SCEEP, Carpe Diem, dan apa yang disebut penyair sebagai “road less traveled”

MountHood--Lake--Sunrise

Ini cerita remeh yang terjadi beberapa tahun lalu. Cerita ini pernah saya tuliskan di beberapa tempat lain walau hanya dalam satu atau dua paragraf. Biasanya demi memenuhi resume.

Tapi, dibandingkan banyak cerita lain setidaknya cerita ini benar-benar terjadi, walau sudah lama dan sempat terlupakan. Kebetulan tadi siang saya bertemu salah satu orang yang memungkinkan cerita ini terjadi hingga mendorong saya untuk mengingat. Lalu, menuliskannya.

Pada suatu hari…

Di sebuah kelas Filsafat dan Metodologi HI—yang ndilalah di kemudian hari di-asdos-i—saya sempat berpikir kok rasanya kuliah empat tahun nggak banyak hasilnya. Prestasi pas-pasan. IPK cukupan. Sementara tampang rasanya hanya sekadar sisa obralan. Krisis eksistensial ini kemudian saya salurkan ke teman di samping, Ardhy Fitrah, yang di antara sekian Ardi lain di Jurusan HI dikenal oleh khalayak ramai sebagai Ardi Papah.

Di, kita ngapain yuk

Ardi yang waktu itu sudah menjadi suami yang setia dan bertanggung jawab tampak terkejut setelah saya ajak untuk mengapa-ngapain. Hah,”ngapain” Ya? (Ya, itu panggilan dia, yang memenggal nama saya jadi dua dan mengambil buntutnya saja)

Ini… hidup kok rasanya cuma kuliah doing, ngapain gitu yuk.

Kan mau Pemilu juga… Kita adain apa gitu.

Dengan kalem seperti biasanya Ardi menjawab, Oh, boleh. Mau ngapain memangnya?

Belum kepikiran sih. Tapi kalau berdua kayanya susah. Kita ajak… mata saya tertuju pada Antonius aka Peye yang dengan rajinnya duduk di depan… Peye? Kita ajak Peye juga ya.

Itulah alasan kenapa setelah kelas selesai saya menyambangi Peye.

Pey, tadi gue baru ngomong sama Ardi Papah. Kita mau ngelakuin apa gitu menjelang Pemilu. Biar hidup nggak cuma ngejar IPK saja. (patut dicatat bahwa Peye ini sejak semester satu IPK-nya lebih tinggi dibanding penulis maupun sebagian mahasiswa HI yang seangkatan dengan beliau. Sebenarnya dia sudah selesai mengejar IPK sejak lima semester sebelum pembicaraan ini terjadi)

Lo mau ikut nggak?

Oke wir, mulai kapan. (Serius, saya kaget juga, ini bocah langsung mengiyakan tanpa bertanya proyeknya apa)

Belum tahu sih, ini mau diomongin.

Sore itu kami berdiskusi singkat dan memutuskan untuk membuat kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran pemilih pemula, terutama  siswa SMA kelas 3, di sekitar Bandung. Format kegiatannya belum jelas. Kamipun sebenarnya tidak memiliki ilmu yang matang maupun pengalaman mumpuni untuk menjalankan program tersebut. Gambaran kasar yang disebutkan barusan disketsakan hanya dengan modal tekad.

Dan dengkul.

Tekad dan dengkul.

Dalam diskusi itu juga ada yang mengusulkan untuk mengajak satu lagi orang ke dalam tim. Adik angkatan, supaya ada perspektif yang berbeda. Saya lupa siapa yang mengusulkan. Tapi saya ingat kalau saya mengusulkan Wida karena sebelumnya kita pernah bekerjasama dengan baik. Waktu itu kita sama-sama bekerja sebagai penerjemah dalam Global Civil Society Forum yang diadakan bersamaan dengan UNFCCC 2007 di Bali.

Itulah alasan kenapa setelah diskusi saya menelepon Wida dan bilang…

Wid, mau ngapain gitu nggak?

