IR constructivism, however, has older and deeper roots. Karl Deutsch et. al (1957) and Ernst Haas (1958) anticipated modern constructivism. In the 1950s Deutsch promoted a research programme on security communities, which dealt with peaceful transnational collective identities … His sociological approach, …, had an indelible influence on later developments in constructivism. For example, Hayward Alker (1996) who studied with Deutsch, became a leading metodologist working within the constructivist tradition. And Peter Katzensterin (1996), who also was a student of Deutsch’s edited a trailblazing book on culture and national security. Many of its chapters were written by Katzenstein students, who also become leading and widely published constructivists, including Audie Klotz (1995), Richard Price (1995), Christian Reus-Smit (1999), and Nina Tamenwald (1999). Also in this book, Iain Johnston (1995, 1996) and Elizabeth Kier (1996, 1997) introduced a distinctive perspective on strategic culture. More recently, Adler and Barnett (1998) put a constructivist spin on Deutsch’s security community concept.
masih ada lagi:
Although Raymond Duvall did not study with Deutsch, he collaborated with Bruce Russet, who did (Russet and DUvall, 1976). Duvall bcame the mentor of, among others, Wendt (1999), Michael Barnett (1998), Roxanne Doty (1996), and Jutta Weldes (1999). In a seminal 1987 article, Wendt brought Gidden’s (1979, 1984) structuration theory and scientific realism to the attention of IR scholars, David Dussler (1989) followed suit shortly thereafter.
Huff…
Wendt then wrote a series of very important articles (1992b, 1994) and a book (1999); these established him as one of the leading constructivist scholars. I am not saying that Duvall and Wendt owe their constructivist perspective from Deutsch.
Got it, u were trying to tell us the importance of friendship in studying IR right? With this one too:
It is also noteworthy that in early 1960s Onuf, one of the most influential early constructivists studied with Deutsch at Yale. According to Onuf, Deutsch ‘got him thinking’ about constitutive and regulative legal action (personal communcication). Onuf’s 1989 book, where he first referred to the interpretive turn in IR as ‘constructivism’ , along with Kratochwil’s 1989 book on rules, norms and decisions, become a beacon for modernist linguistic and rule-oriented constructivist research.
And, Kratochwil?
…studied with Onuf at Georgetown and they afterwards maintained a dialogue that lasted fifteen years
Awwwwwwww!!!!! Constructivists friendship truly is a beautiful thing. I wonder how they decide who’d become agent or structure at dinner..
Sumber: Emanuel Adler (2002) “Chapter 5: Constructivism and International Relations” dalam Carlsnaes et. al. (2002). “The Handbook of International Relations” (London: Sage Pub.) Halaman 95-118
Catatan: Jangan harap saya mau menaruh daftar buku dan artikel yang disebut si penulis.
Tidak ada, Marimar. Tidak ada!!!!!!

sumber: koleksi pribadi
After a random blogwalking i ran into xkcd.com, which runs a steady stream of sarcastic webcomic. [the site mentions that, "this comic occasionally contains strong language (which may be unsuitable for children), unusual humor (which may be unsuitable for adults), and advanced mathematics (which may be unsuitable for liberal-arts majors)."] It’s like Jimi Hendrix of sarcastic comic strips. [Dilbert is The Beatles, and i am the ultimate nerd... listening to rocks and reading comics. Damn]
I found this awfully sweet strip there
and another, much the same, strip there:
I think sending a postcard of these to your loved one is better than diamond. This skecth might not last forever, but it certainly is funnier.
Weird thing is, i ran into this sketch while i was wondering about what i could do about the up and coming presidential election. I did my share for the previous legislative election. I helped organize a group of friends campaigning for a better and smarter votter turnouts. I just finished the administration things left behind by that event and now am writing the LPJ. [i had a fulfilling experience visiting SMA 1, 3, 5, 12, and 22... hope that those group of friends i helped organize share the enthusiasm.]
