‘Bayar, jangan’ Sebuah cerita hiperbola tentang bagaimana tindakan sederhana dapat membawa akibat luar biasa
November 24, 2008
‘Bayar, jangan?’
Ini memang sebuah pertanyaan dilematis. Di satu sisi, kalau kita bayar berarti uang kita berkurang. Di sisi lain, kalau tidak bayar bisa jadi kita merugikan orang lain. Misalnya saja, dalam sebuah warung di Jatinangor, saat kamu selesai makan dan bertanya, “Bayar, jangan?” kepada teman makanmu. Teman, karena tidak mungkin pacar. Orang gila macam apa yang ngajak kabur pacarnya sesudah makan siang? Immoral. Imbecile. Debauched. Decadent. Dissolute. Degenerate. Dissipated. Self-indulgent. (dapet dari Encarta Thesaurus :p) Saat kamu bertanya seperti itu, apa kamu pernah menempatkan didri kamu di posisi selain kamu yang relevan dengan pertanyaan itu?
Oke, posisi pertama, kamu, sebagai orang yang seharusnya membayar, punya tanggung jawab ideal untuk MEMBAYAR. Tanggung jawab yang muncul saat kamu memesan makanan dan melihat harga yang tertera di daftar menu. Perkecualian di beberapa rumah makan Pad*ng, mereka jarang punya daftar menu. Kalau tidak bayar, ya, memang biasanya jarang ada polisi yang mau nangkap. Paling banter kamu akan dihakimi massa. Atau, kemungkinan terburuk, dimutilasi. Namun, kalau kamu yakin dengan kemampuan lari kamu dan benar-benar merasa MEMBAYAR hanya sekadar tanggung jawab khayal yang tidak jelas. Berarti, pilihan JANGAN yang diambil, dan kamu kabur. Immoral. Imbecile. Debauched. Decadent. Dissolute. Degenerate. Dissipated. Self-indulgent.
Posisi kedua, si penjual makanan, atau sang pemilik warung. Kalau kamu pilih bayar, ya, syukur. Berarti tidak ada masalah. Kecuali kalau kamu merasa dibohongi karena teman kamu yang makan lebih banyak dari kamu sama-sama bayar Rp 8.000. Ya, ikhlaskan sajalah. Tidak ada cukup ruang untuk menulis itu di blog ini. Tapi, kalau kamu mengambil pilihan JANGAN dan kabur, ada beberapa konsekuensinya. Pertama, seumur hidup kamu akan dihantui oleh perasaan bersalah karena tidak memenuhi tanggung jawab moral kamu. Mimpi kamu akan dipenuhi suara memilukan si pemilik warung yang menagih piutangnya. Kedua, si penjual akan mengalami dilema. Sadar kalau kamu tidak membayar dan ingin mengejar… tidak mungkin. Karena warungnya hanya warung kecil dengan pegawai dua orang. Dia dan bayangannya. Kalau dia nekat mengejar, tentu tidak ada lagi yang melayani pelanggan. Bisa-bisa mereka kabur semua. Namun, bisa juga, karena pelanggan-pelanggan yang lain tahu bahwa kamu kabur dan si penjual tidak mengejar, mereka ikut kabur karena tahu tidak akan dikejar. Akhirnya, si penjual kehilangan sama sekali sumber pemasukan dan modalnya hilang tak kembali. DIa stress karena anaknya putus sekolah dan istrinya kabur dengan dukun yang dia datangi untuk pesugihan. Karena dendam, dia lalu jadi pembunuh berantai dengan sasaran khusus mahasiswa. Saat ketahuan oleh polisi, dia lalu bunuh diri dengan meledakkan bom racikan sendiri di gerbang kampus tempat dia berjualan dulu.Sepuluh Mahasiswa tewas. Puluhan lainnya luka-luka. Skripsi saya terhenti pekerjaannya karena berduka.
Lihat kan, bagaimana pilihan kamu bisa berakibat sadis.
Belum lagi, posisi ketiga, teman makan kamu yang terpaksa diajak kabur. Karena tidak enak pada kamu yang temannya dia jadi ikut-ikutan kabur. Sebenarnya dia didikan sekolah agama yang imannya nyaris kuat. Tapi, melihat kamu yang temannya dengan enteng kabur. Keyakinannya goyah. Hingga saat tiba-tiba ada teman kamu yang lain menawari dia jadi bandar narkoba, dia ikut-ikut aja. Ngga enak menolak karena itu temannya. Belajar dari kamu itu.
Masih ada posisi keempat, anak penjual warung yang ayahnya jadi psikopat. Posisi kelima, adiknya teman kamu yang ikutan terjerumus ke dunia narkotika. Posisi keenam, dosen pembimbing saya yang sabar menghadapi saya yang skripsinya mandeg (Astaghfirullah, jangan sampai!!!). Wah… efek dominonya dahsyat ya?
Nah, sekarang kita akan beralih ke pertanyaan berikut, ‘Ngebut, jangan?’
Coba bayangkan kalau kamu sedang mengendarai motor bersama teman kamu…



