The Garbage We Once Were…
December 5, 2008
Adzan Maghrib terdengar. Perlahan, terhalang oleh kaca mobil. Setelah menyetir berjam-jam, saya mengarahkan mobil saya dengan tenang ke masjid Nurul Falah. Masjid tempat saya menenangkan diri waktu SMU dulu, terutama saat menjelang SPMB. Saya suka masjid ini. Entah kenapa, cukup banyak orang yang transit di sini saat Maghrib. Eksekutif-eksekutif dengan SUV yang berhenti hanya sekedar shalat saja. Karenanya, tidak terlalu banyak orang saling mengenal. Kecuali beberapa orang tua yang memang tinggal di sekitaran masjid.
Datang dan pergi, demi Allah semata. Hidup dan mati, demi Allah pula. Konsep yang menenangkan saya.
Saya menghabiskan beberapa saat di masjid, hanya untuk merasakan atmosfer yang diberikan oleh-Nya. Mendengarkan orang-orang membaca Al-Qur’an, menggumamkan dzikir, meluruskan hati.
———-
Sesudah shalat, saya keluar dengan langkah yang ringan. Bukan hanya karena saya pakai sendal jepit, tapi juga karena saya lebih siap kalau mati mendadak. Setidaknya, saya akan bisa menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur. Teman saya, Upi, sering mengingatkan untuk mendahulukan shalat. Katany, “Udah wir, shalat dulu, Daripada pas loe balik ketabrak tronton belom shalat…” Yah, pi, moga-moga malaikat ngejadiin ucapanmu itu footnote di sedikit catatan kebaikan yang gue punya, sob.
Anyway, seperti biasa, sebelum pulang saya menyempatkan diri ke Circle K buat beli Milo panas. Kebetulan, masjid ini dekat sekali sama salah satu cabangnya. Jadilah saya menyetir Karimunsetia saya ke sana. Tdak sampai dua menit, saya sudah sampai. Sayang, tempat parkir Circle K penuh. Ternyata banyak anak muda tanggung yang nongkrong di sana. Dilihat dari baju putih dan celana/rok abu-abu yang mereka pakai, mereka belum pulang sesudah sekolah di pagi harinya. Apa boleh buat, Karimunhitameksotis saya parkir di laboratorium yang ada di seberang Circle K.
Menghindari kerumunan anak muda yang nongkrong di pintu samping, saya memilih masuk lewat pintu depan. Tapi, ah, ternyata ada juga anak SMU yang nongkrong di sana. He he, ajdi inget masa-masa SMU dulu… semua tempat yang keras bisa dijadikan tempat duduk. Sambil tersenyum, saya melangkah masuk ke Circle K… Tunggu. Ada apa dengan anak ini?
Dia tampak tertidur. Tapi, tubuhnya kejang-kejang. Ngigau? Mungkin saja. Temannya tampak tenang-tenang saja. Hmmm… Ya sudahlah. Saya, kemudian, melangkah masuk ke…. TUNGGU! Apa mungkin orang ngigau sambil muntah-muntah?! Ada apa dengan anak ini?!
“Mas, temannya kenapa?” tanya saya ke orang yang ada di sampingnya, sambil memegang pergelangan tangan anak yang tidur/pingsan ini. Denyutnya… normal. Atau, tampaknya normal. Ah, sial. Saya bukan paramedik!!! Mana mungin saya tahu!!!
Anak SMU lain yang ada di sampingnya menoleh dan melihat saya, lalu melihat ke temannya, ia tampak kaget. “Sep, kejang-kejang!! Si Ieu kejang!!!”
Mendengar teriakan anak itu, temannya yang satu lagi muncul, entah dari mana. “Anjiiiir!!!! Aduuuh!!” Mukanya tampak panik.
“Mas, gimana kalau temannnya dimasukkin ke mobil saya saja? Saya antarkan ke rumah sakit, nanti saya bantu biayanya”
“Aduh kang, ini lagi nunggu kakaknya”
Kakaknya? Jadi anak ini sudah dari tadi semaput seperti ini? “Kapan kakanya datang?”
“Ngga tahu kang, tadi sudah saya telpon.”
“Udahlah, daripada ngga jelas gitu, sekarang mas masukkin dia ke mobil saya. Teman anda ini sakit!”
“Aduuuh, saya ngga enak sama kakaknya”
“Nanti saja ditelpon lagi kalau sudah di rumah sakit!”
“Iya, tapi saya udah janji…”
AArrrgghghhh!!! Keras kepala!!! Sambil frustasi, saya mengedarkan pandangan saya ke sekeliling. Ternyata anak-anak tanggung yang tadi nongkrong mulai bergerombol di sekitar kami. Berbisik-bisik. Menunjuk-nunjuk. Tapi tetap tidak menolong. Menjaga jarak aman seakan-akan anak yang sedang pingsan ini bisa bangun setiap saat dan menggigit mereka.
Darah mulai berdenyut kencang di kepal saya. Saya rasanya ingin berteriak. INI ORANG, BUKAN BINATANG, BANGS*T!!!!