I want to do something again for this presidential election. Something simple and not as energy consuming. Thanks to xkcd, i’ve an idea. Something good, i think. I just have to start gathering accomplices now.
Or start my old idea on running a new religious sect, me as the ultimate leader. That way i dont have to worry about human resources anymore.
Perhatian!!!!
Isi artikel ini sangat-sangat gelap, sangat-sangat rasis dan sangat sangat mungkin menyinggung orang-orang yang memiliki kaitan dengan kata-kata berikut: “CIA, Israel, konspirasi, teroris, Malaysia.” Artinya, kalau kamu agen CIA atau Mossad, orang Malaysia, atau teroris aktif… kamu tidak disarankan membaca artikel ini.
Proceed at your own risk.
=============
Kemarin saya ke Gramedia. Iseng-iseng saja menghabiskan waktu luang yang terlalu banyak saya miliki karena manajemen waktu yang buruk. Setelah beberapa saat melahap komik-komik yang bungkus plastiknya telah dibuka oleh orang-orang baik, saya pindah ke bagian politik. Bukan mau sok serius atau peduli sama negara… Kebetulan saja bagian ini dekat dengan bagian majalah.
Dan di salah satu lemari saya melihatnya, satu lemari penuh! Berbarislah itu buku-buku bertema konspirasi. Di sana, nama-nama seperti CIA, Zionis, Israel, Amerika, CIA, Zionis, Israel, Amerika, dan.. err… CIA bertumpuk dalam huruf dengan desain membosankan. Sebelum saya sempat berpikir tentang betapa semua penulis itu pasti berteman satu sama lain, satu pikiran lain muncul.
‘Ini menyedihkan’
Betapa tidak, hai anak Indonesia, semuanya adalah konspirasi orang asing! Bahkan tidak jarang konspirasi itu, menurut empunya si buku, ada untuk menggusur kepentingan nasional Indonesia. Yah, tentu saja saya tidak yakin konspirasi macam apa dan kepentingan nasional yang bagaimana, karena saya tidak akan pernah sama sekali selama-lamanya membeli buku-buku barusan. Walau saya tidak tahu banyak tentang isi buku-buku itu ini tetap saja menyedihkan. Ini harus menyedihkan. Harus. Titik.
‘Ini menyedihkan’ karena tidak ada satu pun buku yang menulis tentang konspirasi yang dilakukan Indonesia ke luar negeri. Sekali-kalinya ada buku tentang konspirasi dalam negeri, buku itu bercerita tentang konspirasi yang dilakukan anak bangsa untuk menjatuhkan sesama orang Indonesia. Ayolah! Saya tidak yakin kalau kita, orang Indonesia, sebodoh itu hingga tidak dapat melakukan konspirasi kita sendiri. Bukan apa-apa bung, nona, dan nyonya yang baik. Ini masalah harga diri.
Karena itu, demi bangsa dan negara, saya akan menyusun rencana konspirasi saya sendiri. Supaya orang luar tahu apa yang bisa dilakukan oleh seorang Indonesia di kancah konspirasi dunia. Pertama-tama, saya cari dulu target konspirasi ini. Target ini haruslah pihak yang sedang bermasalah dengan kebanyakan orang Indonesia. Supaya kalau konspirasi ini ketahuan, saya akan dianggap pahlawan. Karena itu saya taruh dua nama dalam rencana besar konspirasi saya, Israel dan Amerika Serikat. Oke, mungkin bukan daftar yang paling kreatif… tapi kalau rencana saya berhasil saya bisa dianggap pahlawan oleh kebanyakan orang. Atau kalau tidak, saya tetap bisa pergi ke kamp pelatihan teroris dan… yah, di sana saya pasti dianggap pahlawan.
