Cerita dari Nottingham, beberapa tahun lalu.

Ini saya, duduk di kursi yang basah. Kaki terasa terlalu berat untuk berjalan ke asrama sementara otak sudah tidak bisa diajak ceria. Musim gugur sedang mundur teratur untuk memberi jalan pada musim dingin. Langit abu-abu dan gerimis yang menjadi ciri musim pergantian ini sama sekali tidak membantu meringankan hati.

How grey. How bleak. How very English, pikir saya tentang cuaca, I was waiting for this. Dan demikian pula saya terduduk tanpa mengerti beban apa yang membuat punggung saya membungkuk. Saya ‘seharusnya’ bersuka cita. Lalu kenapa?

Mungkin ada hubungannya dengan kelelahan. Saya bukan olahragawan… cukup lelah juga membawa 60 kg dari satu gedung ke gedung lainnya. Yah, saya juga sempat ditolak masuk asrama karena masalah pembayaran. Apa karena itu?

Atau mungkin karena saya sebelumnya nyaris tidak bisa pergi. Kabar penolakan aplikasi visa memang baru sampai dua minggu sebelum kuliah mulai. Tapi, bukankah yang terpenting adalah akhirnya saya berhasil mendapatkan visa? Walau harus menulis surat penjelasan dokumentasi, walau harus bolak-balik Bandung-Jakarta-Bandung-Jakarta, walau harus berisap menunggu satu tahun lagi; yang penting saya mendapatkan visa. Persetan dengan keletihan, saya punya dunia untuk diraih!

Sigh.

Ataukah ada hubungannya dengan kelas pertama yang buruk? Tidak bisa konsentrasi, tidak bisa memasukkan pelajaran, dst. dst. But come on, Wirya, MAN UP! Sebagai pria, di dunia ini ada tuntutan yang diharapkan dari kamu. Menye-menye bukanlah salah satunya.

Yah, mungkin ada hubungannya dengan kesendirian.

Cih.

Ini saya, duduk, sendiri, dengan jaket yang mulai kuyup.

Namun, seperti dalam buku cerita, tiba-tiba terdengar suara harmonika. Seorang asing berdiri dan memainkan harmonika beberapa saat. Begitu saja. Akhirnya saya duduk tegak, walau hanya demi melihat permainanya.

Entah berapa menit berlalu sebelum dia menyelipkan harmonika ke dalam saku jaketnya. Lalu dia menatap saya dengan ramah. Have a good day, mate, ujarnya, tersenyum, lalu pergi. Saya tersenyum balik tanpa mengucapkan apa-apa. Ingin rasanya mengatakan thank you, you too, may the force be with you. Tapi semua kata itu tertahan di tenggorokan.

Yah, apapun lah. Langit memang tetap abu-abu. Hujan tetap turun rintik-rintik. Angin dingin masih menggigit.

How very English.

Hei, it is England! And you know what… it’s alright! I am alright!

Dan demikianlah, saya kemudian berjalan pulang sendirian ke pasar supaya nanti malam ada selimut dan bantal, dan makanan di perut. Di asrama saya memasak sandwich ayam paling enak di alam semesta, kemudian memakannya dengan lahap sementara suara Bob Marley terdengar dari earphone…

Don’t worry, about a thing… ’cause every little things gonna be alright. Singing don’t worry..

****

P.S: Awalnya saya nggak mau menuliskan ini karena males nyeritain saya yang lagi menya-menye. Tapi setelah beberapa lama, jadi ingin menulis sebagai ucapan terima kasih untuk mas-mas bule berharmonika. I hope you have a great day, mate!

Advertisements

2 thoughts on “Cerita dari Nottingham, beberapa tahun lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s