Garis tebal ditarik oleh pylox hitam di atas tembok kusam. Pertama dari bawah, lalu ke atas sambil membentuk garis-garis yang tidak lurus, dan ke bawah lagi. Tinta yang meluruh–tampaknya garisnya terlalu tebal–membentuk siluet seseorang yang mengacungkan tangan kanan ke atas. Di tengah-tengah siluet yang awalnya dibiarkan kosong kemudian diisi oleh tulisan “The Battle of Los Angeles”. Garis tulisannya tebal. Warnanya hitam. Grafiti ini menjadi sampul depan album seminal band Rage Against The Machine (RATM).  Nama mereka ditambahkan dengan rapi lewat komputer di atas siluet. Times New Roman.

Sebenarnya saya malas menulis tentang album ini. Saya bukan penggemar berat RATM. Album ini juga sudah terlalu terkenal tanpa harus diperkenalkan lagi. Siapapun yang melewati tahun 1999, saat album ini diluncurkan, dalam kemudaan pasti pernah mendengar album ini. Apalagi bocah seperti saya, kalau tidak pernah mendengarkan lagu jedang jedung grompyang seperti ini kok rasanya kurang… eh, gaul. [Akhirnya kata itu muncul juga di blog ini. Maafkan saya pembaca yang budiman, saya harap saya tidak berdosa]

Album ini muncul di radio pertama kali waktu saya SD. Kakak saya, waktu itu SMP, membeli album ini dan memutarnya di dalam mobil sepulang sekolah. Itu kali pertama saya mendengar album ini, dan lagu-lagunya terasa asing di telinga saya yang lebih akrab dengan Backstreet Boys. Oh, betapa masa-masa itu adalah jaman kegelapan.

Tapi, tidak urung saya tertarik dengan album itu. Kesan liarnya terasa sekali. Sayang waktu saya mau mendengarkannya lagi saya tidak berhasil menemukan kasetnya. Waktu saya tanya ke si kakak, ternyata sudah dia tukarkan dengan kaset lain milik temannya. Kalau tidak salah kaset The Beatles, tapi saya lupa album apa.

Apa boleh buat, sisa masa SD saya terpaksa diisi oleh boysband lagi. Oh, betapa masa-masa itu adalah jaman kegelapan. Oh, betapa masa-masa itu adalah jaman kegelapan.

Well, cerita panjang disingkat, beberapa bulan yang lalu saya nemu The Battle Of Los Angeles di Aquarius, Dago. Awalnya saya ke sana untuk ngambil Exodus-nya Bob Marley. Tapi, pas dipikir-pikir, di rumah sudah ada Legend dan Catch a Fire, dua-duanya album bagus dari Om Marley. Sedangkan RATM belum ada.

Karena dana membatasi kemampuan membeli CD, akhirnya saya hanya mengambil RATM saja. Hitung-hitung mencicil nostalgia sebelum tua. [?]

Keluar dari Aquarius dalam Karimun hitam eksotik, saya langsung memasukkan CD ke dalam pemutarnya. Saya nyaris menangis mendengarkan empat lagu pertama. Bulu kuduk saya benar-benar merinding.

Album ini album yang politis, bung! Maksud saya, album ini album yang politis! Lagu yang dimasukkan dalam album ini seakan-akan berteriak “Viva la Revolucion!” Gilanya, saya percaya bahwa revolusi benar-benar hadir dalam album ini.

Oke, lirik yang dinyanyikan–ataukah, ‘diteriakkan’–oleh Zack de la Rocha memang kasar. Kalau bukannya ceroboh dan terpatah-patah. Tapi lirik itu dilengkapi oleh ensemble lainnya. Tom Morello, Brad Wilk, dan Tom Bob melengkapi de la Rocha dengan cara yang tidak bisa saya mengerti. Was it the groove? Was it the almighty guitar playing of Master Morello? Saya nyerah. Saya nggak tahu jawabannya. Tapi gabungannya menjadikan album ini sebagai masterpiece Heavy-Rap-Metal.

