Ardhi baru membagi sebuah model yang membantu kita berpikir ulang tentang kata bangsa dalam konteks Indonesia. Begini modelnya:

Saya akan meminta kamu untuk membayangkan sesuatu, dan model ini hanya akan berguna kalau kamu benar-benar membayangkannya.

Kalau kamu orang Indonesia, coba bayangkan Indonesia seratus tahun dari sekarang. Bayangkan Indonesia yang jauh berbeda dari saat ini. Indonesia yang maju, makmur, dan sejahtera.

Bayangkan kamu berada di dalam kota kesayanganmu. Lihat trotoar yang lebar dengan pohon-pohon yang rindang. Lihat diri kamu berjalan di sana. Di kiri dan kanan kamu ada orang-orang lain dengan baju yang indah. Semuanya tersenyum. Tidak ada pengemis. Tidak ada mobil yang mengeluarkan asap menyesakkan dari knalpotnya.

Sekarang, bayangkan sebuah taman yang akrab bagi pejalan kaki. Pepohonan yang tinggi besar berpadu serasi dengan lapangan terbuka. Kamu bisa memilih untuk duduk di salah satu bangku sambil menikmati matahari atau berjalan di bawah teduhnya pepohonan. Taman itu penuh oleh orang-orang lain yang sedang bersosialisasi. Ada yang berkumpul sambil membahas buku. Ada yang sedang bermain sepakbola di salah satu sudut lapangan. Semuanya tersenyum.

Sekarang… tutup matamu dan bayangkan semua yang sudah saya tuliskan. Bayangkan trotoarnya, bayangkan tamannya.

Tenang saja, tulisan ini tidak akan ke mana-mana.

Sudah selesai membayangkan? Gambaran yang indah dan menyenangkan bukan? Alangkah bahagianya kita kalau bisa menjadikan Indonesia menjadi tempat seperti itu.

Sekarang saya tanya pada kamu sekalian:

Apa ada orang Papua di antara orang yang kamu bayangkan? Atau, keturunan Tionghoa?

Saya baru baca satu lagi artikel yang bikin miris di BBCNews, “Bad Case of Baghdadophobia”

Isinya tentang pengalaman hidup didera ketakutan seorang jurnalis BBC di Baghdad. Bagaimana tidak takut, ancaman terhadap individu ada secara nyata dan konstan. Kegiatan trivial seperti pergi ke kantor sekalipun, sudah menjadi pemicu adrenaline.

I start my day by taking a bath and praying. I listen to the news while I have my breakfast, then I get dressed for work, and always kiss my wife and my children before leaving the house – everyone here does the same these days, because everyone knows when they leave home that they may not return.

Death lurks around every corner, and nobody is immune. Almost all the victims are innocent bystanders who wrongly think that because they aren’t in the government or military their chances of survival are greater.

Jujur, saya ngga bisa membayangkan merasa takut sama Bandung atau Jatinangor. Walaupun saya tahu tiap hari ada saja kegiatan kriminal di dua tempat itu. Tapi, bagaimanapun juga, itu Bandung dan Jatinangor! My place!!! Saya ngga bisa membayangkan apa yang dialami si penulis dalam artikel ini:

I think of the other threats to the commuter in downtown Baghdad. A box, a trash bin, an animal cart parked on the side of the road, a mentally ill person crossing the street, or even a stray dog, every one of these could have been wired with a bomb waiting to explode spontaneously or by a remote control.

Everything is unknown, everything is anonymous – the killer, the victim, and the means of the murder.

That broken-down car, why is it parked here? Where is the owner of that motorcycle? God knows how much I fear motorbikes, especially the fast ones, with two riders.

One of them drives the motorbike and the other one fires from a pistol equipped with a silencer.

Parah… Saya jadi merasa konyol. Saya dan teman-teman di HI sudah sering berdiskusi atau berdebat tentang Irak. Kapan pasukan AS seharusnya ditarik? Ataukah mereka seharusnya dipertahankan? Siapa yang akan ditempatkan mengisi vacuum of power kalau pasukan AS ditarik? Beserta apa, kenapa, dan bagaimana lainnya. Tapi, saya hanya berbicara saja. Sya nggak tahu dan nggak ngerti tentang apa yang terjadi. Saya dan teman-teman hanya membaca informasi yang ditawarkan oleh dunia informasi yang begitu luas di internet. Kami merasa marah, kami kesal, tapi tetap saja tidak mengubah fakta bahwa: KAMI TIDAK TAHU APA-APA.

Oke, saya tidak akan memerdebatkan metodologi atau apapun itu. Dalam penulisan ini, mereka tidak relevan. Saya sedang menulis tentang manusia. Manusia yang dikelilingi oleh ejawantah power dalam bentuk yang paling terkutuk.

Saya rasa, pengalaman manusia selalu menjadi bagian penting dalam teori-teori sosial dan politik. Terutama dalam kajian klasik seperti yang dilakukan Plato, Rosseau, Hobbes. (Walau dalam yang kontemporer pun juga dominan seperti Arendt, Rawls) Tapi, bukankah konyol, saat seorang pelajar culun seperti saya membincangkan pengalaman-pengalaman manusia di tempat yang berada di tempat sejauh ribuan kilo sambil minum teh atau kopi, dan berkata, “Well, yes, they are suffering, but let’s continue shall we?”

