Perlahan-lahan… mulai lulus… Huwaaaaa!!!!
August 12, 2007
Waduh! Sekarang sudah mulai memasuki tahun ketiga.
Artinya: (berdasarkan kalender hidup yang saya susun seadanya) waktu saya untuk kuliah S1 tinggal 1,5 tahun lagi. Jadi kurang lebih, setelah dijumlah-jumlah lama kuliah saya sekitar 4 tahun lebih sedikit. Again, ini baru niat.
Yah, saya tidak punya niat untuk lulus terlalu cepat. Dunia yang saya masuki sedikit banyak mengharuskan saya untuk sedikit bersabar demi mendapatkan pemahaman yang tidak pincang (terlebih dengan kapabilitas otak yang pas-pasan). Setelah lulus, niatnya saya akan berburu beasiswa sambil mencari kerja. Yang manapun yang pertama didapatkan, akan saya syukuri.
Yang pasti, saya tidak akan selamanya jadi mahasiswa, betapapun menyenangkannya ini.
Melihat akang dan teteh angkatan 2003 yang mulai lulus satu persatu, saya jadi berpikir romantis. Ha, membayangkan bagaimana pertemanan saya dengan teman-teman akrab saya di masa depan. Kalau cita-cita mereka kesampaian, berarti : ada yang bakal punya pabrik, ada yang jadi “pemilik modal” (pemilik modal itu cita2 ya?), ada yang jadi musafir (yang ini bukan cita2, sekedar tebakan pribadi saya saja)… de el el
Di masa depan, saat semua sudah lebih dewasa. Apa yang akan kami bicarakan kemudian? Pekerjaankah, keluargakah, apakah?
Saya tidak bisa menjawab. Bukannya saya tidak berani menerka…
Hanya saja,
Saya tidak dapat membayangkan kami bertingkah dewasa. :-)
Pilih mana: kaya atau miskin
August 12, 2007
Ada pertanyaan menarik nih:
“Pilih mana, menjadi orang kaya di negeri miskin atau orang miskin di negeri kaya?”
memang bukan pertanyaan yang benar-benar baru. Tapi kali ini ada jawabannya, coba deh klik di sini
Nuclear Logic
June 29, 2007
Indonesia, berharap untuk mencapai energy security, akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Gunung Muria (berdasarkan alasan-alasannya sendiri). Nuklir sendiri, secara umum, adalah hasil pembelahan nukleus pada atom. Pembelahan tersebut akan menghasilkan energi dengan kapasitas tak hingga. Energi yang dihasilkan tentu saja sangat membantu manusia dalam melanjutkan keberlangsungan dan modernitas hidupnya. Dua tujuan yang dengan arogannya saya gunakan untuk membagi kapasitas nuklir menjadi dua, sebagai energi dan sebagai senjata. Dua-duanya saya tolak dengan dua argumen dasar. Pertama, ketidaksukaan pribadi pada senjata nuklir (yang telah menghancurkan salah satu kota saya pada permainan komputer Civilization IV). Kedua, perhitungan untung rugi yang sepenuhnya subyektif dan rawan akan kekonyolan.
ENERGI
Nuklir sebagai energi, seperti telah disebutkan sebelumnya, dapat menghasilkan energi tak hingga. Pembelahan nukleus dalam atom dapat menghasilkan panas yang luar biasa hingga dimanfaatkan oleh pembangkit-pembangkit listrik untuk menguapkan air. Uap air yang dihasilkan akan memutar turbin dan menghasilkan listrik untuk konsumsi masyarakat umum. Prinsip penggunaan nuklir untuk listrik ini digunakan oleh Amerika Serikat, Perancis, Rusia, Iran, dan banyak negara lainnya. Alasannya, energi nuklir terhitung efisien karena selain murah—harga energi listrik dapat mencapai kisaran 4 sen per KwH—nuklir juga terbarukan (renewable) dengan hanya 3% dari energi nuklir yang terbuang untuk satu proses pembakaran. Efisien, terbarukan, dan saya menolaknya.
Alasannya klise, Chernobyl’. Baiklah, saya tahu bahwa tidak ada lagi kecelakaan nuklir yang mengakibatkan korban selain Chernobyl selama dua dekade lamanya, belum lagi korban di Chernobyl’ hanya 31 orang (dengan dua orang saja yang meningal di tempat). Aftermathnya sendiri, sampai saat ini baru satu kanker yang teridentifikasi diakibatkan oleh radiasi Chernobyl’, sedangkan penyakit-penyakit baru lainnya tidak bisa dipastikan asalnya (dan saya pikir kita sudah sangat maju dengan segala teknologinya… Ah ! ternyata yang maju hanya teknologi ponsel saja).