***

Fast forward sedikit. Selama beberapa bulan persiapan, kami setengah mati mengumpulkan sukarelawan dan mematangkan konsep. Untuk itu, kamipun meminta bantuan ke seluruh penjuru mata angin demi meningkatkan kapasitas kami dan para sukarelawan.

Di tengah-tengah persiapan sempat ada senior yang datang ke kampus untuk kuliah umum. Beliau waktu itu sedang bekerja di Oxfam. Dengan asumsi bahwa beliau memiliki pengalaman jauh lebih tinggi kami kemudian menyampaikan ide beserta nota konsep yang ada untuk beliau komentari.

Ide kami dibantai (dengan sopan, halus, dan konstruktif). Banyak sekali bolong yang harus ditambal. Waktu itu terasa sekali bahwa tekad dan dengkul yang kami miliki ternyata ringkih.

Kami pun memutar otak, kembali ke meja gambar, membongkar kembali desain yang sudah jadi sebagian.

Inget Kang Fulan nggak? Beliau kan kerja di UNDP, gimana kalau kita minta tolong dia? (Saya lupa siapa yang usul)

*Btw ini nama dua seniornya diganti soalnya saya agak sungkan menulis nama beliau-beliau di blog nggak mutu ini. Mereka beken sih.

Ini ide bagus. Bagus ini ide.

Kami sepakat bahwa kami lebih membutuhkan bantuan non-material seperti pelatihan, pematangan konsep, ataupun endorsement. Dalam benak kami meminta bantuan material ataupun finansial tentu lebih membutuhkan waktu.

Ardi Papah merelakan diri untuk pergi ke Jakarta dan mengunjungi markas UNDP untuk bertemu Kang Fulan. Pada sore harinya, Ardi menelepon:

Ya, Alhamdulillah, Kang Fulan mau membantu. Beberapa hari lagi ada temannya yang akan ke Bandung, kita bisa bertemu beliau untuk membahas pelatihan yang kita butuhkan seperti apa.

Pelatihan tersebut menjadi titik balik yang mendorong berlangsungnya kegiatan kami.

Di penghujung hari, kami mencatat bahwa ada sekitar 1.500 pelajar SMA/pemilih pemula yang berpartisipasi dalam kegiatan kami. Ada beberapa kegiatan tambahan yang terlaksana karena pihak SMA yang kami datangi tiba-tiba meminta kami melanjutkan kegiatan di luar rencana awal. Kegiatan tambahan ini tidak tercatat. Saya ingat salah satu estimasi kasar yang memasukkan kegiatan tak tercatat tersebut mendorong jumlah peserta menjadi 1.800 orang. Pelaksanaan kegiatan sendiri dibantu oleh 28 sukarelawan.

4 teman.

28 sukarelawan.

1.500 peserta!

Di luar dugaan, dengkul kami ternyata kuat juga dibawa berlari kencang.

***

Ini bagian penutup. Sebentar lagi tirainya akan turun. Morgan Freeman pun mulai membaca bagian di bawah ini:

Saya yakin cerita ini masih kalah dibandingkan cerita-cerita lain. Ada banyak cerita yang protagonisnya lebih jelas, alurnya lebih tertata, dan kisahnya lebih heroik.

Cerita ini saya tuliskan bukan untuk pamer kok. Dia tersimpan di blog ini supaya saya tidak lupa: bahwa dulu saya sempat ragu, bahwa dulu ada teman-teman yang percaya, bahwa kita pernah berlari bersama, dan akhirnya kita bisa—kalau kata Ardi Papah—carpe diem.

Merengkuh hari.

Doraemon, Perang Irak, dan Pelajaran Pertama Politik Internasional

Sad Doraemon

Pada suatu hari di tahun 2003, saya menghabiskan waktu istirahat SMA dengan menatap televisi di ruang guru. Saat itu, Perang Irak akan dimulai dalam hitungan menit. Stasiun TV Indonesia tidak ketinggalan menayangkan detik demi detik hingga terlaksananya invasi AS ke Irak.

