Maaf, saya bohong. Di Palestina belum ada kedamaian, mungkin tidak akan ada hingga beberapa dekade lagi.

Di sini diberitakan kalau pemimpin Hamas, Khaled Meshal, menginginkan

“]kalau kamu penasaran sama muka mas Khaled [foto dari http://upload.wikimedia.org]

kalau kamu penasaran sama muka mas Khaled [foto dari http://upload.wikimedia.org

perjanjian damai yang dibangun di atas dua hal. Pertama, negara Palestina yang berdiri di atas wilayah yang diduduki Israel sesudah perang 1967. Kedua, Israel harus mengizinkan pengungsi Palestina kembali ke wilayah Israel, menjadi penduduk Israel. Dua hal ini sejalan dengan solusi yang dimajukan oleh Liga Arab dan Mahmoud Abbas, presiden Otoritas Palestina (Palestine Authority)

Wow, dia tidak bicara tentang penghancuran Israel sekarang. Kemajuan?

Kalau saya Yahudi Israel

Nanti dulu, coba kita lihat dari sudut pandang orang Yahudi-Israel. Di  bagian ini saya akan menjadi orang Yahudi. [Aduh! Hei, siapa yang ngelempar batu? Jangan mulai intifada di blog ini!! Saya cuma pura-pura!!!] *batuk-batuk*

Pertama, kita lihat dulu pernyataan lanjutan dari Khaled Meshal tentang syarat tambahan yang harus dipenuhi,

On the two-state solution sought by the Americans, he said: “We are with a state on the 1967 borders, based on a long-term truce. This includes East Jerusalem, the dismantling of settlements and the right of return of the Palestinian refugees.” Asked what “long-term” meant, he said 10 years.

Dan,

Regarding recognition of Israel, Mr. Meshal said the Palestinian leader Yasir Arafat and Mr. Abbas had granted such recognition, but to no avail. “Did that recognition lead to an end of the occupation? It’s just a pretext by the United States and Israel to escape dealing with the real issue and to throw the ball into the Arab and Palestinian court,” he said.

Mazeltov! Apa dia pikir Yahudi bego? Kami ini pintar, buktinya dunia nggak akan pernah melihat nuklir kalau nggak ada Yahudi!!

Buat Meshal, catat, kita tidak akan pernah menandatangani kesepakatan macam itu. Bagi saya tidak masalah kalau kami mundur ke batas pra-1967, itu harga yang pantas untuk perdamaian. Tapi perjanjian itu tidak akan memberikan perdamaian.

Meshal, atau Hamas, menginginkan sesuatu yang tidak dapat kami berikan: memberikan mereka kesempatan untuk membantai keluarga kami suatu saat nanti. Sepuluh tahun masa gencatan senjata ditambah keengganan Hamas untuk mengakui Israel berarti negara yang mereka dapatkan akan menjadi dasar pembangunan kekuatan militer mereka. Mereka akan menambah jumlah roket dan granat, dan sepuluh tahun kemudian melemparkannya ke rumah-rumah kami.

Dan kembalinya pengungsi Palestina ke sini membuat saya sangat khawatir. Mereka membenci Yahudi. Kami mengusir mereka. Dan dalam pengasingan mereka membuka internet dan melihat video bahwa kami terus menyiksa anak cucu mereka. [dan mereka menolak untuk melihat video anak cucu mereka melempari rumah kami dengan roket]

ini yang mereka baca tiap hari

ini yang mereka baca tiap hari

Saya bukan pendukung partai-partai kanan yang kontra orang Arab di Israel. Tapi, saya juga bukan pendukung orang-orang Arab itu. Saya sering merasa takut tinggal di samping rumah Muslim Arab, takut tenggorokan  sayadigorok oleh mereka.

Panggil saya paranoid. Tapi ini paranoia dengan pembenaran yang baik!

Dengan dua syarat macam itu, saya tidak akan mengakui sebuah negeri Palestina. Karena negara itu akan menjadi predator yang efektif memangsa keluarga saya.