Tapi, setelah berpikir lama, saya gagal menemukan rencana yang dapat berhasil. Saya harus menemukan target konspirasi lain. Dan, tiba-tiba saja saya teringat negeri tetangga: Malaysia! Kita bisa berkonspirasi dengan mulus kalau terhadap Malaysia. Bukan hanya rencana saya bisa jalan, banyak juga orang Indonesia yang bisa dipanas-panasi supaya membenci Malaysia. Wah, maknyus ini.
Rencana konspirasi besar saya terhadap Malaysia begini… seperti telah kita ketahui, Indonesia adalah penyedia tenaga kerja dalam jumlah besar bagi Malaysia. Kebanyakan menjadi asisten rumah tangga. Saya tahu apa yang kamu pikirkan, ketahuilah saya tidak akan menjadikan mereka mata-mata, itu membosankan dan terlalu sederhana. Yang akan saya saya lakukan adalah membuat robot hipnotis dalam skala besar dan menyamarkan mereka seperti manusia. Kemudian, saya akan mendaftarkan mereka ke Biro Tenaga Kerja bersertifikat supaya mereka bisa dikirim ke Malaysia dan menjadi asisten rumah tangga. Di sana, mereka akan menghipnotis anak-anak Malaysia yang dipercayakan pada mereka oleh majikan Malaysia yang tidak tahu apa-apa. Bayangkan, sejak kecil anak-anak Malaysia itu sudah diharuskan untuk menuruti perintah Pemimpin Besar Revolusi Indonesia… apa lagi saat dewasa. Malaysia akan menjadi negara boneka Indonesia.
Rencana yang luar biasa. Sayangnya, rencana ini baru ‘nyaris’ sempurna karena masih ada satu kekurangan. Indonesia belum mampu membuat robot hipnotis. Seingat saya, sudah lama sekali sejak Indonesia menemukan senjata hebat itu… kalau tidak salah namanya Keris Mpu Gandring.
Maaf, saya bohong. Di Palestina belum ada kedamaian, mungkin tidak akan ada hingga beberapa dekade lagi.
Di sini diberitakan kalau pemimpin Hamas, Khaled Meshal, menginginkan
perjanjian damai yang dibangun di atas dua hal. Pertama, negara Palestina yang berdiri di atas wilayah yang diduduki Israel sesudah perang 1967. Kedua, Israel harus mengizinkan pengungsi Palestina kembali ke wilayah Israel, menjadi penduduk Israel. Dua hal ini sejalan dengan solusi yang dimajukan oleh Liga Arab dan Mahmoud Abbas, presiden Otoritas Palestina (Palestine Authority)Wow, dia tidak bicara tentang penghancuran Israel sekarang. Kemajuan?
Kalau saya Yahudi Israel
Nanti dulu, coba kita lihat dari sudut pandang orang Yahudi-Israel. Di bagian ini saya akan menjadi orang Yahudi. [Aduh! Hei, siapa yang ngelempar batu? Jangan mulai intifada di blog ini!! Saya cuma pura-pura!!!] *batuk-batuk*
Pertama, kita lihat dulu pernyataan lanjutan dari Khaled Meshal tentang syarat tambahan yang harus dipenuhi,
On the two-state solution sought by the Americans, he said: “We are with a state on the 1967 borders, based on a long-term truce. This includes East Jerusalem, the dismantling of settlements and the right of return of the Palestinian refugees.” Asked what “long-term” meant, he said 10 years.
Dan,
Regarding recognition of Israel, Mr. Meshal said the Palestinian leader Yasir Arafat and Mr. Abbas had granted such recognition, but to no avail. “Did that recognition lead to an end of the occupation? It’s just a pretext by the United States and Israel to escape dealing with the real issue and to throw the ball into the Arab and Palestinian court,” he said.
Mazeltov! Apa dia pikir Yahudi bego? Kami ini pintar, buktinya dunia nggak akan pernah melihat nuklir kalau nggak ada Yahudi!!