Saya kebetulan berjalan melewati ruang guru saat gambar-gambar Perang Teluk ditayangkan di layar tabung televisi ruang itu.

“Perang?”, pikir saya. Sebagai remaja tanggung yang belum kenal dunia, kata itu–maupun horor yang selalu mengikutinya–tidak diterima dengan nyaman oleh telinga. Saya pun menyandarkan bahu di daun pintu dengan ratusan pertanyaan berputar di kepala, tanpa ada satupun yang bisa saya jawab.

“Lagi apa, Wir?”, tanya seorang guru.

“Ini, pak… Irak…”

“Oh…”

Matanya melihat ke TV sebelum melirik sebentar ke arah saya. Dia pun menarik kursi ke samping saya… untuk kemudian didudukinya sendiri. Walau sedikit sebal karena saya sempat berpikir akan ditawari untuk duduk, kami melanjutkan menonton tv dalam diam.

Waktu kecil, saya berpikir kalau dunia pasti akan damai di masa yang akan segera datang. Doraemon menunjukkan bahwa di abad ke 22 dunia akan berada dalam perdamaian. Utopia akan terbangun dengan teknologi sebagai salah satu pilarnya.

Pintu ke mana saja, baling-baling bambu, konyaku penerjemah dan segudang peralatan lain telah berhasil mendekatkan umat manusia. Sementara mesin waktu telah membuat kita mengenal lebih baik sejarah peradaban, membantu manusia belajar dari kesalahan di masa lampau untuk tidak mengulanginya lagi. Karena itu, perang ataupun konflik di dunia Doraemon kebanyakan terjadi di masa ini atau di dunia/planet yang berbeda.

Memegang Doraemon sebagai buku teks perang-damai, saya tumbuh sambil beranggapan bahwa perang adalah perkecualian yang akan berakhir saat saya menjadi anak besar. Perdamaianlah yang akan menjadi batu fondasi peradaban manusia.

Berita pagi itu pun menjadi surreal. Saya harus berusaha keras mencerna informasi dan analisis yang disampaikan di layar TV hingga saya sedikit tersentak saat ada yang menepuk bahu saya. Bu Nita, wali kelas sekaligus guru Matematika, ternyata sudah ada di samping saya, bersama beberapa pasang mata berseragam abu-abu yang tidak saya kenal.

“Ayo, waktu istirahat sudah selesai.”, ujar beliau.

“Eh? Eh. Iya bu.”

Walau sedikit tidak rela, saya pun beranjak dari ruang guru. Dengan hati dan perut hampa—karena tidak jadi ke kantin—saya berjalan kembali ke kelas.

Sesampainya di kelas, ternyata pelajaran geografi belum dimulai. Gurunya belum datang.

Melihat saya, teman sebangku menyambut dengan tangan terbuka, “Wir, masih aya donat teu? Bagi lah.”

Teu aya euy. Nggak jadi beli.”

“Ah kamu mah, baca komik di perpustakaan lagi ya?”

Henteu, urang mah tadi baca buku Fisika Kuantum.”

Wae lah kamu baca buku fisika. Judulnya apa?”

“Itu, Femina.”

Tidak berselang lama guru geografi datang. Beliau yang biasanya ramah senyum kini muncul dengan wajah tertekuk.

Setalah mengucapkan salam, beliau melihat ke sekeliling kelas, menatap muridnya satu demi satu.

“Wirya, tadi kamu yang nonton tv di ruang guru ya?”

“Iya, bu.”

Beliau terdiam sejenak.

“Irak jadinya diserang, wir.”

Suatu hari di tahun 2003, saya mendapatkan pelajaran pertama tentang politik internasional.
Ternyata, Doraemon bukan buku teks yang dapat dipercaya.*

 

*Oh who am I kidding, I still read Doraemon furiously!