Sepanjang jalan saya ikut teriak di bagian refrain yang saya hapal. Saya, walaupun sesaat, sempat meyakini revolusi. Setiap kata yang saya teriakkan adalah pembebasan. Setiap sentakan kepala adalah kebebasan. Emansipasi datang di dalam otak, saat sel-sel memunculkan gambar ribuan pemuda-pemudi yang meloncat mengikuti lagu. Mereka mengepalkan tangan kanan dan menghantamkannya ke atas, seakan ingin meruntuhkan langit. Meneriakkan satu mantera dalam satu suara:

ALL HELL CAN’T STOP US NOW!!!!!!!!!!*

P.S: Untung mobil lo ga tabrakan, wir… asik banget kayaknya.

*penggalan lirik dari lagu “Guerilla Radio

—————————————————————————————–

‘Tender’, Blur

July 24, 2009

Hopla.

Ini artikel singkat yang secara khusus akan bercerita tentang satu lagu. Dan, secara khusus ditulis untuk Antartika. (‘Antartika’ yang orang, bukan yang benua). Lagunya berjudul ‘Tender’, artisnya Blur, albumnya ‘13′. Saya nyaris berani sumpah mati kalau yang menulis syairnya adalah Damon Albarn. Tapi saya tidak cukup sombong untuk memberanikan diri saya dan bersumpah atas suatu hal yang hanya menjadi wilayah pengaturan Tuhan.

Hop.

La.

————–

‘Tender’ ini lagu yang aneh untuk saya. Lagu ini memiliki prestasi yang tdak didapat oleh lagu-lagu lain, yaitu membuat otak saya menyimpan satu ingatan beku tentang waktu saat saya pertama kali mendengarnya.

Waktu itu saya masih kecil, kelas 5 SD, dan senang mendengarkan stasiun radio populer. Favorit saya saat itu adalah radio Oz. Suatu hari yang biasa, saat melintasi jalan Maskumambang di dalam Starlet merah marun, saya mendengarkan radio itu. Dan si radio ganti memutarkan lagu ‘Tender’.

Telinga saya jatuh hati pada nada pertama.

[Ya, tentu saja sebenarnya ada kemungkinan bahwa telinga saya baru jatuh hati sesudah nada ke tujuh puluh enam. Tapi itu tidak akan menghasilkan narasi yang dramatis kan?]

Hingga saat ini, tiap saya melintasi jalan itu otak saya masih sering sekali memutarkan potongan lagu itu berulang-ulang, “come on, come on, come on… get through it.” Dan melanjutkannya, “come on, come on, come on… love’s the sweetest thing.”

Suara itu menghipnotis. Mendorong saya menggila dan mencari album Blur, ‘13′ yang menjadi tempat bersemayam lagu itu. Otak saya yang telah terkontaminasi secara spontan menggerakkan kaki, mata, dan jari saya dalam mode auto pilot melintasi bagian “B” di setiap toko yang menjual CD musik. Bertahun-tahun saya berusaha, dan berkali-kali pula saya harus menelan kekecewaan. Toko-toko CD itu ternyata tidak pernah merasakan sihir yang diturunkan ‘Tender’. Hati mereka telah kering. Suara mereka fals. [Walau saya belum pernah menjilat hati mereka atau mendengar suara mereka.]

Setelah berkali-kali gagal akhirnya saya menyerah juga. “Kalau jodoh saya pasti akan mendengarkannya lagi”, pikir saya. Dan, memang manusia tidak penah tahu akan pergerakan nasib, dua hari yang lalu akhirnya saya mendapatkan album itu! Saya langsung melakukan hal yang wajar dilakukan oleh siapapun yang hatinya telah bersentuhan dengan ‘Tender’, mendengarkannya seharian penuh dan menulis artikel tentang lagu itu dalam blog.

‘Tender’, tujuh menit empat puluh satu detik, menjadi lagu pembuka ‘13′. ‘13′ sendiri bukan album Blur terkuat yang pernah saya dengar, masih kalah dibandingkan ‘Blur’, misalnya. Tapi, bagi saya sendiri, ‘Tender’ adalah salah satu lagu Blur terbaik.

Lagu ini bercerita tentang… well, dulu saya pikir ini bercerita tentang optimisme. Itu juga menjadi salah satu alasan saya menyukai lagu ini. Kedengaran keren bukan, saat Albarn bernyanyi, “get through it”, diiringi penyanyi latar dan produksi yang ‘wah’. It was a mindrocking experience for an idealist fifth-grader.