Tapi, ada beberapa masalah kecil. Pertama, ledakan terjadi di Ukraina, namun radiasinya terasa hingga Belarusia dan Rusia Barat Daya. Meninggalkan wilayah terevakuasi sebesar 2800 km2, bandingkan dengan luas Jawa yang hanya sekitar 1050 km2. Kedua, kalau diperhatikan dengan teliti, pada awal paragraf saya menulis bahwa Chernobyl’ adalah satu-satunya kecelakaan nuklir dengan korban nyawa. Sialnya, walau Chernobyl’ memang satu-satunya yang menghasilkan korban nyawa, tragedi ini bukan satu-satunya kasus kebocoran nuklir yang terjadi. Walau masih spekulatif, terdapat dugaan bahwa terkadang di rektor-reaktor nuklir di Jepang atau A.S terjadi kebocoran. Untungnya, kebocoran tersebut dapat ditangani dengan langkah pencegahan berupa teknologi pengamanan mereka yang sudah canggih. Masalahnya, bisakah Indonesia membeli teknologi itu. Bukan hanya masalah finansial, tapi juga masalah kerelaan. Apa negara-negara tersebut rela menjual kecanggihan teknologi mereka. Melihat kembali ke masa lalu, kemungkinan besar Indonesia hanya akan mendapat teknologi yang sudah ketinggalan beberapa tahun ke belakang. Ketiga, adalah masalah pengolahan limbah. Amerika Serikat sudah membangun tempat penampungan limbah di Gunung Yucca, Nevada. Berarti belum ada teknologi yang mumpuni untuk mengolah limbah secara efektif. Belum lagi, masyarakat di Negara Bagian Nevada merasakan keresahan atas pembangunan tempat penampungan limbah tersebut. Survey yang diadakan oleh pemerintah setempat menunjukkan hal itu. Alasannya bervariasi dari ketakutan akan kecelakaan saat pengiriman limbah hingga kebocoran tempat penampungan. Pencapaian energy security dibayar dengan mengorbankan human security.
SENJATA
Nuklir sebagai senjata tidak hanya dimaksudkan pada aspek militer saja. Tetapi, juga pada aspek strategis dari nuklir yang dapat digunakan oleh negara-negara bangsa sebagai penambah bargaining power mereka dalam politik dunia (terinspirasi oleh karya Alfan Amiruddin, seorang senior). Dikatakan oleh Kang Alfan dalam penelitiannya bahwa nuklir dijadikan sebagai senjata defense security oleh beberapa negara, termasuk Iran. Dasar analisisnya adalah—kalau tidak salah—tidak ada perang nuklir antar negara pemilik nuklir. Selain itu, negara dengan pasokan energi nuklir memiliki kebijakan energi yang lebih stabil dalam pergerakan politiknya. Dengan demikian, saat kita mengandaikan sebuah kondisi dimana tiap negara memiliki nuklir maka akan tercipata balance of power (yang lebih sering saya sebut sebagai balance of terror) sempurna dengan dunia multipolar yang damai. Toh, tidak ada yang akan berani menyerang kan ?
Sayangnya kondisi ini tidak akan tercapai. Dalam situasi politik dunia saat ini akan selalu ada negara yang lebih maju dibandingkan dengan kebanyakan negara yang ada. Pada bidang militer misalnya, saat Russia begitu bangga dengan memiliki misil nuklir yang mobile, Amerika Serikat sudah memiliki hulu ledak nuklir yang baru (dipublikasikan), tentu dengan daya hancur yang lebih dahsyat. Untungnya, walaupun komparasi kedahsyatan senjata nuklir antar negara akan tetap menghasilkan pemenang (masih di dunia pengandaian), daya hancur nuklir sendiri tetaplah dahsyat dan akan membuat negara berpikir dua kali dalam melancarkan serangan. Pada akhirnya dunia ini akan tetap damai (sebuah dunia Hobbesian yang sempurna). Kedamaian yang dapat dianalogikan seperti granat lempar. Satu tarikan pada pin pengaman dan <BOOM!>. Kalaupun tercipta keadaan dimana peperangan tidak terjadi, bukan perdamaian, keadaan ini akan terisi olehe hegemoni tidak sehat. Landasan kepemimpinan seorang hegemon pada keadaan khayal barusan, yaitu kelebihan kemampuan militer, akan membuatnya merasa memiliki otoritas yang sedikit lebih. Selain itu, dengan segala subyektivitasnya, saya selalu merasa bahwa perdamaian yang dicapai dari pertentangan militer, baik bentrokan langsung aaupun perlombaan sia-sia, selalu absurd.
SIMPULAN
Kalau cinta bisa memutar dunia, untuk apa ada nuklir ?
-gubahan dari kata-kata Fajar Baskoro: 2007-
Precautionary principles… sebelum hujan usahakan selalu tersedia sebuah payung.