Dunia Baru untuk B

Shuttle bus melaju kencang. Menurut brosur yang saya ambil di terminal penyambutan, bus ini memiliki panjang 20 meter dan dapat mencapai kecepatan 300 km/jam. Dia didorong oleh mesin bertenaga matahari. Masih menurut brosur, bus ini juga merupakan kendaraan paling bersih dan efisien yang pernah diciptakan manusia. Para penumpang bebas mengambil makanan dan minuman yang telah disediakan.

Halaman depan brosur sesak oleh tulisan biru muda, warna langit dunia lama: Welcome to Mars.

Di bawahnya tertulis berbagai informasi tentang kota yang akan menjadi tempat tinggal baru saya, Damaskus. Ada informasi tentang sekolah untuk warga baru yang datang bersama anak. Ada informasi tentang pembuangan sampah. Jadwal pembagian makanan. Tempat-tempat hiburan. Arena olahraga. Deretan informasi itu ditutup dengan ucapan terima kasih dalam lima bahasa, yaitu: Inggris, Perancis, Spanyol, Arab, dan China. Bahasa administrasi resmi kota.

Kelihatannya saya akan merindukan bahasa ibu.

Cool title, there.”

Saya sempat bengong sebelum menyadari kalau pria di hadapan saya sedang melihat tas yang saya pangku. Di depannya tertulis nama saya beserta gelar: Bina Pusaka Nagari, Ph.D.

Yup, very cool”, balas saya. I considered being a rock star. But, you know, girls always go for the Ph.D.”

Dia tertawa sedikit. Suaranya berat dan terdengar kasar di ujung tawa, mungkin perokok, mungkin juga nasib.

Pria itu memperkenalkan diri sebagai Ben, Benjamin Sharif, seorang koki. Dia berasal dari Sudan. Saya jawab kalau dia boleh memanggil saya Bi—atau, sesuai ejaan administratif yang telah disempurnakan, Bee.

So, are you a scientist?

Sort of, I am a sociology professor.”

Saya dapat memaklumi ketidakpercayaan Ben. Begitu pula, saya juga dapat memaklumi tawanya yang kali ini membahana. Seperti diketahui pada umumnya, upaya pembukaan dunia baru tidak membutuhkan pemahaman akan hubungan antara individu dengan institusi yang menaungi mereka dalam konteks sejarah dan struktur ekonomi-politik—baca: research interest.

Damaskus sebagai kota pertama, dan satu-satunya, di Mars seyogyanya hanya diisi oleh para “profesional”. Orang dengan pekerjaan yang dapat memberikan kepastian serta menulis laporan yang terukur, yang jauh dari bahasa-bahasa tinggi dan abstrak. Orang-orang semacam itu dan, tentunya, tentara.

Dunia baru nan tak terpetakan bukanlah tempat bagi pengajar dasar-dasar ilmu sosial (3 SKS, semester ganjil).

In my defense, I was also the best plumber on earth.”

I am sure you are”, ujar Ben. Senyumnya lepas. Dia tampak ramah, garis-garis wajahnya memang menyiratkan hidup yang penuh oleh senyuman.

“You are Malaysian, are you not?”

“Uh, no, I am actually from Nusantara.”

The new country?

“Yes, the new country”, timpal saya, merasakan beratnya kalimat itu di ujung tenggorokan. 

Nusantara memang baru merayakan dua tahun kemerdekaannya. Negara baru di dunia lama. Sejarah baru di atas sejarah lama. Tanah tumpah darah tempat darah kembali tumpah. Di sana, manusia sekali lagi membuktikan kemampuan mereka membuka paksa masa depan dengan peluru, mortar, dan korban manusia.

Saya tidak lagi ingat apakah idealisme ataukah tuntutan situasi yang menjadi dorongan, tapi saya ikut membuka jalan bagi Nusantara. Walau pada akhir jalan itu tidak banyak yang tersisa untuk saya. Teman, keluarga, dan rumah adalah kata-kata yang tertinggal maknanya di kamus tanah air tua.

Karena itu, saya langsung mengiyakan tawaran menjadi perwakilan negara di koloni pertama Mars.

Dan kini: planet, kota, serta gravitasi baru. Mars yang merah dan asing. Harapan terakhir bagi orang-orang yang bingung mencari tempat mengubur hantu.