Sayangnya, mimpi anak kecil itu runtuh setelah saya menyimak lagu ini baik-baik. Ternyata ini adalah nyanyian patah hati. Syairnya bercerita tentang, ‘someone that you love too much’ yang sedang ‘hiding from the sun, waiting for the night to come.

Lebih sadis lagi saat Albarn bernyanyi:

oh my baby, oh my baby
oh why, oh my
oh my baby, oh my baby
oh why, oh my

Sambil terus mendorong dirinya untuk berhenti meratapi diri:

Come on, come on, come on
get through it.
Come on, come on, come on,
love’s the greatest thing.
Come on, come on, come on,
get through it.
Come on, come on, come on,
love’s the greatest thing, that we all have

Yup, this is a heartbreak song. Confirmed. Saya juga semakin yakin kalau ini lagu gubahan Damon Albarn, dan hati punya dia sedang benar-benar patah.

Tidak apa-apa sih, saya tetap suka juga sama lagunya. Walau sekarang sedikit merinding mendengarnya.

————————

Ini, barusan saya tuliskan liriknya.

[Tender]
Tender is the night,
lying by your side.
Tender is the touch,
of someone that you love too much.

Tender is the day
the demons go away.
Lord I need to find
someone who can heal my mind.

[refrain]
Come on, come on, come on
get through it.
Come on, come on, come on,
love’s the greatest thing.
Come on, come on, come on,
get through it.
Come on, come on, come on,
love’s the greatest thing, that we all have.

I’m waiting for that feeling,
waiting for that feeling,
waiting for that feeling
to come.

oh my baby, oh my baby
oh why, oh my
oh my baby, oh my baby
oh why, oh my

Tender is the ghost,
the ghost I love the most,
hiding from the sun,
waiting for the night to come.

Tender is my heart,
that screwing up my life.
Lord I need to find
someone who can heal my mind.

[refrain]

[bridge]

[refrain]

Tender is the night,
lying by your side.
Tender is the touch,
of someone that you love too much.

Tender is my heart, you know,
that screwing up my life.
O, Lord I need to find,
someone who can heal my mind.

[refrain]

oh my baby, [o-oow]
oh my baby  [o-oow]
oh why [kill me]
oh my [kill me]

Catatan: ‘Kill me’ itu yang nyanyinya penyanyi latar, keroyokan. Jadi agak kurang jelas kedengarannya. Bisa saja itu bukan ‘kill me’ tapi ‘kill him’, atau ‘kill her’.

Update: Coba cek juga allmusic.com. Saya baru mampir, dan di sana ada lebih banyak info tentang album 13 daripada artikel ini.

November 12, 2008

Leonard Cohen

Tower Of Song

Well my friends are gone and my hair is gray
I ache in the places where I used to play
And I’m crazy for love but I’m not coming on
I’m just paying my rent every day
Oh in the tower of song

I said to hank williams: how lonely does it get?
Hank williams hasn’t answered yet
But I hear him coughing all night long
A hundred floors above me
In the tower of song

I was born like this, I had no choice
I was born with the gift of a golden voice
And twenty-seven angels from the great beyond
They tied me to this table right here
In the tower of song

So you can stick your little pins in that voodoo doll
I’m very sorry, baby, doesn’t look like me at all
I’m standing by the window where the light is strong
Ah they don’t let a woman kill you
Not in the tower of song

Now you can say that Ive grown bitter but of this you may be sure
The rich have got their channels in the bedrooms of the poor
And theres a mighty judgment coming, but I may be wrong
You see, you hear these funny voices
In the tower of song

I see you standing on the other side
I don’t know how the river got so wide
I loved you baby, way back when
And all the bridges are burning that we might have crossed
But I feel so close to everything that we lost
Well never have to lose it again

Now I bid you farewell, I don’t know when Ill be back
There moving us tomorrow to that tower down the track
But you’ll be hearing from me baby, long after I’m gone
Ill be speaking to you sweetly
From a window in the tower of song
Yeah my friends are gone and my hair is gray
I ache in the places where I used to play
And Im crazy for love but Im not coming on
Im just paying my rent every day
Oh in the tower of song