Buat Meshal, catat, kita tidak akan pernah menandatangani kesepakatan macam itu. Bagi saya tidak masalah kalau kami mundur ke batas pra-1967, itu harga yang pantas untuk perdamaian. Tapi perjanjian itu tidak akan memberikan perdamaian.
Meshal, atau Hamas, menginginkan sesuatu yang tidak dapat kami berikan: memberikan mereka kesempatan untuk membantai keluarga kami suatu saat nanti. Sepuluh tahun masa gencatan senjata ditambah keengganan Hamas untuk mengakui Israel berarti negara yang mereka dapatkan akan menjadi dasar pembangunan kekuatan militer mereka. Mereka akan menambah jumlah roket dan granat, dan sepuluh tahun kemudian melemparkannya ke rumah-rumah kami.
Dan kembalinya pengungsi Palestina ke sini membuat saya sangat khawatir. Mereka membenci Yahudi. Kami mengusir mereka. Dan dalam pengasingan mereka membuka internet dan melihat video bahwa kami terus menyiksa anak cucu mereka. [dan mereka menolak untuk melihat video anak cucu mereka melempari rumah kami dengan roket]
Saya bukan pendukung partai-partai kanan yang kontra orang Arab di Israel. Tapi, saya juga bukan pendukung orang-orang Arab itu. Saya sering merasa takut tinggal di samping rumah Muslim Arab, takut tenggorokan sayadigorok oleh mereka.
Panggil saya paranoid. Tapi ini paranoia dengan pembenaran yang baik!
Dengan dua syarat macam itu, saya tidak akan mengakui sebuah negeri Palestina. Karena negara itu akan menjadi predator yang efektif memangsa keluarga saya.
Shalom
Kalau saya, dengan ijin Allah, akan menghabiskan beberapa saat di Belanda… HARUS ADA ALASAN BAGUS. Ada beberapa hal yang hukumnya wajib saya kerjakan, dan ada beberapa rencana yang tampak menggiurkan. [itu dirangkum jadi satu kata: SKRIPSI]
Dan, ayo terima kenyataannya… summer course di Utrecht tidak akan langsung membantu saya memastikan keberadaan alien, menemukan Atlantis, menormalkan iklmi bumi, atau menyelamatkan tapir. Kalau sekedar belajar formal, saya masih mampu menyelusup ke salah satu kelas di kampus.
Oke… oke… Utrecht memang tidak bisa dibandingkan dengan Universitas Padjadjaran. Pendidikan formal di Belanda nggak bisa dibandingkan sama Indonesia [untuk saat ini]. Orang sukses banyak yang belajar di Belanda, itu saya tahu. Belajar di Belanda bisa membantu saya meluaskan kemungkinan cita-cita yang bisa saya raih, saya juga tahu itu.
Lebih lanjut, saya menyimpan harapan untuk suatu saat bisa kerja di organisasi nirlaba internasional. Kalau kesempatan summer course ini bisa membantu saya sampai ke sana, itu saya tahu. Saya akui saja, saya ngiler habis-habisan. Lewat Belanda ada MASA DEPAN.
Tapi, tidakkah itu terdengar membosankan? Buat saya itu terdengar seperti birokrat klasik saja. Selalu mengerjakan yang pasti dan menguntungkan, dari satu jenjang karir ke jenjang karir yang lebih baik. Serba nyaman dan teratur. Kata Max Webber, si sosiolog maut, sine ira et studio… tanpa semangat ataupun amarah.
Kalau saya pergi harus ada yang khusus. Sesuatu yang tidak dapat diberikan negara lain.
Saya mencoba menjelajahi hal ini dalam dua tulisan sebelumnya. Bagian pertama tentang perpusatakaan saya masukkan karena saya harus punya rencana tentang apa yang akan saya coba pelajari. Di sini, Belanda memainkan perannya sebagai gudang pengetahuan khusus untuk seorang Indonesia.
