This Song of Fredom…

January 9, 2008

 

 marley

 

“O’ pirates, yes they rob I

sold I to the merchant ship

minutes after they took I

from the bottomless pit”

Empat baris kalimat itulah yang menjadi pembuka Redemption Song, dan memulai perhatian saya terhadap seorang sosok: Bob Marley. Saya mendengar lagu itu dalam album Legend, album Marley yang berisikan koleksi-koleksi single-single terbaik miliknya. Saat mendengarkan album itu… I was, and still am, mesmerized. Karena itu sekarang saya ingin membagi rasa takjub saya terhadap Marley melalui tulisan ini.

”but my hands are made strong,

by The Hand of The Almighty.

We fought in this generation,

triumphantly…”

Kekaguman itu dimulai…

Saya bukan musisi, jadi saya tidak bisa berkomentar banyak tentang musiknya. Kekaguman saya terhadap Marley, terutama, ada pada lirik yang luar biasa. Melalui lagu-lagu ciptaannya, Marley bercerita tentang banyak hal dengan kejujuran. Ia pernah meneriakkan, ”Freedom gets my way, one day”, dalam I Shot the Sheriff. Dalam lagu itu ia menentang otoritas bukan sekedar mencari ketenaran sesaat. Tapi ia sadar akan kebobrokan Jamaika tahun 70-an, dimana kekisruhan politik hanya berhasil dalam menelantarkan rakyat. Dari pengalaman era tersebut, muncul sisi politis Marley. Seperti saat ia meminta untuk, “Don’t give up the fight!” dalam ”Get Up, Stand Up”, atau saat menunjukkan sisi social-Darwinism-nya dengan sindiran: “Only the fittest of the fittest shall survive, stay alive!” di Could You be Loved”, dan tentu saja saat dia menembak Sheriff dan berteriak, “If I am guilty, I will pay!!” dalam “I Shot the Sheriff”.

Marley adalah sosok yang tumbuh dari kemiskinan. Ia tahu rasanya kelaparan, minum air kotor, hingga tinggal di bawah atap seng yang bocor. Ia tidak pernah mendapatkan kemewahan-kemewahan yang sekarang kita dapatkan. Karena itu puisi dalam liriknya muncul dari kesederhanaan. Kesederhanaan yang dapat diterima semua orang, bernafas dengan jernih di setiap melodi. Dalam Three Little Birds, misalnya, Marley hanya menyanyikan beberapa baris lirik saja, sungguh lagu yang sangat bersahaja. Anehnya, lirik lagu itu terasa sangat bernas. Saat mengerjakan tugas-tugas, saya sering menggumamkan lagu ini sambil memejamkan mata, berulang-ulang seperti mantra: “Don’t worry about a thing, ‘cause every little thing gonna be all right.” (sambil berharap, saat membuka mata tugas saya sudah selesai dengan ajaib!)

Mungkin karena kesederhanaan itulah saya dapat menerima lirik Marley. Saat dia bertanya, ”Where is the love to be found?… In this concrete jungle” dalam Concrete Jungle, saya selalu merasa Ia bersungguh-sungguh menanyakannya. Kota besar yang sesak oleh gedung pencakar langit pastinya adalah tempat pengasingan bagi Marley muda. Atau, coba kita bandingkan ”I Shot the Sheriff” versi Marley dengan cover version milik Eric Clapton. Clapton pernah merajai tangga lagu Eropa dengan lagu itu, jadi kualitas gubahannya sudah tidak perlu diragukan. Tapi, sebagus apapun hasil gubahan Clapton, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa didapatkan oleh dia: perasaan nyata (sukar dijelaskan, kurang lebih: a feeling which surfaced when you know that a song is for real). ”I Shot the Sheriff” muncul dari pengalaman empiris Marley saat berhadapan dengan polisi korup (yang, seperti bisa disaksikan dalam Carandiru atau Cidad de Dei, dapat memberikan pengalaman yang sangat menyebalkan). Clapton bahkan tidak punya keberanian untuk menyanyikan satu bait, yang digunakan Marley untuk menunjukkan apa yang ada di pikiran terkutuk para polisi korup, ”kill them before they grow..”

