Bejo tidak tampak beda dari penghuni kafe lainnya. Seperti pria di samping kirinya, dia ikut memakai t-shirt. Seperti perempuan di kanannya, dia juga memakai jeans. Kalau ada yang membedakan, mungkin hanya warna kulitnya. Sebagai orang Jawa, kulit Bejo berwarna cokelat dengan sapuan gelap di sana sini, menunjukkan kalau dia sering menghabiskan waktu di bawah matahari.
Walau orang Melayu dan kawan kawan bukan makhluk langka di London—maupun kafe pinggir jalan tempat Bejo duduk—hari itu dia sendiri. Tapi itu bukan masalah. Bejo sudah biasa sendiri. Kesendirian yang kadang datang sudah menjadi resiko pelajar asing seperti Bejo.
Lantas, kenapa Bejo tampak gelisah? Kenapa dia sering melempar pandangan dari Kindle yang sedang dibacanya? (Ataukah dia hanya pura-pura membaca Kindle supaya tampak memiliki kesibukan?)
Kindle, enam inci, wi-fi, tanpa keyboard. Buku yang ditampilkan di layarnya tampak rumit. Namun buku apapun yang dibaca Bejo tidak perlu dijelaskan di sini karena dia sendiri kelihatan tidak peduli.
Perhatian Bejo sepenuhnya tersita oleh pria yang baru saja datang.
“Hei Bejo!”, tangan melambai penuh semangat.
Bejo tersenyum lebar, “Hei dit! Apa kabar?” Dia berdiri dan menjabat tangan pria yang ternyata Adit.
“Baik, baik. How are you man? How’s your work?”
“Alhamdulillah, I have nothing to complain brother.” (Kalau dilihat dari bentuk muka di mana Adita sudah pasti ganteng sementara Bejo masih butuh pengakuan lebih lanjut, mungkin dapat disimpulkan kalau mereka bukan saudara kandung, dan kata brother digunakan secara figuratif).
Adit tertawa kecil. “You never have anything to complain, man. I want to know details. Details!”, balasnya. Dia ternyata sudah membeli kopi yang sekarang ditaruh di atas meja.
“Hidup gue gitu-gitu aja kok”, ujar Bejo diiringi senyuman. “Tapi kalau lo mau detail sih…”, senyumnya makin lebar. Kelihatannya Bejo jenis yang senang menggantungkan orang di tepian gosip.
“Apa, apa? Fill me in.”
“Anak kedua Bambang baru lahir, dit.”
“Hah, Alhamdulillah. Cowok atau cewek?”
“Cowok. Dan…”, Bejo kembali tersenyum lebar. Adit tidak tersenyum, tapi dia memajukan kepalanya yang lebar.
“…namanya Bejo!”
“Anjrit!” seru Adit. “Serius lo.”
Bejo menganggukkan kepalanya.
“Wow, dia pasti kangen banget sama lo.”
“Yah, namanya sudah lima tahun nggak ketemu, dit. Pas gue balik tiga tahun lalu kan nggak sempet ketemu.”, kata Bejo. Si Bambang mungkin teman lama mereka. Dari nada bicaranya serta penamaan anak keduanya, bisa disimpulkan kalau dulu Bambang berteman akrab dengan Bejo dan, mungkin, Adit.
Setelah diam beberapa saat, Adit melanjutkan bicaranya, “Lo inget nggak sih, dulu kita janji mau sama-sama belajar sampai jadi doktor di sini, di UK?”
“Iya.” Bejo lalu melihat ke sekeliling mereka, seakan-akan di sana ada Big Ben, British Museum, Trafalgar Square. “Yah, sekarang mah sudah susah. Dulu dia kan milih buat nikah sebelum lulus kuliah”, ujar Bejo sambil matanya masih menerawang.
“Sayang ya,” timpal Adit. “Padahal dia punya potensi. Kalau dia dulu memilih kuliah, mungkin sekarang dia bisa ada di sini. Minum kopi, baca kindle, jadi mahasiswa Ph.D.”
“Sayang?”, tanya Bejo.
“Iya, sayang. Prioritas dia bergeser sih.”
“Dit,” Bejo masih tersenyum, sekarang tipis, “Bambang sekarang punya istri dan dua anak. Dia punya kerja tetap, yang walau kita anggap nggak wah, tapi tetap ada duit halalnya. Dan, tiap dia pulang, dia nggak perlu sendirian lagi. Kita tahulah nggak enaknya sendiri.”
Lanjut Bejo, “mungkin prioritas kita yang salah, dit.”
Adit menghela nafas. “Yeah, you have a point there. Dia dan kita sama-sama mengorbankan sesuatu.”
“Dan tidak ada pengorbanan yang lebih mulia dari yang lainnya,” balas Bejo.
Adit menatap Bejo dalam-dalam, lalu berkata, “selama niatnya tetap baik ya?”
“Mungkin.” Bejo masih tersenyum, mungkin otot pipinya kram.
“Tapi, menurut gue, walau pengorbanan kita nggak lebih mulia, yang pasti lebih berat.” Adit berbicara dengan muka serius, “soalnya Bambang berkorban sambil bikin anak…”
“…dan kita berkorban sambil bikin paper!” Ini Bejo yang meneruskan ucapan Adit.
Sore hari di London pun diwarnai oleh tawa mereka. Tapi bagi mereka, hari itu mereka tidak sedang di London, melainkan di Jatinangor, ditemani gelas kopi Kapal Api, alunan gitar, dan senandung yang biarpun fals tapi tetap asyik.
***
Ditulis untuk teman lama yang dulu sering membaca blog ini.
Hei, apa kabar?
keren wir….pie kabare mas?
Sae, kang. Ente gimana? Kapan nikah? *ujug ujug*
wow, the story is inspiring .. good one kang .. :D
ASik, ada yang mau nikah, nih :D