Parade Kebahagiaan di Facebook
March 21, 2009
I just had another epiphany about Facebook
Jadi, ini dari rapat beberapa waktu lalu. Seorang teman bilang, “Argh, gw panas banget deh ngeliat foto anak-anak <blip> pas lagi HNMUN di Facebook. Pokoknya gw harus nyusul!” HNMUN itu Harvard National Model United Nations, sudah pasti bukan di Indonesia. Dan teman saya memang sedang punya kesempatan untuk nyusul melalui acara yang tidak kalah prestise. Acaranya akan berlangsung di New York, beberapa saat lagi.
Mungkin kalau dia sudah sampai New York, bakalan foto-foto juga.
Well, di Facebook memang banyak pajangan foto seperti itu kan. Kalau kebetulan di Perancis, ya foto kita di depan Arc de Triomphe. Kalau kebetulan sedang melawat ke Inggris, ya foto jalan di Abbey Road ngikut The Beatles. Kalau belum bisa ke luar negeri, ya foto di Kawah Putih terpaksa cukup.
Orang-orang yang punya account Facebook kebanyakan berlomba-lomba menunjukkan apa yang telah mereka capai. Dengan alasan masing-masing. Saya tidak tahu alasannya, tapi saya tahu kalauu yang saya lihat di Facebook adalah pameran kebahagiaan.
Semua foto tersenyum, semua orang sukses, semuanya bahagia.Yang jadi masalah adalah orang-orang yang tidak bahagia, atau belum sebahagia orang lain di Facebook.
Saat kebahagiaan ditakar dengan kesuksesan dan dengan liar dipamerkan, akan ada perhitungan-perhitungan yang dilakukan. Seperti iklan produk kecantikan, kalau kita sudah dijejali oleh bentuk yang dibilang cantik tiap hari… besar kemungkinan kita ingin menjadi seperti mereka, dan mulai mengisi tagihan bulanan dengan berbagai produk yang… yah, yang tidak bisa saya jelaskan karena saya baru membedakan sabun muka dengan sabun badan sesudah kuliah.
Kalau perhitungan sudah dilakukan maka di hati akan muncul perasaan khusus tentang pencapaian orang lain, yang membuat teman saya ‘panas banget’ itu. Yang melihat gelas setengah penuh bilang kalau itu motivasi untuk kita supaya bisa menjadi lebih baik. Yang melihatnya setengah kosong akan menuduhkan sirik.
Buat saya, kalau itu membuat kamu bahagia, ya lakukan saja. Asal jangan diktekan kebahagiaan kamu pada saya. Karena saya sudah cukup puas dengan menulis, belajar, dan hal-hal tidak penting lain.
Cheers!
P.S : Saya belum pernah ke luar negeri sama sekali. Dan, karena saya mahasiswa HI Unpad, cukup banyak juga teman saya yang bolak-balik ikutan pertukaran. Tapi, buat saya sih ga masalah. Kalau saya harus terbang trans-pasifik, ya saya akan terbang. kalau tidak, masih ada yang bisa saya lakukan di Indonesia




March 29, 2009 at 2:37 am
hehe, gw suka tulisan yg ini!
March 30, 2009 at 2:58 pm
nuhun med, gw juga suka sama tulisan ini *semua bisa masuk blog ini -narsis.adiwena.wordpress.com*
March 29, 2009 at 2:19 pm
Ada analisa untuk orang yang memajang fotonya, tapi yang jelek jelek… masuk golongan yang mana tuh?
March 30, 2009 at 2:55 pm
Golongan tanpa teman
April 1, 2009 at 3:25 am
aha, tempo ari saya terdorong posting soal fesbuk, karena ada seorang kawan menilai orang yg pamer di internet itu tidak bahagia di kehidupan nyata.. ;) yah, kebahagiaan kita sendiri yg nentukan tho?
– kawah putih yang di ciwideuy itu keren, lagi… banyak yg poto pre-wedding di sana :D
April 5, 2009 at 10:19 am
setuju mpok, hidup kita ya make filosofi kita. Yang penting bahagia [asal jangan nglupain orang lain saja :D]
April 28, 2009 at 12:17 pm
hahahahaha, seperti biasa, tulisan yg bagus bikin ketawa sekaligus merenung.
semua orang butuh publisitas untuk eksistensi diri.
Gak smwa orang indo perlu keluar negeri. Tapi klo Aa Wirya mah tinggal nunggu waktu ajah.
sukses
April 29, 2009 at 7:29 pm
ha ha ha… thanks sa. Always so modest :)