“Won’t you help to sing,

this song of freedom?”

—Penutup

Robert Nesta Marley wafat dalam usia muda, 36 tahun, tapi musiknya terus hidup. Kalimat barusan memang terdengar klise sebagai penutup sebuah tulisan. Sayangnya, dalam penulisan kali ini, susah untuk mencari kalimat yang lebih tepat. Kalimat yang dapat menjelaskan kenapa banyak pemuda memakai T-Shirt bergambar wajahnya, menyanyikan lagunya, atau menulis tentang dirinya. Karena Bob Marley telah menjadi legenda, dan kalau saya diijinkan membingkai legendanya, saya akan memilih bingkai yang sama dengan gambaran Marley dalam benak saya. Sebuah gambar tentang kesederhanaan, dibingkai dengan bersahaja

’Cause all I ever had,

redemption song, redemption song.

This song of freedom,

song of freedom…”

an excerpt from –“Redemption Song”

MTV adalah ikon budaya populer, saking populernya stasuiun TV ini hingga dijadikan penanda munculnya generasi baru!

Saya dan teman-teman lain yang lahir pada akhir 80-an, saya yakin, termasuk ke dalam generasi ini. Katanya, kita-kita yang termasuk ke dalam generasi MTV ini adalah makhluk yang senang kecepatan. Menyukai yang sifatnya instan. Selalu ingin membuka pintu harta dengan hanya meneriakkan “Buka wijen!!!”.

Sifat itu muncul dengan segala konsekuensinya. Termasuk yang ingin saya bahas sekarang, yaitu hubungan antara generasi MTV dengan pilihan-pilihan yang diambil dalam mencapai energy security… atau sekalian saja, environmental sustainability

Generasi instan juga menginginkan solusi instan, bahkan untuk masalah yang membutuhkan pendekatan bijak: energy security. Simpulan ngawur ini saya ambil dari sejumlah diskusi dengan sejumlah orang di sejumlah tempat pada sejumlah waktu yang berbeda (dan dengan sejumlah materi walau dengan satu tema). Hasil penjumlahan itu… ya, yang barusan.

Pada salah tiga diskusi, misalnya, saat saya secara tidak sengaja terlibat dalam diskusi tentang energi alternatif. Dalam tiga diskusi kecil yang berbeda, dengan tiga komposisi manusia yang tidak sama, kebanyakan peserta diskusi mengajukan satu solusi: energi nuklir. Sebagai catatan, saya adalah penentang penggunaan energi nuklir.

Alasan yang mereka kemukakan, terutama, adalah cost effectiveness energi nuklir dibandingkan dengan penggunaan energu alternatif lain. Saat saya mengajukan argumen klasik penentang nuklir dengan mengungkit Chernobyl,  tidak ada satu orang  pun yang tidak tahu kasus tersebut. Tapi, kemudian mereka memberikan argumen balasan, kali ini argumennya mulai beragam. Tapi, kalau saya diijinkan merangkumnya, intinya adalah: presentase kecelakaan nuklir lebih rendah, bahkan dibandingkan energi konvensional seperti batu-bara ataupun diesel.

Ha! Presentasi yang kecil dengan akibat besar. Bahkan saat kemungkinan kegagalan nuklir adalah 0,00001% (atau 1:1000000, 1 kegagalan tiap 1 juta operasi) saya tetap akan menentang nuklir. Karena saat kegagalan itu terjadi… well, you know for yourself what a nuclear radiation can do…

Argumen keuntungan ekonomi dan keterjaminan pasokan energi, dalam hal ini menjadi argumen yang simplistik. Karena ada hal-hal lain yang sering tidak dihiraukan oleh para ekonom(?), sebut sajalah isu-isu human security.

