Generasi MTV dan Energy Security
December 25, 2007
MTV adalah ikon budaya populer, saking populernya stasuiun TV ini hingga dijadikan penanda munculnya generasi baru!
Saya dan teman-teman lain yang lahir pada akhir 80-an, saya yakin, termasuk ke dalam generasi ini. Katanya, kita-kita yang termasuk ke dalam generasi MTV ini adalah makhluk yang senang kecepatan. Menyukai yang sifatnya instan. Selalu ingin membuka pintu harta dengan hanya meneriakkan “Buka wijen!!!”.
Sifat itu muncul dengan segala konsekuensinya. Termasuk yang ingin saya bahas sekarang, yaitu hubungan antara generasi MTV dengan pilihan-pilihan yang diambil dalam mencapai energy security… atau sekalian saja, environmental sustainability
Generasi instan juga menginginkan solusi instan, bahkan untuk masalah yang membutuhkan pendekatan bijak: energy security. Simpulan ngawur ini saya ambil dari sejumlah diskusi dengan sejumlah orang di sejumlah tempat pada sejumlah waktu yang berbeda (dan dengan sejumlah materi walau dengan satu tema). Hasil penjumlahan itu… ya, yang barusan.
Pada salah tiga diskusi, misalnya, saat saya secara tidak sengaja terlibat dalam diskusi tentang energi alternatif. Dalam tiga diskusi kecil yang berbeda, dengan tiga komposisi manusia yang tidak sama, kebanyakan peserta diskusi mengajukan satu solusi: energi nuklir. Sebagai catatan, saya adalah penentang penggunaan energi nuklir.
Alasan yang mereka kemukakan, terutama, adalah cost effectiveness energi nuklir dibandingkan dengan penggunaan energu alternatif lain. Saat saya mengajukan argumen klasik penentang nuklir dengan mengungkit Chernobyl, tidak ada satu orang pun yang tidak tahu kasus tersebut. Tapi, kemudian mereka memberikan argumen balasan, kali ini argumennya mulai beragam. Tapi, kalau saya diijinkan merangkumnya, intinya adalah: presentase kecelakaan nuklir lebih rendah, bahkan dibandingkan energi konvensional seperti batu-bara ataupun diesel.
Ha! Presentasi yang kecil dengan akibat besar. Bahkan saat kemungkinan kegagalan nuklir adalah 0,00001% (atau 1:1000000, 1 kegagalan tiap 1 juta operasi) saya tetap akan menentang nuklir. Karena saat kegagalan itu terjadi… well, you know for yourself what a nuclear radiation can do…
Argumen keuntungan ekonomi dan keterjaminan pasokan energi, dalam hal ini menjadi argumen yang simplistik. Karena ada hal-hal lain yang sering tidak dihiraukan oleh para ekonom(?), sebut sajalah isu-isu human security.
Satu contoh simplifikasi isu lain: saat SBY mempromosikan biofuel (atau, lebih spesifiknya, bio-ethanol). Argumen beliau adalah biofuel akan membantu keterjaminan energi, selain itu harga biofuel yang sedang menignkat di pasaran dunia akan menaikkan kesejahteraan petani. Tapi, pertanyaan-pertanyaan akan muncul, Pak Presiden, karena 1)biofuel sama mahalnya dengan bahan bakar fosul (kata penelitian di Minnesota), dan 2) bagaimana mungkin kesejahteraan petani meningkat padahal produksi biofuel hanya dikelola oleh pabrikan besar. Jika demikian, bukankah lebih baik memastikan food security bagi petani?
Entah dari mana Presiden kita mendapatkan simpulan sederhana seperti itu. Tapi, bagi kita, sebagai manusia-manusia yang kelak mengemban nasib dunia di pundak kita, penyederhanaan masalah bukanlah solusi. Lebih baik menghadapi kenyataan yang pahit untuk kemudian mencari solusi.
Karena itu, katakan tidak untuk nuklir!!! (Eh…?)
P.S: ada tulisan lain tentang nuklir di sini.




January 28, 2008 at 1:45 pm
buat na,,emmm,,susah ni ngomong ma wirya,,,anda terlalu pintar,,hehehe,,sdangkan gw,,beuh ud syukur banget g turun kasta,,hehe