Pengantar Tidur

…karena saya menulis malam-malam

Shalat hari Jum’at

Suara orang membaca Al-Qur’an terdengar di masjid tetangga. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari suaranya, tapi lorong asrama memantulkan suara itu di dinding-dinding, hingga saat dua makhluk penghuni kamar B 311 mendengarnya, yang mereka dengar adalah gaung yang bermain staccato dengan suara si masjid tetangga. Sebentar lagi waktu dzuhur, saat untuk shala Jum’at.

“Jo, gue shalat duluan ya.”

“Iya.”

Wirya tahu percuma menunggu Bejo. Dia akan shalat saat dia ingin shalat, bukan karena dia tidak percaya pada agama atau Tuhannya, hanya saja, dalam pikirannya agama dan Tuhan terletak dalam sudut semesta religi yang berbeda dari kebanyakan manusia.

Karena itu, saat Wirya telah berpakaian rapi dan bersiap untuk mengetuk rumah Tuhan, Bejo masih mengetukkan jarinya di atas keyboard komputer, bersiap untuk mengalahkan raja setan dari neraka.

“Salam buat Tuhan sama malaikat, Wir!”

“Lu sampaikan sendiri lah”

Bejo masih tertawa saat Wirya menutup pintu kamar. Bejo tidak sadar, tentu saja, saat pintu itu ditutup. Perhatiannya tertuju pada gerakan-gerakan raja setan di layar komputer, karena di sana api dan ketakutan telah menjelma dalam resolusi 1366×768. Ini adalah percobaan Bejo yang ketiga. Jika gagal, dan kemungkinannya besar untuk Bejo gagal, dia akan mengulanginya lagi. Shalat terpaksa harus menunggu lain kali.

BLAR!

Tiba-tiba petir menyambar. Sangat, sangat dekat. Jendela kamar bergetar. Gendang telinga bergetar. Gelas jatuh dari meja. Bulu kuduk merinding.

Bejo menghentikan permainannya sejenak untuk mengambil gelas yang jatuh. Air yang tumpah dilap dengan celana dalam kotor. Sekalian dicuci nanti sore, pikir Bejo.

BLAR!

Petir kembali menyambar, kali ini diikuti mati lampu. Bejo terdiam, matanya menatap layar komputer yang sedang hitam. Dia terpaksa mengulangi perjuangan menaklukkan raja setan saat lampu menyala kembali.

Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya sekarang kecuali tidur menunggu…

BLAR!

Bejo terlonjak kaget. Petir kali ini menumbangkan pohon palem. Dahannya jatuh hanya beberapa meter dari jendela kamar Bejo. Genting-genting berjatuhan. Bejo menarik nafas dalam-dalam…

BLAR!

Bejo akhirnya berteriak, “Iya, iya. Shalat Jum’at kan? Nggak usah marah dong.”

Dia beranjak untuk mengambil air wudlu. Petir tidak terdengar lagi pada hari itu.

——————

P.S: Iya, ini cerpen lama saya. Dan saya terbitkan ulang cuma dengan tambahan satu kalimat baru. Tadi waktu saya nemu cerpen ini rasanya gatal ingin menambahkan kalimat itu sih,

One Comment on “Shalat hari Jum’at

  1. antartika
    April 30, 2011

    kamar B311? :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 29, 2011 by in cerita pendek, sambil lalu.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 218 other followers