album ini, dan lagu-lagunya terasa asing di telinga saya yang lebih akrab dengan Backstreet Boys. Oh, betapa masa-masa itu adalah jaman kegelapan.
Tapi, tidak urung saya tertarik dengan album itu. Kesan liarnya terasa sekali. Sayang waktu saya mau mendengarkannya lagi saya tidak berhasil menemukan kasetnya. Waktu saya tanya ke si kakak, ternyata sudah dia tukarkan dengan kaset lain milik temannya. Kalau tidak salah kaset The Beatles, tapi saya lupa album apa.
Apa boleh buat, sisa masa SD saya terpaksa diisi oleh boysband lagi. Oh, betapa masa-masa itu adalah jaman kegelapan. Oh, betapa masa-masa itu adalah jaman kegelapan.
Well, cerita panjang disingkat, beberapa bulan yang lalu saya nemu The Battle Of Los Angeles di Aquarius, Dago. Awalnya saya ke sana untuk ngambil Exodus-nya Bob Marley. Tapi, pas dipikir-pikir, di rumah sudah ada Legend dan Catch a Fire, dua-duanya album bagus dari Om Marley. Sedangkan RATM belum ada.
Karena dana membatasi kemampuan membeli CD, akhirnya saya hanya mengambil RATM saja. Hitung-hitung mencicil nostalgia sebelum tua. [?]
Keluar dari Aquarius dalam Karimun hitam eksotik, saya langsung memasukkan CD ke dalam pemutarnya. Saya nyaris menangis mendengarkan empat lagu pertama. Bulu kuduk saya benar-benar merinding.
Album ini album yang politis, bung! Maksud saya, album ini album yang politis! Lagu yang dimasukkan dalam album ini seakan-akan berteriak “Viva la Revolucion!” Gilanya, saya percaya bahwa revolusi benar-benar hadir dalam album ini.
Oke, lirik yang dinyanyikan–ataukah, ‘diteriakkan’–oleh Zack de la Rocha memang kasar. Kalau bukannya ceroboh dan terpatah-patah. Tapi lirik itu dilengkapi oleh ensemble lainnya. Tom Morello, Brad Wilk, dan Tom Bob melengkapi de la Rocha dengan cara yang tidak bisa saya mengerti. Was it the groove? Was it the almighty guitar playing of Master Morello? Saya nyerah. Saya nggak tahu jawabannya. Tapi gabungannya menjadikan album ini sebagai masterpiece Heavy-Rap-Metal.
Sepanjang jalan saya ikut teriak di bagian refrain yang saya hapal. Saya, walaupun sesaat, sempat meyakini revolusi. Setiap kata yang saya teriakkan adalah pembebasan. Setiap sentakan kepala adalah kebebasan. Emansipasi datang di dalam otak, saat sel-sel memunculkan gambar ribuan pemuda-pemudi yang meloncat mengikuti lagu. Mereka mengepalkan tangan kanan dan menghantamkannya ke atas, seakan ingin meruntuhkan langit. Meneriakkan satu mantera dalam satu suara:
ALL HELL CAN’T STOP US NOW!!!!!!!!!!*
P.S: Untung mobil lo ga tabrakan, wir… asik banget kayaknya.
*penggalan lirik dari lagu “Guerilla Radio“
—————————————————————————————–
tentang perasaan berhasil
October 3, 2009
Saya adalah orang sombong. Kesombongan adalah penyakit hati yang saya akui telah saya miliki selama bertahun-tahun lamanya. Dan, berdasarkan pengalaman, tampaknya teman-teman saya juga menyadari dan tidak keberatan untuk menunjukkan kesadaran mereka. [Thanks guys, thats very kind of you!]
Jujur , tanpa kesombongan saya yakin saya akan menjadi orang termanis dan terbaik yang pernah kamu temui selama beberapa dekade. Tentu saja ini sepenuhnya berada dalam konteks dimana hubungan antara manusia dengan Tuhan mereka menjadi hal yang misterius, sehingga banyaknya dosa saya tidak membuat kamu jijik berada di sekitar saya. Atau jika kamu menganggap bahwa kecenderungan untuk lari saat melihat godzilla sebagai suatu hal yang seksi. Tanpa hal-hal barusan, saya harus menekankan kembali poin ini, saya akan menjadi orang terbaik dan termanis yang pernah kamu temui. Terlebih jika kamu menyadari bahwa saya ini memiliki keunggulan dalam banyak bidang… saat konteks hubungan manusia dan Tuhan tidak diperhitungkan.
Saya berharap bahwa melalui kalimat barusan saya berhasil menunjukkan betapa sombongnya saya. Sehingga saat ini kamu mulai berpikir, kenapa ada orang yang mau menulis tentang kesombongannya sendiri?
Nah…
Pertanyaan bagus.
Eh…
Ummm…
Benar-benar pertanyaan yang bagus.
Benar-benar bagus.
Yah..
