Fighting experience
August 12, 2008
Beberapa hari ini saya lagi asik main Theatre of War. Ini permainan komputer tentang Perang Dunia II yang punya genre real time strategy. Saya tulis tentang permainan ini bukan untuk membahas gameplay atau hal-hal lain tentang isi permainannya, yang saya mau tulis tentang pengalaman bermainnya. Khususnya, tentang kengerian saya main game ini.
Teman saya beda angkatan, Wida, pernah menulis karya ilmiah tentang mati rasanya seseorang setelah terlalu sering bersentuhan dengan kekerasan (versi populerny a bisa dilihat di sini).
Game yang saya mainkan ini isinya melulu kekerasan, desingan peluru, lemparan granat, tembakan artileri, orang mati… Ini memang salah satu game PD II paling nyata yang pernah saya mainkan. Tapi, walau sering nongkrong di depan komputer (untuk main… bukan buat ngeblog), kok saya belum mati rasa juga. Yang muncul malah rasa baru. Saya ngeri melihat penggambaran perang yang begitu nyata. Walau itu hanya di dalam komputer, rasanya seram juga mengambil nyawa banyak orang hanya dengan mengarahkan strategi yang baik dan benar.
Waktu saya mulai bermain si theatre of war [bagian kampanye Polandia… yah sebenarnya sampai sekarang juga masih mainin Polandia sih, ngga ada kemajuan] saya sambil ingat-ingat kata-kata Karl Von Clausewitz. Dulu, waktu ngambil mata kuliah Geopolitik dan kawan-kawan, saya ingat pernah membaca bahwa dia mengusung ide tentang perang sebagai alat politik. Maksudnya, yang utama itu tujuan politik sementara perang hanya salah satu alat pencapaian. Dan, berhubung akhir tidak pernah dapat ada dalam isolasi terhadap cara, saat perang membahayakan tujuan politik, maka perang harus dihindari.
Buat saya yang hidup di masa damai, kata-kata beliau terdengar jamak,lumrah dan tidak perlu dipikir ulang. “Ah, itu sih udah pasti”, kata saya kepada siapapun yang bertanya [untungnya lebih banyak yang ngga nanya, mereka lebih bijaksana dari saya]. Tapi saya lupa. Beliau menulis itu sesudah Perang Napoleonic yang menguras tenaga bangsa Eropa. Pak Clausewitz sadar perang habis-habisan akan membahayakan negara yang berperang, termasuk ikut menghilangkan nilai-nilai yang berusaha dilindungi melalui perang tersebut. Karena itu beliau mengambil kesimpulan akhir: perang harus dibatasi.
Bentuk pembatasan ini diikuti oleh pemimpin-pemimpin dalam Perang Dingin melalui deterrence senjata nuklir, walau dengan pendekatan yang berbeda [kalau mau iseng, coba bandingkan Truman dengan Kruschev].Tanpa pembatasan Clausewitzian, senjata selalu diciptakan untuk digunakan seperti halnya pada tank, artileri, maupun senapan-senapan yang teknologinya terus dikembangkan dalam kurun tiga puluh tahun antara PD I dan II untuk mempersiapkan diri akan perang. Tapi kesadaran akan bahaya perang total, terlebih dalam skala penggunaan senjata termonuklir, mendorong penciptaan senjata sebagai usaha untuk mencapai keunggulan material relatif terhadap negara lain dalam dunia yang anarkis.
Sampai saat ini saya malah makin takut.
Karena dalam pikiran Robert McNamara, yang dalam rezim Eisenhower menjabat sebagai secretary of defense, hal ini berarti arsenal nuklir harus disiapkan untuk diarahkan ke lokasi-lokasi sipil dengan tujuan menimbulkan korban sebanyak-banyaknya. Perang harus dibuat semengerikan mungkin, agar para pembuat keputusan gamang saat harus melakukannya. Dalam bahasa yang sama sekali tidak ilmiah, pembantaian sebanyak mungkin manusia harus disiapkan agar tidak terjadi pembantaian sama sekali.
Oh, tentu saja masa Perang Dingin sudah lama berlalu. Dan, sekarang adalah masa dimana mahasiswa-mahasiswa Hubungan Internasional memulai skripsi mereka dengan kalimat, “Sesudah Perang Dingin..” Oh, tentu saja masa Perang Dingin, Perang DUnia I, Perang Peloponesia, Perang Puputan, atau Kampanye Palapa sudah berlalu. Yang tersisa hanya perdamaian yang masih risau dengan eksistensinya [dan sebuah studi yang selalu bermasalah]. Saat saya dan teman-teman membaca tentang peristiwa-peristiwa itu, mereka terasa sangat jauh… nyaris seperti ketidakmungkinan.
Saat bermain Theatre of War, semua yang lalu itu kembali muncul dalam timbunan piksel di depan mata. Membuat saya bermain dengan dahi yang berkerut khawatir. Tapi, sial, game, ini terlalu menarik untuk dilewatkan!
P.S: Mengikuti interpretasi John Ruggie atas kalimat Max Weber yang berikut, “We are cultural beings endowed with the capacity and the will to take deliberate attitude towards the worl d and lend it into significance”… Sekarang saya harus melupakan kengerian saya sambil berusaha bersikap lebih optimis, demi mengadopsi fakta sosial yang lebih cerah. “Siapa yang dapat melaksanakan, sekarang berusaha mewujudkannya”, Opening theme song-nya Dragon Ball :p



