Matahari sudah terbenam, Adiwena terbangun oleh suara iqomat. Matanya baru saja terbuka saat dia mendapati dirinya dikelilingi oleh kegelapan total. Badannya melenting ke posisi duduk, kaget oleh situasi yang tak terduga ini. Ketiduran memang menjebak, karena walau memberikan kenyamanan tiba-tiba, dia juga memberikan efek samping yang tidak diharapkan penderitanya. Salah satunya adalah hilangnya tiga jam di luar rencana. Ketika si penderita bangun—tiga jam kemudian—dia akan berada dalam lingkup waktu yang berbeda. Dan dalam beberapa situasi, selisih waktu tiga jam dapat membawa banyak perubahan, mulai dari yang tidak diinginkan hingga yang tidak menguntungkan.
Ketiduran yang dialami Adiwena kali ini adalah salah satu yang membawa perubahan tidak diinginkan sekaligus tidak menguntungkan.
“Jam.. enam?”, bisik Adiwena saat dia melihat angka yang muncul di layar telepon selulernya.
Dia menghela nafas perlahan. Jam enam berarti dia akan sampai rumah jauh lebih lama dari seharusnya. Jam enam berarti dia terpaksa mengambil rute yang tidak akan dilaluinya pada hari biasa. Karena jam enam sore pada hari Sabtu di kota Bandung berarti jalan raya akan dipenuhi oleh orang-orang-dari-kota-yang-seharusnya-tak-diberi-nama, para penduduk kota tetangga yang mencari penghiburan absurd di kota Bandung.
Adiwena kembali menghela nafas, panjang dan berat. “Lebih baik aku shalat dulu”, ujarnya. Entah ditujukan ke siapa.
TAMAT
Bikin cerpen lagi duonk …. Uhuk uhuk ….