Ardhi baru membagi sebuah model yang membantu kita berpikir ulang tentang kata bangsa dalam konteks Indonesia. Begini modelnya:

Saya akan meminta kamu untuk membayangkan sesuatu, dan model ini hanya akan berguna kalau kamu benar-benar membayangkannya.

Kalau kamu orang Indonesia, coba bayangkan Indonesia seratus tahun dari sekarang. Bayangkan Indonesia yang jauh berbeda dari saat ini. Indonesia yang maju, makmur, dan sejahtera.

Bayangkan kamu berada di dalam kota kesayanganmu. Lihat trotoar yang lebar dengan pohon-pohon yang rindang. Lihat diri kamu berjalan di sana. Di kiri dan kanan kamu ada orang-orang lain dengan baju yang indah. Semuanya tersenyum. Tidak ada pengemis. Tidak ada mobil yang mengeluarkan asap menyesakkan dari knalpotnya.

Sekarang, bayangkan sebuah taman yang akrab bagi pejalan kaki. Pepohonan yang tinggi besar berpadu serasi dengan lapangan terbuka. Kamu bisa memilih untuk duduk di salah satu bangku sambil menikmati matahari atau berjalan di bawah teduhnya pepohonan. Taman itu penuh oleh orang-orang lain yang sedang bersosialisasi. Ada yang berkumpul sambil membahas buku. Ada yang sedang bermain sepakbola di salah satu sudut lapangan. Semuanya tersenyum.

Sekarang… tutup matamu dan bayangkan semua yang sudah saya tuliskan. Bayangkan trotoarnya, bayangkan tamannya.

Tenang saja, tulisan ini tidak akan ke mana-mana.

Sudah selesai membayangkan? Gambaran yang indah dan menyenangkan bukan? Alangkah bahagianya kita kalau bisa menjadikan Indonesia menjadi tempat seperti itu.

Sekarang saya tanya pada kamu sekalian:

Apa ada orang Papua di antara orang yang kamu bayangkan? Atau, keturunan Tionghoa?

2 Responses to “Refleksi Tentang Kebangsaan”

  1. Meth Says:

    awalan nya bagus euy *sedikit basa-basi

    ada sedikit sentilan di akhir cerita :D

Leave a Reply