Berasa nostalgia…

June 22, 2008

(salah satu foto di Plumstead Stories)

Ada situs yang menarik, judulnya “Plumstead Stories. Saya nemu situs ini waktu sedang keliling mbaca-mbaca cerita tentang pengalaman semasa Perang Dunia I dan II. Waktu loncat dari satu link ke link lain, ndak jelas bagaimana, ternyata sampai ke situs satu ini.

Situs ini isinya memang hanya koleksi foto dan cerita-cerita masa lalu; seperti cerita kakek kita tentang jaman kemerdekaan dulu. Anehnya, kok saya bisa  tahan keliling-keliling di dalam situs itu, membaca satu demi satu cerita yang ada, memerhatikan kumpulan memori masa lalu orang-orang yang pernah tinggal di Plumstead (daerah yang bahkan saya tidak tahu ada!).

Awalnya, saya tertarik dengan kata-kata yang tertera di halaman awal situs: “It is a sad fact that as we pass on, these stories are lost. I want to record stories, to preserve our ‘grassroots’ social history for future generations.“ Selain itu, sejak kecil saya memang senang mendengarkan cerita eyang saya… kisah-kisah sederhana tapi menggugah tentang perjuangan beliau semasa perang dulu. Jadinya waktu saya baca cerita-ceritanya… saya sambil membayangkan suara eyang putri yang lagi ngedongengin saya, seperti waktu saya kecil dulu.

Kembali ke kutipan barusan… Akhir semester ini, kawan baik saya, Adi Bramasto, sempat presentasi di depan kelas waktu kuliah Migrasi Internasional (saya ingin ngasih link ke blog dia… tapi demi pertimbangan kemanusiaan, tampaknya lebih baik tidak^_^). Dia dan kelompoknya presentasi tentang migrasi kaum Puritan Inggris ke benua Amerika. Waktu itu ada yang mempertanyakan relevansi presentasi dia terhadap studi hubungan internasional; kata yang bertanya, bahasannya sudah kuno. Adi menjawab dengan argumen yang bisa disingkat menjadi, “the past creates the contemporary“.

Saya akan menambahkan sebuah kutipan dari The Prison Notebooks-nya Antonio Gramsci (yang dikutip oleh Edward Said dalam Orientalism): “The starting point of critical elaboration is the consciousness of what one really is, and is ‘knowing thyself’ as a product of the historical process to date, which has deposited in you an infinity of traces, without leaving an inventory. Therefore, it is imperative at the outset to compile such inventory. Tampaknya, situs ini adalah salah satu inventory itu… (walau, deskripsi inventory yang dimaksud Gramsci sendiri, sepanjang pengetahuan saya, adalah subjek bagi sebuah perdebatan)

Tapi, sesuai dengan theme blog ini yang hijau dan cerah, saya harap anda tidak membaca tulisan ini dengan kening yang (terlalu) berkerut. Karena itu, saya akan memerkenalkan sebuah memento kehidupan saya, yang mungkin paling dekat dengan inventory yang Gramsci deskripsikan… karena saya sering merujuk pada memento ini dalam berbagai kesempatan. Memento itu adalah: Doraemon!

Ya, Doraemon! (Aku ingin begini… aku ingin begitu, dst, dst)

Doraemon yang, dalam benak saya, akan selalu ada bahkan jika dunia sedang dilanda perang nuklir sekalipun. Doraemon yang akan selalu memarahi Nobita dan mengajarkan anak-anak kecil di seluruh dunia untuk berusaha. Doraemon, si robot musang kucing berwarna biru (yang tampaknya telah memecahkan rahasia keabadian). Doraemon, karena semua anak yang besar di tahun 90-an pasti terkena pengaruh dari makhluk satu ini; pernah membaca komiknya, pernah menonton kartunnya, atau pernah berkhayal untuk pergi dengan “pintu ke mana saja”. :-)

Baru saja kemarin saya nemu salah satu alternatif ending Doraemon yang dibuat seorang penggemar di sini. Ending yang menyentuh, walau tidak original. (saya lebih suka yang ini daripada ending dimana hubungan doraemon-nobita hanya mimpi). Di ending yang ini, semua tokoh dalam dunia Doraemon sudah beranjak dewasa. Dan, bayangan tentang mereka beranjak dewasa, mau tidak mau menyentuh sisi sentimental saya. Saya tersenyum saat membaca bagian akhir fanfic itu.

Karena saya, juga, telah mulai dewasa…

Leave a Reply