Satu contoh simplifikasi isu lain: saat SBY mempromosikan biofuel  (atau, lebih spesifiknya, bio-ethanol). Argumen beliau adalah biofuel akan membantu keterjaminan energi, selain itu harga biofuel yang sedang menignkat di pasaran dunia akan menaikkan kesejahteraan petani. Tapi, pertanyaan-pertanyaan akan muncul, Pak Presiden, karena 1)biofuel sama mahalnya dengan bahan bakar fosul (kata penelitian di Minnesota), dan 2) bagaimana mungkin kesejahteraan petani meningkat padahal produksi biofuel hanya dikelola oleh pabrikan besar. Jika demikian, bukankah lebih baik memastikan food security bagi petani?

Entah dari mana Presiden kita mendapatkan simpulan sederhana seperti itu. Tapi, bagi kita, sebagai manusia-manusia yang kelak mengemban nasib dunia di pundak kita, penyederhanaan masalah bukanlah solusi. Lebih baik menghadapi kenyataan yang pahit untuk kemudian mencari solusi.

Karena itu, katakan tidak untuk nuklir!!! (Eh…?)

P.S: ada tulisan lain tentang nuklir di sini.

Rekomendasi tulisan….

November 17, 2007

buka link ini

Yang menulis teman saya… Tentang kisah cinta beliau. Saya tidak yakin genre yang terlintas oleh beliau saat mulai mengetik: drama atau komedi? Tapi tulisannya lucu, jadilah saya rekomendasikan.

Bersabarlah dengan sistematika non-linear yang tersaji, karena pada akhirnya anda akan tersenyum, atau bahkan tertawa aneh!!

a sigh…. *sigh*

October 12, 2007

penulis-penulis hebat sering mendapatkan inspirasi mereka dari rasa marah, galau, resah, hingga basah. Oke, mungkin tidak dari basah… entah kenapa saya tuliskan kata tersebut. Berhubung saya sedang merasa….Errr…. upset, saya akan menulis. Saya tidak tahu apa yang akan saya tuliskan, hanya akan duduk dan mulai mengetik. Mengetik dan mengetik. Tanpa banyak renungan–karenaberpikir sedang terasa menyakitkan–berharap akan menghasilkan sesuatu pada akhirnya. Sampah atau emas, saya tidak peduli. Saya sedang menulis, saat ini, untuk menggantikan teriakan (AAARRRGGHHH!!!!) .

Kita lihat saja kemana ini akan membawa saya… ha.. ha.. ha..

Mari kita mulai dari: penulis masa lalu. Prosa, puisi, lirik lagu, yang mana?.

Lagu… saya pilih lagu. John Lennon mungkin? Apa lagi yang bisa dikatakan tentang dia? A working class hero who knows to write stuff that get into your heads like million of storm. He made the rawest and most honest record i’ve heard-ever: The Plastic Ono Band. Dari empat Beatles, dia yang paling jenius dalam penyusunan kata. Sayang dia cepat meninggal, dan sayang sekali dia menjadi hippie.

Warisan Lennon yang paling berharga, bagi saya, adalah: well… The friggin’ Beatles!!!!! (yah, 25 % dari The Beatles setidaknya)

Hmm… belum terasa baikan

Baiklah, mari menulis tentang hal lain, tentang: oh f*ck!!

kata terakhir, kata paling kurang ajar dalam tulisan ini, kata yang bisa mengantarkan saya kepada satu dosa lagi, adalah kata yang sedang saya pikirkan *evil grin*

Huaaa….

September 14, 2007

huaaa… lagi2 lupa transfer tulisan ke flazdix.

 Heran, muka 17 ko’ otak 71….

ada pendapat dari Niall Fergusson, sejarawan Harvard.

Linknya saya dapat dari blognya Pak Mankiw, http://gregmankiw.blogspot.com/