Ah, sudahlah. Sekali lagi saya pegang pergelangan tangan si anak pingsan. Sial, still inconclusive. Saya cuma bisa yakin kalau anak ini tidak akan melahirkan tiba-tiba.
“Mas, kakaknya tinggal di mana? Kalau masih lama mending saya bawa saja sekarang”
“Nggak tahu, tapi sudah di jalan. Saya nggak enak kang, udah janji”
Gobl*k! Kenapa harus keras kepala begini!?
Tiba-tiba, satpam-cum-tukang parkir circle K datang, “Udah ini kita bawa ke pojokan saja. Bisa gawat kalau patroli datang”
Tampaknya, usul yang ini bisa diterima mereka. Mereka lalu menggotong anak pingsan itu, dibantu oleh si tukang parkir. Saya, yang dari tadi sudah ikut campur, ikut membantu.
Sambil diangkat, anak itu terus muntah-muntah. Kerumunan anak tanggung yang melihatnya makin menjaga jarak mereka. Tampak jijik.
Anak pingsan itu kemudian didudukkan di pojok Circle K yang gelap. Sementara, kerumunan anak tanggung tiba-tiba berpindah tempat ke bagian depan. Teman anak pingsan itu terus bilang terima kasih ke saya.
Saya acuhkan.
Saya masuk ke Circle K untuk membeli Milo. Sambil memegang cangkir Milo dan membiarkan panasnya masuk ke tangan saya, saya melihat untuk terakhir kalinya ke arah kerumunan anak tanggung itu… Demi Tuhan, kalau tatapan bisa melukai, maka tubuh mereka pasti sudah termutilasi. Saya membenci mereka yang menganggap anak pingsan itu tidak layak mendapat perhatian lebih dari mereka. Mereka yang menganggap anak itu bukan bagian dari masyarakat. Makhluk-makhluk terkutuk yang menghilangkan kemungkinan kesempatan kedua bagi si anak pingsan, bagi si ’sampah masyarakat’.
Saya benci, saya juga dulu ’sampah’. Hmph.
Saya menuju ke mobil dengan langkah yang berat dan cepat. Sambil menyalakan mobil, saya menaruh Milo di cup holder. Dan, bersamaan dengan menyalanya mesin mobil, tape mulai mengeluarkan suara yang sangat saya kenal. Track 10, album ‘Pearl Jam’. Tidak bisa tidak, saya tersenyum karena ironinya.
Dan, sambil mengeluarkan mobil dari tempat parkir, perlahan suara serak Eddie Veder mulai melantun…
I have faced it, a life wasted… And i am never going back again




December 5, 2008 at 6:49 pm
iyah , kalo abis sembanyang rasanya kita siap menghadapi apapun :D
December 7, 2008 at 3:02 am
Wah seriusan wir? Buset nyebelin banget ya. Well, people are just like that. Underestimates ‘others’…
Mampir ke blog gw napa :D
December 7, 2008 at 1:50 pm
Iya ndra. Parah bed. Sampe sekarang juga gw masih kesel. Pengen gw timpuk pake gelas milo juga… dari kertas.. mana sakit..
Pake sepatu.. wah masih baru (Sepatu baru?! Alhamdulillah!) Sayang..
Pake kunci mobil? Kesenengan dianya…
Dilema uy
December 9, 2008 at 9:23 am
Dan… perlu saya informasikan… kalau lain kali liat orang kejang-kejang.
1. Miringkan badannya
2. Sumpal mulutnya pake kain
supaya jalan napas terjaga dan nggak ngegigit lidah…
December 9, 2008 at 9:46 am
hehehe… selamat mencoba…
December 11, 2008 at 11:50 am
Wir, dlu mang lo kyak apa?
bau banget yah?
Ampe jd ’smpah’ gtu. Wakakak.. :D
December 13, 2008 at 2:54 pm
@Teh MarQ
Ga beda jauhlah sama sekarang…
Wirya Adiwena, minus the composure…
Mungkin gara-gara dulu ngga pake Ax* kali ya?
@alfapyuee
Ow… jadi begitu ya… Hmm… ternyata kejang-kejang ada hubungannya dengan kolesterol ya…
*Asal bunyi biar nyambung mode – ON*
December 14, 2008 at 2:12 pm
bukan cholesterol tau… Asam Urat… (bisa nggak lulus gw ketauan ngomong gini… hihihi)
January 1, 2009 at 5:26 pm
jadi si anak SMA itu sakit apa ya??
eh, ni salju2nya lucu de…
jadi ogn bikin juga ditempat saya..
hwhw
January 2, 2009 at 1:24 am
Jadi, seperti kata Alin, itu masalah asam urat.
Penumpukan asam urat akan mengakibatkan hilangnya perimbangan kekuatan dalam tubuh karena ada kontertasi antara unsur yin dan yang yang secara alami selalu mencari kekuatan untuk berkuasa atas satu tama lain… hence kejang-kejang.
Ok, i’m losing my sense now. Alin, please tell us what ACTUALLY happened?