Well, professor, welcome to Mars”, Ben mengulurkan tangannya.

Saya menyambutnya, “bienvenue, Ben.

Seorang pria berpakaian resmi berdiri di ujung bus dan menyampaikan bahwa Damaskus sudah dekat. Dia mempersilahkan kami untuk menengok ke sebelah kanan untuk melihat garis kota, di mana tampak kubah-kubah yang memancarkan cahaya pucat. Di baliknya, bumi tampak sebagai titik.

Jauh, jauh sekali.

***

PS: Ya ampun udah jam segini aja. Paginya kan gue kerja. Aduh, aduh, aduh, bagaimana ini, aduh, aduh.

dari writer’s block hingga sapi, mustahil

Memulai drafting tulisan dari satu kalimat ternyata tidak mudah. Tapi ini satu tantangan yang harus saya lewati kalau ingin menjadi penulis stensil kelas kabupaten. Tanpa keraguan, saya harus mendisiplinkan diri dan berusaha lebih keras untuk menulis essay dalam lingkup kalimat berikut:

Kalau kamu sapi, disembelih membaca Basmalah pun tetap haram!

Saya yakin saya mampu walau ini tampak mustahil.

Lagipula, impossible, kata pepatah, is nothing.

Image

(Hasil googling dengan kata kunci impossible cow)

awimbawe-awimbawe dan sebuah catatan pinggir*

Marhaban ya kerjaan! Hati kecil saya berteriak tertahan. Hati besar memaki diam-diam. (Isi makian tentu saja tidak dapat dituliskan di blog yang ramah keluarga dan lingkungan ini)

Kalender laptop baru saja terisi oleh jadwal-jadwal baru. Di sana sekarang tercatat bahwa tanggal sekian hingga tanggal sekian ada acara x, sementara tanggal berikutnya ada acara y yang langsung disusul oleh acara A-besar dan B-besar. Sabtu dan Minggu perlahan-lahan menjadi ilusi. Dua hal yang keberadaannya menjurus ke mitos dan legenda. Sementara itu, di sela-sela kubikel juga mulai terdengar bisikan-bisikan resah. Di antara sekat sayup-sayup mulai tersampaikan rencana rahasia. Pihak-pihak terkait ternyata ingin menambahkan satu lagi entri tidak resmi: imigrasi ke Mongolia, jadi pemerah susu kuda, melarikan diri dari dunia nyata.

Marhaban, marhaban! Marhaban ya kerjaan!

Ah, di antara tumpukan kerjaan, layar laptop pun menjadi pelarian. Wallpaper danau dan pegunungan saya pandang lama-lama. Start-up screen ikut diganti menjadi langit yang terbentang luas, biru, dan cerah. Kalau saya tidak bisa pergi liburan, maka liburan yang harus didatangkan!

…semangat yang walaupun patut dipuji dalam hal positifitas dan determinasi, sebenarnya cukup menyedihkan jika dilihat dari sisi-sisi lain. Apalagi saya memandang laptop dengan tatapan kosong. Bengong. Datar. Kelihatannya alam bawah telah sadar bahwa gunung, danau, dan langit biru tidak dapat digapai dalam waktu dekat. Sayang, bagian lain belum siap menerima kenyataan.

Ini bukan situasi yang baik untuk memulai bekerja.

Tapi apa boleh dikata, ternyata membangkitkan kembali semangat tidak semudah mendaki Puncak Himalaya. Saya pun merancang draft surat permohonan suaka ke kedutaan Mongolia. Di dalamnya tertulis, “Duhai Pak Dubes, sudi apalah kiranya saya diberikan perlindungan dari beban kehidupan.”

Tertanda,

Aaaaa——-di-wenn-naaaaaa.

Eh.

Loh.

Kok.

Yang barusan itu bukan saya yang sedang menulis surat.

