Alasan Satu: Perpustakaan Belanda
March 17, 2009
Oke, kalau kamu melihat benda oranye mengapung di atas tulisan ini, harap tenang. Itu bukan ilusi. Itu bukan tokai. Itu adalah banner yang harus saya pasang karena saya sedang mengikuti kompetisi blog dengan hadiah summer course ke Belanda.
Betul, saya mau ke Belanda Pak.
Bukan, sayangnya saya bukan kompeni Bu.
Lebih lanjut, kompetisi ini mengharuskan saya menulis tentang ‘Belanda sebagai negara tujuan studi’. Artinya, saya harus mencari alasan untuk belajar di Belanda. Jujur saja, selama ini saya memikirkan Belanda bukan sebagai negara tujuan studi tapi lebih ke tempat pariwisata. Sudah lama saya merencanakan untuk mampir ke negeri ini. Saya sering dengar dari teman-teman, Patung Liberty di sana bagus sekali.
Untungnya, setelah mikir sebentar, saya nemu beberapa alasan yang bisa membuat saya ngidam belajar di Belanda. Untungnya lagi, lomba ini memungkinkan saya nulis tiga artikel dalam satu blog. Jadi saya akan menulis tiga alasan yang saya miliki untuk pergi ke Belanda. Satu per satu. (Alhamdulillah, saya senang nulis :D)
Ini yang pertama: Perpustakaan Belanda
Kalau kamu orang Indonesia, kamu pasti tahu kalau sejarah negeri ini dan sejarah Belanda sempat beririsan dengan cara menyakitkan. Secara resmi, mereka adalah penjajah negeri ini selama 350 tahun. Nenek moyang orang Belanda sekarang menjadikan nenek moyang kita budak. Orang yang disuruh tanpa digaji; untuk kemudian dipecat tanpa pensiun, dipekerjakan hingga tidak mampu, atau hingga mati. (Dengan perkecualian sedikit elit yang bekerjasama dengan administrasi penjajah.)
Yah, walau ada orang seperti Multatuli yang bersimpati dengan nenek moyang kita sih…
Kamu tahu tidak kalau orang Eropa itu, waktu menjajah, bukan hanya senang menyiksa tapi juga senang belajar? Alhasil, mereka memiliki data dan analisis yang luar biasa luas tentang daerah-daerah jajahan. Belanda tidak terkecuali. Belanda juga diisi oleh ahli-ahli Oriental, salah satu yang paling dikenal di Indonesia adalah Christiaan Snouck Hurgronje. Buat kamu yang ketiduran waktu pelajaran sejarah SMU, dia adalah orang yang meneliti budaya masyarakat Aceh untuk membantu Belanda meredam pemberontakan di sana.
Saya ini mahasiswa Studi Hubungan Internasional, dan umumnya pembelajar studi ini punya minat tersendiri terhadap sejarah. Di perpustakaan pribadi, saya menyimpan beberapa buku tentang Perang Dingin, Perang Dunia, Perang Salib, Sejarah Amerika Serikat, dan beberapa buku lain. Tapi, yang paling ingin saya miliki dan baca adalah literatur-literatur sejarah dalam negeri. Tentang Majapahit, Samudera Pasai, Demak, bagaimana mereka berinteraksi, apa pandangan-pandangan politik mereka, seperti itulah.
Benar, memang sudah ada literatur yang membahas itu. Tapi, tidak ada yang membahasnya dari sudut pandang seorang orientalis jaman penjajahan. Guru saya, Edward Said, mengatakan kalau orientalis itu punya cara pandang spesifik terhadap yang orien/Timur. Mereka memandang seakan-akan yang dari Timur ini tidak beradab dan asing–nyaris bukan manusia–menjadikan mereka daerah taklukkan terlegitimasi. Karena membawa peradaban kepada orang-orang biadab adalah perbuatan mulia. Ha ha.
Apapun yang dilakukan oleh negara Belanda, ataupun Indonesia, tidak akan bisa mengubah fakta itu. Dan, tidak bijaksana melupakan sejarah ini begitu saja, betapapun menyakitkannya. Termasuk pandangan-pandangan orientalis Belanda terhadap Indonesia
Karena itu pandangan peneliti Orientalis menjadi menarik untuk dikaji. Bahkan dalam konteks abad-21 sekalipun. Bagaimanapun juga sejarah Belanda dan sejarah Indonesia sempat beririsan. Dan sejarah selalu memberikan pengetahuan yang bermanfaat, termasuk dalam pelaksanaan diplomasi. (iyalah, bayangin aja… dateng ke Belanda tapi ngomongin soal Patung Liberty, ga nyambung kan?)
Apalagi, biasanya, mereka juga menyimpan dokumen-dokumen otentik dari masa penjajahan. Siapa tahu mereka menyimpan pamflet Perdjoeangan Kita karya Sutan Sjahrir? Uhuy!! Koninklijke Bibliotheek, i’m coming!
Begitulah alasan saya.
