Jadi kutu buku atau petualang? Pilihan absurd

O~oke, saya sedang tidak mood untuk mencoba menulis dengan baik dan benar. Jadi alur tulisan ini akan sedikit sporadis serta dibumbui sedikit omelan. Lebih lanjut, karena ketiadaan keinginan untuk menuliskan paragraf pengantar yang menarik maupun thought-provoking, saya akan membebaskan diri untuk langsung loncat dan berkata, “tema kali ini adalah: membaca.”

Kenapa membaca? Well, saya kutu buku. Kalau saya kutu dari varian lain, tentunya saya akan menulis soal bidang terkait. Kalau saya kutu loncat, misalnya, mungkin saya akan mampu untuk menulis soal diet sehat atlet lompat jauh di Olimpiade Beijing. Sayangnya yang saya sukai adalah memabca, dan karena itu artikel ini pun akan membahas soal dunia baca-membaca. Spesifiknya:tentang anggapan kalau membaca itu lebih rendah kastanya dari mengalami langsung, to experience, to live, to YOLO and beyond!

Saya, sampai saat ini, masih bingung kenapa ada yang merasa harus punya anggapan seperti itu, terlebih lagi mengatakannya.

I dare say that kind of statement is short-sighted.

Saya yang kutu buku juga suka jalan-jalan kok. Foto nelayan di atas blog ini juga saya ambil saat backpacking sendirian di Belitung. Saya mengambil foto itu sesudah berjalan kaki–ternyata transportasi umum di Belitung tidak terlalu banyak–dan menunggu berjam-jam hingga sore saat nelayan mulai melaut. Sesudah membakar tengkuk setelah mengelilingi pantai, saya duduk di atas batang pohon yang terdampar di pantai, lalu membaca.

Yup. The Road. Karya Cormac McCarthy.

Salah satu buku favorit

And it was glorious. Ada perasaan yang… je-ne-sais-quoi dari membaca novel distopian di tengah keindahan alam Indonesia. Saat novel perjalanan ayah-anak itu mulai depressing, saya tinggal melihat ke sekeliling untuk menyerap lingkungan: pohon palem, ombak, pasir putih, batu karang; lalu meneruskan membaca. Saya tidak membaca buku tersebut dengan lebih bahagia saat mengetahui kalau di kehidupan nyata masih ada keindahan. Sebaliknya, kontras antara apa yang kita miliki sekarang dengan kehancuran dunia yang dibayangkan oleh McCarthy menjadikan buku yang saya baca lebih hidup dari biasanya.

Buku fiksi pun bisa saling melengkapi dengan kehidupan nyata, apalagi buku non-fiksi.

Buku-buku sejarah akan membawa kita ke masa-masa lampu yang tidak bisa kita datangi (hingga Doraemon muncul di laci meja belajar Nobita). Buku-buku filsafat bisa membantu kita melakukan eksperimen pemikiran yang sungkan dilakukan di dunia nyata (karena l’enfer, c’est les autres) Buku-buku resep masakan akan membantu kita untuk… ya, tentu saja, goes without saying, sudah pasti, untuk mencuri hati mertua.

Buku membantu kita bertanya, juga kepada buku itu sendiri.

Jadi, kalau kita tergantung pada pengalaman indrawi saja, we’re missing out on a lot of things. Kita tidak akan mengenal Anne Frank, Adam Smith, Bung Hatta, Mahatma Gandhi, Karl Marx, maupun Rasulullah Muhammad SAW. Kita juga tidak akan mengetahui perasaan pemuda Amerika yang dikirim ke Peleliu, ataupun kepala polisi kolonial pada masa penjajahan.

Kalau kita menolak melihat informasi yang terkandung di lemari-lemari perpustakaan, pengetahuan kita akan lebih sempit dari yang seharusnya bisa kita dapatkan. Kita juga akan lebih terbatas oleh geografi dan waktu/perbedaan jaman.

Traveling can be good. Living your life, whatever it means, can be great.

Saya pun sungguh menikmati masa-masa bersepeda mengelilingi desa-desa. Saya juga mensyukuri pembicaraan dengan orang-orang unik yang saya temui selama perjalanan, mulai dari supir bus antar provinsi, pelaut nusantara, pemilik hotel, serdadu Inggris, hingga pensiunan akuntan dari Belanda. Semuanya memang sangat, sangat menarik dan membantu perkembangan saya sebagai manusia.

Namun, terlepas dari semua hal itu, saya tetap membawa buku saat jalan-jalan. Karena bukulah yang membuat hidup saya… *ehm* lebih hidup.

Advertisements

2 thoughts on “Jadi kutu buku atau petualang? Pilihan absurd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s