Internet in Indonesia
August 9, 2007
Ada surat bertandatangan yang harus saya serahkan hari ini, biasalah… urusan kepanitiaan. Sialnya, orang yang harus menerima surat ini ada di Dipati Ukur (a.k.a D.U), dan saya—seperti biasa—berada di Jatinangor. Saya tidak mungkin pergi ke D.U, ada kuliah yang tidak bisa saya tinggalkan (tanpa beresiko ”C”), selain itu saya sedang mengejar kebijakan penghematan bensin pribadi demi tercapainya energy security!!!!
dan karena harga bensin mahal tentunya…
Surat harus diantarkan, sementara menempuh jarak jauh bukan pilihan. Jadi apa yang saya lakukan ? (tolong jangan bilang, ”pecahkan saja piringnya”. Masa itu sudah lama berlalu.)
a) mengirim fax dengan kemungkinan diterima oleh teman saya berwarna hitam putih;
b) scan suratnya dan mengirimnya vie e-mail;
c) kentut;
d) atau semua jawaban benar (yang berarti saya mengirimnya via fax dan e-mail, lalu kentut. Atau, tentu saja, melakukan semuanya sambil kentut tanpa henti… sebuah kegiatan yang terdengar akan tercium menjijikkan).
Jawaban yang benar: b
Internet. Apakah terlalu berlebihan jika saya katakan bahwa saya tidak dapat hidup dengan internet? Mungkin berlebihan. Tapi sebagai orang yang tertelan oleh modernitas, internet telah menjadi bagian umum dari kehidupan saya. Internet memungkinkan saya untuk menjangkau banyak tempat dan banyak hal lebih cepat, lebih tepat, dan lebih murah. Memasuki tatanan kehidupan sosial, game, politik, dan ekonomi saya, juga banyak orang lain.
Internet telah menjadi revolusi dalam komunikasi bukan hanya karena perubahan yang didatangkannya dalam dunia komunikasi, tetapi juga percepatan yang didatangkannya pada banyak ranah lain (dan omong-omong, ”ya, game adalah ranah khusus.”)
Saya pikir, siapapun yang benar-benar memahami keajaiban internet—saya tidak berlebihan, tanya saja pada pebisnis dot.com yang masih bertahan. Mereka pasti tahu—akan menyadari posisi unik yang didatangkan internet. Benda ini, sedikit banyak, telah membantu lahirnya super-empowered individuals (individu adidaya, meminjam pengistilahan Thomas L. Friedman). Selain itu, internet juga berhasil memaksa korporasi yang ingin selamat di masa globalisasi untuk memasukkan pemahaman internet dalam agendanya, atau mereka akan tertinggal oleh perusahaan lain yang melakukannya dan menjadi lebih efisien karenanya.
Hmm… dan sekarang internet sudah akan memasuki tahapan baru. Tahapan yang memungkinkan peralatan rumah sederhana sekalipun—lemari es ataupun sekedar lemari—untuk terhubung dengan internet.
Sementara di Indonesia, katanya, pengguna internet baru sekitar lima persen (data statistik tahun 2000-an awal).
Apakah berlebihan jika saya berharap pemerintah akan memudahkan akses terhadap internet dan meningkatkan pemahaman atas teknologi informasi dan komunikasi?
Kampus-kampus universitas negeri mungkin sudah dipenuhi oleh hotspot. Akses internet juga sudah makin mudah ditemukan di sekolah-sekolah (terutama di kota besar).
Tapi…
program pengembangan teknologi informasi dalam negeri, IGOS, dihambat. Niatnya untuk mengejar comparative gain, menggantinya dengan program dari Microsoft.
Sementara negara lain mengejar kompetisi di bidang ini, kita membiarkan diri kita tertinggal dalam ketergantungan.
Bijakkah?




August 21, 2007 at 2:12 pm
ya ampuuuun, cuma 5 persen pengguna internet di Indonesia? seriusan? iya sih. Cilegon mungkin bisa jadi contoh. meski katanya jadi kota ketiga yang memiliki pendapatan terbesar ketiga di Indonesia, Pemkot, Pemda belum nyediain hotspot! di Untirta aja kaga ada hotspot! padahal univ yang satu itu sering kerjasama ma MNCs. trus pelabuhan nya juga uda dipake ekspor!!!
Eh iya Wir… masalah energy security, ternyata di Cilegon ada pabrik yang bikin Pembangkit Listrik Tenaga Angin!!!! gue baru tau, temen gue ada yang kerja di sana. tapi yang menyedihkannya, ternyata alat2 pembangkit tersebut diekspor ke banyak negara! bukan kita pake!!! katanya paling sering diekspor ke Amrik!!!! gila! berarti sebenarnya produk Indonesia keren juga dunk yaaa!
August 22, 2007 at 9:55 am
eh gw baru tahu tuh… ada yg bikin di Indonesi
satu lagi alasan buat menolak nuklir