Yang barusan itu… adalah… hal yang tidak jelas; terdengar seperti pembuka Lion King, tapi jelas-jelas menggunakan nama saya.  Dan, suaranya terdengar dari ruangan Bapak Bos. Apakah itu? Mungkinkah itu? When, where, and why?

Di tengah kebingungan, Pak Bos mulai tampak dari kejauhan. Tangan kanan beliau membawa kopi dengan penuh percaya diri, seperti Rafiki yang mengangkat Simba di tepi jurang.  “Gimana Wirya?”, tanya beliau. Wajahnya menyimpulkan senyum.

“I’m… okay.. Pak”, balas saya. Walau sesungguhnya di antara 5 W dan 1 H pertanyaan di kepala belum ada satupun yang terjawab. Namun beliau tetap tersenyum, dan kemudian berlalu. 

Sambil berjalan, beliau pun mulai bersenandung, dengan tertata dan tegas:

Awimbawe, awimbawe, awimbawe, awimbawe,

Ah… oke.

awimbawe…

awimbawe…

 In the jungle, the mighty jungle,

the lion sleeps tonight.

“Tahu nggak Wirya, lagunya?”, lanjut beliau

“Tahu dong”, ujar saya. Tersenyum. Sambil diam-diam membuang surat permohonan suaka.

Ya. Di Indonesia memang ada setumpuk kewajiban. Tapi kesibukan juga bisa menjadi anugerah Yang Maha Kuasa. Toh, di Mongolia tidak ada hutan.

Di sana juga tidak ada singa. (Kalau tidak salah)

***

*Fiksi ini terinspirasi dari cerita nyata. Pesan moral dari kisah ini adalah: jangan mencari perlindungan ke Kedutaan Mongolia. Selalu mencari pertolongan pada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, ada baiknya pembaca memeriksa kembali validitas klaim keberadaan hutan dan singa di Mongolia.

Image

(Hasil Google Image Search dengan kata kunci “Mongolian horse milk”)

Buku baru, “the Ocean at the End of the Lane”

I liked myths. They weren’t adult stories and they weren’t children stories. They were better than that. They just were.

Adult stories never made sense, and they were slow to start. They made me feel like there were secrets, Masonic, mythic secrets, to adulthood. Why didn’t adults want to read about Narnia, about secret islands and smugglers and dangerous fairies?

Neil Gaiman, The Ocean at the End of the Lane

And I smiled.

Dear Mr. Gaiman,

Tiga belas tahun sesudah pertama melihat The Lion, The Witch and The Wardrobe, saya masih meraba-raba dinding lemari. Saya masih melihat-lihat lubang kelinci. Saya masih berlari dari terminal kedatangan ke toko buku untuk bertanya, di tengah nafas yang putus-putus, “new.. Neil Gaiman book… do you have one?”

Saya masih berloncat-loncat kecil saat mendapatkan buku barumu.

Dan hari ini, saat akhir minggu sudah menjelang, komputer akan saya matikan. Dokumen-dokumen terpaksa menjauh dulu. Pekerjaan, kehidupan, dan kedewasaan harus menunggu. Saya akan menutupkan tirai sejenak pada cerita yang sedang saya jalani.

Besok… besok adalah waktu untuk mensyukuri bahwa, dulu, saya pernah berusia 12 tahun.

Salam,

Adiwena

ImageP.S: Dear Boss, if you read this, many of the writings above are for literary purpose only. I will not completely stay out of work, obviously. I will however, be a tiny bit farther from my cellphone and laptop, so.. yeah.. Have a nice weekend!

Jadi kutu buku atau petualang? Pilihan absurd

O~oke, saya sedang tidak mood untuk mencoba menulis dengan baik dan benar. Jadi alur tulisan ini akan sedikit sporadis serta dibumbui sedikit omelan. Lebih lanjut, karena ketiadaan keinginan untuk menuliskan paragraf pengantar yang menarik maupun thought-provoking, saya akan membebaskan diri untuk langsung loncat dan berkata, “tema kali ini adalah: membaca.”