Yang saya maksudkan, di dalam diskusi-diskusi dalam ruang kelas… kita, atau saya, sering menjadikan pengalamn tersebut, penderitaan tersebut, nomer dua setelah pengejaran egois atas ilmu atau IPK atau sertifikat juara. Kita mengeksploitasi penderitaan orang lain untuk memenuhi egoisme kita dalam mencapai sesuatu. Kita ingin dikenal sebagai ahli tentang Irak atau Palestina atau Afrika; tentang feminisme, hak asasi manusia, atau  demokrasi, dan kita akan membaca banyak literatur dan berdiskusi dengan fasih dalam subyek tersebut. Kalau ada yang tidak setuju dengan pendapat kita, mereka goblog… kadang malah kafir. Kita pikir kita peduli, tapi peduli apa kita? Coba lihat ke dalam hati dan perhatikan, apa itu altruisme murni ataukah sweet bullshit?

Ah, lagi-lagi saya mulai melantur. Sudahlah, saya tidak akan membuat kalian bosan lebih lama dengan tulisan ini.

ada pendapat dari Niall Fergusson, sejarawan Harvard.

Linknya saya dapat dari blognya Pak Mankiw, http://gregmankiw.blogspot.com/

Perayaan 60 tahun kemerdekaan India, salah satunya, diisi dengan analisa seputar hubungannya dengan saudara dekatnya: Pakistan. Sekedar mengingatkan, saat ini Pakistan berada di bawah kepemimpinan totaliter Musharraf, sementara India menjalani demokrasi liberal dan menikmati kejayaan relatif di bidang ekonomi.Hmm…Kalau saya tidak salah, dulu, saat masa pra-kemerdekaan di India pernah muncul kekhawatiran akan adanya penindasan minoritas Muslim di India, salah satu yang mengkhawatirkannya adalah Nehru dan Gandhi. Berdasarkan kekhawatiran itulah Gandhi lalu mengusulkan Perdana Menteri pertama India diduduki oleh seorang Muslim. Sayangnya, pada akhirnya Muslim lalu memisahkan diri dan mendirikan negara sendiri, yaitu Pakistan (dulunya wilayah Pakistan juga termasuk Bangladesh).

Pendirian negara inilah yang, menurut saya setidaknya, memusingkan. Pakistan muncul—atau dimunculkan—tanpa konsep kenegaraan yang jelas, apakah akan didasarkan pada theocracy ataukah democracy, walau akhirnya Pakistan memilih untuk berjalan di atas jalur demokrasi parlementer. Sebenarnya sedikit mirip dengan Indonesia pada masa lampau, saat terjadi pertentangan antara yang ’nasionalis’ dan yang ’Islam’ (meminjam pengistilahan yang digunakan Tempo dalam edisi khusus Pergulatan Demokrasi Liberal. 1950-1959: Zaman Emas atau Hitam). Tapi, berbeda dengan Indonesia, Pakistan didirikan atas dasar tuntutan keagamaan. Sialnya, dalam negeri Pakistan sendiri belum terjadi sinergi antara pemerintah (atau kaum intelektual didikan kolonial?) dengan kaum beragama. Ketiadaan sinergi ini bahkan semakin memburuk di bawah rezim Musharraf, dimana terjadi tekanan pemerintah atas gerakan-gerakan keagamaan. Bisa dikatakan pengaruh pemerintah meluas ke Masjid, seperti saat di Eropa dulu kala terjadi intervensi terhadap Gereja (dan sebaliknya… intervensi oleh Gereja).  Tampaknya kebanyakan usaha menggabungkan sistem pemerintahan kontemporer dengan agama selalu berujung kegagalan. Agama pada akhirnya malah sering dijadikan pembenaran bagi pemerintahan yang korup ataupun otoriter. Menyedihkan. Membingungkan. Memuakkan. 

Pilihan yang muncul seputar hubungan antar agama-negara akhirnya berujung pada dua hal: 1) membentuk negara sekuler dimana agama bukanlah bagian terintegrasi dalam sistem pemerintahan (walau mungkin tetap menjadi kekuatan politik); atau 2) mengadopsi sistem lampau dan menerapkannya dalam konteks kekinian (ya, saya bicara tentang khilafah). Saya belum yakin akan keberpihakan saya. Saya merasa kedua sistem barusan masih perlu penyesuaian. Ini adalah keraguan, bukan kekufuran. (Kebodohan, mungkin) 

”Wah wir, yang penting dalam politik itu aksi. Kita terapkan dulu, nanti kebocorannya kita tambal di jalan sambil belajar.”, kata seorang teman. 

Tut…tut Watson. Waktu telah berbicara. Detik telah bertutur dengan kejamnya tentang ketidakpedulian kita untuk berpikir. Menghukum kita atas kemalasan, untuk ketidaksabaran. Tergesa adalah pengkhianat yang nyata. Sementara sabar adalah ketidakpastian, sebuah perjudian. Mungkin akan menjadi keuntungan. Bisa juga kutukan. Sebuah perjudian.