Itu adalah pertanyaan bagus.
Bagus dalam artian pertanyaan tersebut berhasil menjebak saya dalam keadaan lengah dan tanpa jawaban. Namun kalau jawaban benar-benar dibutuhkan… katakanlah saya mencoba menghadirkan sebuah paradoks. Kalau kamu benar-benar butuh jawaban detail… saya mencoba menulis tentang paradoks mengenai perasaan berhasil. [Dora-esque sense of achievment.. You know, the one when she danced and sing, "berhasil, berhasil, berhasil"]
Perasaan berhasil, sebagaimana saya memahaminya, datang saat kita ‘berhasil’ mendapatkan atau mencapai sesuatu yang membuat kita bangga. Misalnya memenangi lomba karya tulis, lomba debat, sexiest man on university, lomba karaoke, atau keunggulan fisik yang ditandai oleh derajat maskulinitas atau feminitas tertentu.
Well, i’ve achieved some of those. Saya memang bukan pria terseksi di universitas. Saya juga tidak pernah menang lomba karaoke. Dan, yah, saya tidak yakin pernah mengungguli spesies lain dalam kerangka penilaian yang didasarkan pada derajat maskulinitas tertentu. Atau, derajat feminitas tertentu.
Tapi saya telah mencetak beberapa prestasi akademis yang dengan senang hati akan saya tulis dalam CV saya. Plus, beberapa pencapaian organisasi yang seharusnya membuat saya bangga. Masalahnya, sapi, saya tidak bangga.
Ini tidak ada hubungannya dengan kerendahan hati. Karena, seperti seharusnya telah kamu ketahui, saya sombong. Orang sombong seperti saya seharusnya mencetak semua pencapaian saya di selusin kaos oblong. Orang sombong seperti saya akan memakai kaos itu kemana-kemana. Tentu saja, saya harus menginformasi pembaca yang budiman sekalian bahwa dua kalimat barusan hanyalah metafora. Karena orang sombong berbeda dengan orang gila, dan hnaya orang gila yang menjadikan badannya CV berjalan. [Itu seperti mengatakan, "I'm for hire".... "or for rent"]
Setelah saya berusaha menganalisis situasi ini, saya menemukan tiga hipotesis sebagai penyebab paradoks barusan. Pertama, saya mulai sembuh dari kesombongan sehingga perasaan berhasil tidak terlalu penting lagi. Saya yang sudah sembuh akan mengutamakan proses dan meyakini bahwa semuanya adalah balasan dari Tuhan atas kerja keras saya.
Sayangnya, kalau saya sudah sembuh artikel ini tidak akan ada. Karena saya tidak lagi perduli tentang kenapa saya tidak merasa berhasil. Sehingga kalau ini benar kamu tengah mengalami delusi dan membaca artikel yang sebenarnya TIDAK ADA. Saya sudah tidak sombong, dan kamu sudah gila.
Kesimpulan kedua, saya sudah mengalami titik ekstremitas kesombongan dimana pencapaian barusan hanyalah hal remeh dalam semesta keberhasilan saya. Dengan kata lain, saya terlalu baik bagi pencapaian saya.
Sayangnya, hal ini juga tidak mungkin. Kalau memang saya sudah terlalu sombong, saya tidak akan repot-repot menulis pencapaian saya dalam sebuah CV. Saya yang mahasombong akan berkeyakinan bahwa saya bisa mencapai semuanya karena saya, dan keberadaan saya yang luar biasa saja sudah cukup untuk membuat saya mendapatkan, katakanlah, kerja. Tapi saya masih menulis CV. Terlebih lagi, saaat ini saya meyakini secara positif bahwa Tuhan memegang peranan penting dalam keberhasilan saya.
Hal ini membawa saya kepada kesimpulan ketiga yang, kurang lebih, dapat dikatakan sebagai jalan tengah. Dalam kesimpulan ini saya masih belum sembuh sementara saya tidak juga terlalu sombong. Secara ajaib saya dapat dikatakan bersifat “manusiawi”. Saya menerima bahwa Tuhan berpengaruh besar dalam keberhasilan saya. Namun, saya masih belum merasa bahwa apa yang sudah saya capai pantas untuk dibanggakan. Di satu sisi, ini bisa berarti bahwa saya merasa terlalu hebat untuk membanggakan hal remeh macam itu. Sedangkan di sisi lain, ini bisa berarti saya merasa bahwa membanggakan hal macam ini berarti mendustai keberadaan Tuhan yang telah membantu saya.
Pembaca yang budiman, kalau kamu bingung kamu harus tahu bahwa saya juga bingung. Saya sudah menatap monitor tanpa melakukan apapun selama sepuluh menit. Untungnya, di tengah kebingungan saya, saya berhasil menyadari satu pertanyaan penting yang seharusnya saya tulis dari tadi.
“Memangnya, kenapa saya harus merasa bangga?”
atau
“Kenapa merasa bangga begitu penting?”