Saya sempat menemukan catatan dari Dandhy Dwi Laksono di Jakartabeat.net. Dia menulis:
Di dinding Kerkhof di kota Banda Aceh, tertulis 2.200 nama serdadu Belanda yang tewas di medan laga. Tapi bila diperhatikan secara seksama, nama-nama itu tak hanya milik orang-orang bermata biru dan berambut jagung, seperti Wiederholt atau Wetering. Tapi juga nama-nama jawa seperti Soewadi, Raden Nembi, Kartopawiso, atau Lalawi.
Itu sejarah nasional, bung. Tapi yang luput dimasukkan dalam kurikulum pelajaran sekolah kita dulu. Tapi saya ingin tahu lebih lengkap tentang bagian-bagian sejarah yang berusaha dihapuskan dari ingatan orang Indonesia. Saya harus tahu… Saya tidak mungkin terbang ke komunitas kosmopolitan-’a global community’-tanpa tahu sejarah bumi yang pernah saya pijak.
Dan kalau tidak ada yang menyediakannya pada saya, seperti biasa, saya akan mencarinya sendiri. Dan di perpustakaan Belanda, saya berharap akan menemukan mata rantai kepada MASA LALU. Karena saya tidak mau menjadi pikun sebelum waktunya.
Lalu, tentang Anne Frank dan buku hariannya. Buat orang yang cuma bisa mengernyit dan menghela nafas tiap mbaca berita dunia, buku itu adalah kubangan inspirasi. Dan Belanda menyimpan inspirasi itu dalam satu bagian dirinya. Anne Frank dibuatkan sebuah museum memorial di sana. Buat saya ini berarti banyak.
Orang Jerman dibuatkan museum di Belanda. Oho, apa ini tempat saya bisa belajar toleransi? Entahlah. Saya harus mulai pembelajaran sebelum tahu itu akan gagal atau sukses. Yang saya tahu adalah: Anne Frank dan inspirasi itu akan saya jadikan penyemangat saya untuk belajar tentang harapan. Di Belanda ada harapan. [coba cek paragraf tujuh di sini]
Harapan itu akan saya dapatkan untuk modal di MASA SEKARANG.
***
Saya tidak mau sembarangan mencari masa depan. Dalam standar apapun, saya adalah seorang dewasa. Saya harus bisa bertanggung jawab untuk diri saya sendiri. Untuk itu apapun yang akan saya rencanakan atau lakukan harus dipikir masak-masak.
Berpijak dari masa lalu, saya akan berusaha memenuhi doa yang disiratkan dalam nama Adiwena. “Orang cerdas”, kata bapak saya. Walau saya ragu saya bisa sedahsyat mereka yang diagungkan oleh sejarah, saya tetap akan berusaha memenuhi doa itu. Kalau bukan untuk membahagiakan orang tua, setidaknya supaya saya tidak dibodoh-bodohi jaman.
Karena itu, apapun yang saya pelajari, saya tidak akan melupakan Indonesia. Berikut kisah-kisah yang melingkupinya, gelap ataupun terang. Ini bukan semangat membabi-buta untuk mendukung bangsa. Ini tekad yang menyala di otak saya untuk menggapai cita-cita yang layak diperjuangkan.
Supaya nanti, saya bisa menoleh ke belakang dengan puas. Sadar bahwa saya telah mengisi satu bagian hidup saya dengan sesuatu yang layak dijalani.
Amin.
P.S: Epilog ini harus ditulis, atau dua bagian sebelumnya akan jadi lebih hambar dari seharusnya. Dan… waktu saya cek di sini, saya lihat ada 539 peserta lomba yang sudah mendaftarkan blognya plus 757 yang sedang melengkapi proses pendaftaran. 1296 orang. Jumlah itu berbanding lurus dengan jumlah harapan.
Juri-juri yang terhormat, “Apa tidak mungkin semua orang jadi pemenang?” [sambil tersenyum lemah]








