Talking Pakistan… Democracy, and Religion
August 16, 2007
Perayaan 60 tahun kemerdekaan India, salah satunya, diisi dengan analisa seputar hubungannya dengan saudara dekatnya: Pakistan. Sekedar mengingatkan, saat ini Pakistan berada di bawah kepemimpinan totaliter Musharraf, sementara India menjalani demokrasi liberal dan menikmati kejayaan relatif di bidang ekonomi.Hmm…Kalau saya tidak salah, dulu, saat masa pra-kemerdekaan di India pernah muncul kekhawatiran akan adanya penindasan minoritas Muslim di India, salah satu yang mengkhawatirkannya adalah Nehru dan Gandhi. Berdasarkan kekhawatiran itulah Gandhi lalu mengusulkan Perdana Menteri pertama India diduduki oleh seorang Muslim. Sayangnya, pada akhirnya Muslim lalu memisahkan diri dan mendirikan negara sendiri, yaitu Pakistan (dulunya wilayah Pakistan juga termasuk Bangladesh).
Pendirian negara inilah yang, menurut saya setidaknya, memusingkan. Pakistan muncul—atau dimunculkan—tanpa konsep kenegaraan yang jelas, apakah akan didasarkan pada theocracy ataukah democracy, walau akhirnya Pakistan memilih untuk berjalan di atas jalur demokrasi parlementer. Sebenarnya sedikit mirip dengan Indonesia pada masa lampau, saat terjadi pertentangan antara yang ’nasionalis’ dan yang ’Islam’ (meminjam pengistilahan yang digunakan Tempo dalam edisi khusus Pergulatan Demokrasi Liberal. 1950-1959: Zaman Emas atau Hitam). Tapi, berbeda dengan Indonesia, Pakistan didirikan atas dasar tuntutan keagamaan. Sialnya, dalam negeri Pakistan sendiri belum terjadi sinergi antara pemerintah (atau kaum intelektual didikan kolonial?) dengan kaum beragama. Ketiadaan sinergi ini bahkan semakin memburuk di bawah rezim Musharraf, dimana terjadi tekanan pemerintah atas gerakan-gerakan keagamaan. Bisa dikatakan pengaruh pemerintah meluas ke Masjid, seperti saat di Eropa dulu kala terjadi intervensi terhadap Gereja (dan sebaliknya… intervensi oleh Gereja). Tampaknya kebanyakan usaha menggabungkan sistem pemerintahan kontemporer dengan agama selalu berujung kegagalan. Agama pada akhirnya malah sering dijadikan pembenaran bagi pemerintahan yang korup ataupun otoriter. Menyedihkan. Membingungkan. Memuakkan.
Pilihan yang muncul seputar hubungan antar agama-negara akhirnya berujung pada dua hal: 1) membentuk negara sekuler dimana agama bukanlah bagian terintegrasi dalam sistem pemerintahan (walau mungkin tetap menjadi kekuatan politik); atau 2) mengadopsi sistem lampau dan menerapkannya dalam konteks kekinian (ya, saya bicara tentang khilafah). Saya belum yakin akan keberpihakan saya. Saya merasa kedua sistem barusan masih perlu penyesuaian. Ini adalah keraguan, bukan kekufuran. (Kebodohan, mungkin)
”Wah wir, yang penting dalam politik itu aksi. Kita terapkan dulu, nanti kebocorannya kita tambal di jalan sambil belajar.”, kata seorang teman.
Tut…tut Watson. Waktu telah berbicara. Detik telah bertutur dengan kejamnya tentang ketidakpedulian kita untuk berpikir. Menghukum kita atas kemalasan, untuk ketidaksabaran. Tergesa adalah pengkhianat yang nyata. Sementara sabar adalah ketidakpastian, sebuah perjudian. Mungkin akan menjadi keuntungan. Bisa juga kutukan. Sebuah perjudian.




August 20, 2007 at 6:12 am
sabar adalah perjudian?? Huhh kata orang sabar disayang Tuhan, Kata orang Sabar Ga Kebagian.. Anything you said about SABAR.. Ketika 4W1 udah menguji kita dan kita tidak tau harus berbuat apa .. mungkin itu adalah salah satu alternatif jawaban seorang teman..
Aku benci kadang Kebingungan.. aku mencari dimana kebenaran.. aku berlari untuk terus bertanya dimana kebenaran itu.. pada akhirnya, kebenaran itu adanya dimana?? kata orang di lubuk hati kita?? andai itu benar adanya, saya cuma berharap semoga di dalam hati saya adalah JALAN KEBENARAN, dimana disitu kutemukan 4W1 sebagai jawaban.. dan Pergilah setan..
HUhu koq jadi puisi yah??? Hmm ngomongin negara nih yah wir, puyeng kayanya ngatur sejuta banyak manusia… jangankan ngurusin negara ngurus G’07 ajah udah puyeng.. Yahh namanya juga belajar.. untuk menjadikan suatu negara untuk sekuler or khilafah.. pada Intinya, saya masih bertanya tentang pengejaran kekuasaan.. mengejar kekuasaanya yang sulit dan cukup menakutkan.. takut menempuh jalan yang salah… BALES COMMENT AKU KALO GA DIPECAT DARI KSK Family huhehehe
August 21, 2007 at 1:01 am
sejarah Indonesia adalah sejarah “nasionalis” dan “Islamis”,tapi sebenarnya ada dimensi dimana ketika kita bicara dalam konteks ke-indonesia-an kita,sebuah kepaduan antara nasionalis dan Islam. Yach…meminjam perkataan Bung Karno”kita harus membangun bangsa ini dengan api ISLAM yang berkobar, bukan islam yang sontoloyo”.Pertanyaan, kenapa bangsa (sleeping giant) masih saja sontoloyo hingga saat ini? wuahaha…..
August 21, 2007 at 1:44 pm
Sebenarnya daripada mengangkat Indonesia (yang lebih ga jelas lagi)…
Lebih menarik Iran, Islam di situ menyatu dnegan cukup baik dengan demokrasi.
Kalau maslah sebutan Axis of Evil… yah kita sama-sama tahu lah, seberapa banyak kesalahan yang telah dibuat oleh Bush. Padahal kalau beliau melihat track record administrasi Khatami, harusnya bisa disimpulkan bahwa Iran adalah sekutu yang lebih baik untuk A.S daripada Arab Saudi (yang tidak demokratis, dan cenderung opresif… walau sama-sama berdasarkan Islam).
dan walaupun Ahmadinejad dengan lantang menolak Amerika… yah tetap melakui proses yang realtif demokratis (walaupun masih ada pembredelan media massa di Iran)
May 8, 2009 at 2:49 am
Hey there…
Wasn’t what I was looking for, but good website. Thanks….