Shalom


5 Responses to “Akhirnya, damai di Palestina!!!!!!”

  1. yuher Says:

    bukan aku yang lempar tadi Wir…
    bener.. ^^

  2. budi Says:

    Akhirnya (bicara tentang) damai di Palestina!!! hihihihhi

    mungkin saja ada orang2 seperti yang diceritakan dengan sangat hidup oleh mas wirya di bagian-bagian akhir,,seperti juga ada orang2 yang sudah sangat jenuh dengan konflik,,mereka, seperti ibu2 yang kesulitan mendapatkan air bersih untuk membuat sup bagi anak2nya, para pemuda yang tiap malam harus belajar di bawah terang cahaya lilin,,tidak untuk membuat posisi yang bias – seperti Joe Saco pernah bercerita kalau orang2 Kristen dan Yahudi (?) Israel yang mendukung perdamaian juga seringkali menjadi target kekerasan kaum garis keras Israel – dengan berbicara pada nada yang selama ini digunakan oleh teman2 yang ingin mencurahkan simpati pada rakyat Palestina,, dan juga, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya,,warga Israel baik yang karena sering menjadi korban roket ataupun memang dari dalam lubuk hatinya menghendaki hidup berjalan sebagaimana mestinya dalam kedamaian,,

    hanya mengutip dari apa yang saya baca tadi sore (kolom tajuk rencana (?) Koran Kompas yang sudah basi), Israel memang tidak memiliki keinginan untuk menciptakan perdamaian. Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, solusi 2 negara jelas2 ditolak oleh Israel (jangankan memikirkan tentang wilayah 67, 73 atau tahun berapapun ada perubahan wilayah kekuasaan,,mendengar wilayah Palestina untuk dua negara yang hidup berdampingan saja tidak pernah menjadi opsi yang terbuka bagi mereka [para pemimpin Israel (?)]. Kedua, Jerusalem akan terus dikuasai Israel. Saya pikir sebuah terobosan yang fair,,dan bukan barang baru,,bahwa Jerusalem menjadi kota internasional di bawah PBB or dibagi 2: Jerusalem Barat untuk Israel, Timur untuk Palestina, kota tua di bawah pengawasan Internasional. Bukankah keduanya menginginkan Jerusalem? Ketiga, masalah pemukiman dan tembok perbatasan. Hingga kini Israel masih meneruskan program pemukiman dan tembok perbatasan yang menjadikan orang2 Palestina tidak bebas bergerak. Seperti mas wirya yang kalau dari Cinunuk mau ke BIP harus lewat Brebes, belok kanan ke arah Kuningan, terus ke selatan hingga mencapai Nagreg, baru bisa masuk lewat Cileunyi. Itupun kalau pintu tolnya dibuka!

    Yang paling penting adalah,,menurut saya,,kebanyakan generasi sekarang, terutama generasi mudanya,,bukanlah orang2 yang merasa perlu dengan berkeras hati mempelajari konteks historis dari konflik yang menyelubungi mereka – baik pemuda Palestina maupun Israel – secara menyeluruh. Sehingga, bisa saja kebijakan (wisdom) yang hendak digambarkan mas wirya dalam memandang konflik ini sangat tidak mereka tangkap. Yang mereka tahu adalah, sejak mereka lahir konflik sudah ada. Mereka korban – atau setidaknya memang lahir dan hidup dalam kondisi konflik yang sudah terbangun begitu lamanya. Jadi, jika “Kalau saya orang Yahudi” menceritakan betapa takutnya orang Yahudi terhadap keberadaan negara Palestina di masa mendatang,,maka tidak bolehkah anak2 Palestina merasakan hal yang sama?

    Sangat sepakat jika “2 negara yang hidup berdampingan” belum tentu – dan nampaknya tidak mungkin – menjadi satu-satunya solusi bagi perdamaian. Akan tetapi, untuk seseorang sekaliber mas Wirya yang mampu memandang dari sudut pandang orang Yahudi Israel (bukan tidak mungkin ada orang2 Yahudi Palestina), memandang kata2 Meshal di atas sebagai sebuah petunjuk atas ketidakmungkinan perdamaian di masa mendatang adalah sebuah kerlingan mata yang manis – satu mata terbuka dan satu lagi tertutup,, seperti seorang wanita yang sedang menggoda pria gagah seperti saya,,

    • adiwena Says:

      mas budi… bagian yang, “sebuah kerlingan mata yang manis – satu mata terbuka dan satu lagi tertutup,, seperti seorang wanita yang sedang menggoda pria gagah seperti saya,,” membingungkan :D

      Saya nulis ini biar orang2 yang berada di pihak Palestina dan atau Hamas nggak membabi buta mendukung semua proposal yang dilemparkan Palestina&/Hamas.

      Bukan buat menggoda pria gagah. he he

  3. budikurniawans Says:

    hahahaha,,mm,,aku ke-ge-er-an kali ya,,,merasa tergoda gt

Leave a Reply