Kenapa membaca? Well, saya kutu buku. Kalau saya kutu dari varian lain, tentunya saya akan menulis soal bidang terkait. Kalau saya kutu loncat, misalnya, mungkin saya akan mampu untuk menulis soal diet sehat atlet lompat jauh di Olimpiade Beijing. Sayangnya yang saya sukai adalah memabca, dan karena itu artikel ini pun akan membahas soal dunia baca-membaca. Spesifiknya:tentang anggapan kalau membaca itu lebih rendah kastanya dari mengalami langsung, to experience, to live, to YOLO and beyond!

Saya, sampai saat ini, masih bingung kenapa ada yang merasa harus punya anggapan seperti itu, terlebih lagi mengatakannya.

I dare say that kind of statement is short-sighted.

Saya yang kutu buku juga suka jalan-jalan kok. Foto nelayan di atas blog ini juga saya ambil saat backpacking sendirian di Belitung. Saya mengambil foto itu sesudah berjalan kaki–ternyata transportasi umum di Belitung tidak terlalu banyak–dan menunggu berjam-jam hingga sore saat nelayan mulai melaut. Sesudah membakar tengkuk setelah mengelilingi pantai, saya duduk di atas batang pohon yang terdampar di pantai, lalu membaca.

Yup. The Road. Karya Cormac McCarthy.

Salah satu buku favorit

And it was glorious. Ada perasaan yang… je-ne-sais-quoi dari membaca novel distopian di tengah keindahan alam Indonesia. Saat novel perjalanan ayah-anak itu mulai depressing, saya tinggal melihat ke sekeliling untuk menyerap lingkungan: pohon palem, ombak, pasir putih, batu karang; lalu meneruskan membaca. Saya tidak membaca buku tersebut dengan lebih bahagia saat mengetahui kalau di kehidupan nyata masih ada keindahan. Sebaliknya, kontras antara apa yang kita miliki sekarang dengan kehancuran dunia yang dibayangkan oleh McCarthy menjadikan buku yang saya baca lebih hidup dari biasanya.

Buku fiksi pun bisa saling melengkapi dengan kehidupan nyata, apalagi buku non-fiksi.

Buku-buku sejarah akan membawa kita ke masa-masa lampu yang tidak bisa kita datangi (hingga Doraemon muncul di laci meja belajar Nobita). Buku-buku filsafat bisa membantu kita melakukan eksperimen pemikiran yang sungkan dilakukan di dunia nyata (karena l’enfer, c’est les autres) Buku-buku resep masakan akan membantu kita untuk… ya, tentu saja, goes without saying, sudah pasti, untuk mencuri hati mertua.

Buku membantu kita bertanya, juga kepada buku itu sendiri.

Jadi, kalau kita tergantung pada pengalaman indrawi saja, we’re missing out on a lot of things. Kita tidak akan mengenal Anne Frank, Adam Smith, Bung Hatta, Mahatma Gandhi, Karl Marx, maupun Rasulullah Muhammad SAW. Kita juga tidak akan mengetahui perasaan pemuda Amerika yang dikirim ke Peleliu, ataupun kepala polisi kolonial pada masa penjajahan.

Kalau kita menolak melihat informasi yang terkandung di lemari-lemari perpustakaan, pengetahuan kita akan lebih sempit dari yang seharusnya bisa kita dapatkan. Kita juga akan lebih terbatas oleh geografi dan waktu/perbedaan jaman.

Traveling can be good. Living your life, whatever it means, can be great.

Saya pun sungguh menikmati masa-masa bersepeda mengelilingi desa-desa. Saya juga mensyukuri pembicaraan dengan orang-orang unik yang saya temui selama perjalanan, mulai dari supir bus antar provinsi, pelaut nusantara, pemilik hotel, serdadu Inggris, hingga pensiunan akuntan dari Belanda. Semuanya memang sangat, sangat menarik dan membantu perkembangan saya sebagai manusia.

Namun, terlepas dari semua hal itu, saya tetap membawa buku saat jalan-jalan. Karena bukulah yang membuat hidup saya… *ehm* lebih hidup.