Update : Saya ternyata salah baca. Yang ‘Belanda sebagai negara tujuan studi’ itu buat wartawan, sedangkan untuk non-wartawan, ‘Studi di Belanda, ticket to a global community‘. Yah, kalo disambungin memang nyambung… hehehe. Ya sudahlah, wong saya nulis karena emang pengen nulis. Cheers!





March 17, 2009 at 3:07 pm
klo ke pilih,, mampir ke Leiden ya Wir,,
nitip ngopi-in bahan tesis kuw,,
huehuehue :D
gut lak,,
moga nyampe ke Belanda ^_^
March 18, 2009 at 2:22 pm
Amin :D
Tapi ga terlalu mikir brangkat ato ngga sih. Gw mah kalo ikut kompetisi aturannya simpel: in for the fun! (ngikut Hamlet teh, the play is the thing :D )
Tinggal ntar kalo jadi brangkat lagi gw bingung. He he.
March 17, 2009 at 3:53 pm
nah gue ada temen yang di Univ. Leiden tuh, katanya dia pacaran ama buku mulu dah belakangan…tugasnya banyak bener dah katanya
will be a gr8 place buat lo yang doyan baca buku (tapi susah minjeminnya). ntar kalo lo ke sana duluan, gue nitip dibawain kincir angin yah. hehehehe
March 18, 2009 at 2:26 pm
Nah itu… gw khawatir ntar di sana gw ke perpus mlulu. Untung gw udah siap-siap ga belajar Bahasa Belanda, jadi gakan terlalu lama di perpus sana. Secara ga bisa baca juga.
Kincir anginnya mo ukuran apa? warnanya? derajat antar batangnya? umurnya? apa kabar? sekeluarga sehat-sehat saja?
March 22, 2009 at 5:11 am
Wir, lw emg berjiwa besar dan mencintai tulis menulis!!! Saluut dah sama Aa Wirya yang berbakat bgt jadi kolumnis. Kalo ke perpus di Belanda kira2x bukunya bisa dibajak gak? hehehee
March 22, 2009 at 2:51 pm
ah, berlebihan lo sa!
Wah, sa itu namanya pembajakan. Itu namanya kita ga ngehargain karya orang. Dan, itu juga hobi gw sayangnya :p
(kalo ga ketauan gw kopi, sa)
March 22, 2009 at 1:23 pm
Heheheee… Alasan paling populer waktu itu adalah Belanda datang untuk “membebaskan” rakyat Nusantara dari kekangan feodalisme dan kekuasaan tanpa batas Raja-Raja Nusantara yang memperbudak rakyat. :P
Tapi ternyata tak ubahnya seperti raja-raja Nusantara itu juga, memperbudak rakyat juga, cuma bedanya Belanda lebih terpelajar. :D
March 22, 2009 at 1:28 pm
Jahhh… kok keputus komennya, padahal udah ngetik panjang. Intinya aja dulu deh…
Ya, pandangan “orientalis” seperti yang sudah disebutkan di artikel njenengan itu yang membuat negeri-negeri di Timur takluk tanpa ada perlawanan dari sesama Eropa untuk menentang penjajahan itu. Perancis, yang beru saja terjadi revolusi kebebasan itu, Revolusi Perancis pun, ermasuk salah satu negara kolonial terbesar. Menarik untuk mengkaji sudut pandang ini. :D
Ah ya, kirimkan saya salam untuk Attila the Hun, Timur Leng, dan turunannya Genghis Khan yang dahulu menebar teror di Barat yang masih barbar ya. :mrgreen:
March 22, 2009 at 2:15 pm
Orang2 Belanda pun, dulu, punya pandangan menarik tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Misalnya tentang pemimpin mana yang paling menonjol saat usaha mempertahankan kemerdekaan. Seperti kata Mayor Verbruggen perwira Nica berikut ini:
“Orang ini (Sjahrir, YA) musuh paling berbahaya bagi hidup-mati Hindia Belanda. Sebab dengan senyumnya, dengan kehalusan budinya, ia memikat. Seorang Soekarno, ia boleh-boleh saja didewa-dewakan oleh massa bangsa kuli tolol itu, tetapi ia tidak berbicara apa-apa untuk orang-orang gede dalam meja penguasaan dunia yang sekarang sedang menata dunia…Semakin banyak Soekarno, semakin lekas Republik ini hancur.”
Saya dapatkan dari http://blogyusariyanto.wordpress.com
Alasan itu juga yang digunakan oleh kolonialis lainnya. Kita, pada akhirnya, hanya jadi objek bagi mereka.
Tapi, saat ini di Belanda, imigran Afrika yang dulu cuma obyek itu bisa bersuara. Karena sistem politik mereka yang demokratis itu tidak xenophobic. Beda dengan Perancis yang sempat rusuh (jelasnya baca Alasan Dua: Anne Frank, di atas)
Thanks for coming!
March 27, 2009 at 2:43 am
berat kali! tapi cukup dapat dicerna…