Saya baru baca satu lagi artikel yang bikin miris di BBCNews, “Bad Case of Baghdadophobia”

Isinya tentang pengalaman hidup didera ketakutan seorang jurnalis BBC di Baghdad. Bagaimana tidak takut, ancaman terhadap individu ada secara nyata dan konstan. Kegiatan trivial seperti pergi ke kantor sekalipun, sudah menjadi pemicu adrenaline.

I start my day by taking a bath and praying. I listen to the news while I have my breakfast, then I get dressed for work, and always kiss my wife and my children before leaving the house – everyone here does the same these days, because everyone knows when they leave home that they may not return.

Death lurks around every corner, and nobody is immune. Almost all the victims are innocent bystanders who wrongly think that because they aren’t in the government or military their chances of survival are greater.

Jujur, saya ngga bisa membayangkan merasa takut sama Bandung atau Jatinangor. Walaupun saya tahu tiap hari ada saja kegiatan kriminal di dua tempat itu. Tapi, bagaimanapun juga, itu Bandung dan Jatinangor! My place!!! Saya ngga bisa membayangkan apa yang dialami si penulis dalam artikel ini:

I think of the other threats to the commuter in downtown Baghdad. A box, a trash bin, an animal cart parked on the side of the road, a mentally ill person crossing the street, or even a stray dog, every one of these could have been wired with a bomb waiting to explode spontaneously or by a remote control.

Everything is unknown, everything is anonymous – the killer, the victim, and the means of the murder.

That broken-down car, why is it parked here? Where is the owner of that motorcycle? God knows how much I fear motorbikes, especially the fast ones, with two riders.

One of them drives the motorbike and the other one fires from a pistol equipped with a silencer.

Parah… Saya jadi merasa konyol. Saya dan teman-teman di HI sudah sering berdiskusi atau berdebat tentang Irak. Kapan pasukan AS seharusnya ditarik? Ataukah mereka seharusnya dipertahankan? Siapa yang akan ditempatkan mengisi vacuum of power kalau pasukan AS ditarik? Beserta apa, kenapa, dan bagaimana lainnya. Tapi, saya hanya berbicara saja. Sya nggak tahu dan nggak ngerti tentang apa yang terjadi. Saya dan teman-teman hanya membaca informasi yang ditawarkan oleh dunia informasi yang begitu luas di internet. Kami merasa marah, kami kesal, tapi tetap saja tidak mengubah fakta bahwa: KAMI TIDAK TAHU APA-APA.

Oke, saya tidak akan memerdebatkan metodologi atau apapun itu. Dalam penulisan ini, mereka tidak relevan. Saya sedang menulis tentang manusia. Manusia yang dikelilingi oleh ejawantah power dalam bentuk yang paling terkutuk.

Saya rasa, pengalaman manusia selalu menjadi bagian penting dalam teori-teori sosial dan politik. Terutama dalam kajian klasik seperti yang dilakukan Plato, Rosseau, Hobbes. (Walau dalam yang kontemporer pun juga dominan seperti Arendt, Rawls) Tapi, bukankah konyol, saat seorang pelajar culun seperti saya membincangkan pengalaman-pengalaman manusia di tempat yang berada di tempat sejauh ribuan kilo sambil minum teh atau kopi, dan berkata, “Well, yes, they are suffering, but let’s continue shall we?”

Yang saya maksudkan, di dalam diskusi-diskusi dalam ruang kelas… kita, atau saya, sering menjadikan pengalamn tersebut, penderitaan tersebut, nomer dua setelah pengejaran egois atas ilmu atau IPK atau sertifikat juara. Kita mengeksploitasi penderitaan orang lain untuk memenuhi egoisme kita dalam mencapai sesuatu. Kita ingin dikenal sebagai ahli tentang Irak atau Palestina atau Afrika; tentang feminisme, hak asasi manusia, atau  demokrasi, dan kita akan membaca banyak literatur dan berdiskusi dengan fasih dalam subyek tersebut. Kalau ada yang tidak setuju dengan pendapat kita, mereka goblog… kadang malah kafir. Kita pikir kita peduli, tapi peduli apa kita? Coba lihat ke dalam hati dan perhatikan, apa itu altruisme murni ataukah sweet bullshit?

Ah, lagi-lagi saya mulai melantur. Sudahlah, saya tidak akan membuat kalian bosan lebih lama dengan tulisan ini.

Leave a Reply