Doraemon, Perang Irak, dan Pelajaran Pertama Politik Internasional

Sad Doraemon

Pada suatu hari di tahun 2003, saya menghabiskan waktu istirahat SMA dengan menatap televisi di ruang guru. Saat itu, Perang Irak akan dimulai dalam hitungan menit. Stasiun TV Indonesia tidak ketinggalan menayangkan detik demi detik hingga terlaksananya invasi AS ke Irak.

Saya kebetulan berjalan melewati ruang guru saat gambar-gambar Perang Teluk ditayangkan di layar tabung televisi ruang itu.

“Perang?”, pikir saya. Sebagai remaja tanggung yang belum kenal dunia, kata itu–maupun horor yang selalu mengikutinya–tidak diterima dengan nyaman oleh telinga. Saya pun menyandarkan bahu di daun pintu dengan ratusan pertanyaan berputar di kepala, tanpa ada satupun yang bisa saya jawab.

“Lagi apa, Wir?”, tanya seorang guru.

“Ini, pak… Irak…”

“Oh…”

Matanya melihat ke TV sebelum melirik sebentar ke arah saya. Dia pun menarik kursi ke samping saya… untuk kemudian didudukinya sendiri. Walau sedikit sebal karena saya sempat berpikir akan ditawari untuk duduk, kami melanjutkan menonton tv dalam diam.

Waktu kecil, saya berpikir kalau dunia pasti akan damai di masa yang akan segera datang. Doraemon menunjukkan bahwa di abad ke 22 dunia akan berada dalam perdamaian. Utopia akan terbangun dengan teknologi sebagai salah satu pilarnya.

Pintu ke mana saja, baling-baling bambu, konyaku penerjemah dan segudang peralatan lain telah berhasil mendekatkan umat manusia. Sementara mesin waktu telah membuat kita mengenal lebih baik sejarah peradaban, membantu manusia belajar dari kesalahan di masa lampau untuk tidak mengulanginya lagi. Karena itu, perang ataupun konflik di dunia Doraemon kebanyakan terjadi di masa ini atau di dunia/planet yang berbeda.

Memegang Doraemon sebagai buku teks perang-damai, saya tumbuh sambil beranggapan bahwa perang adalah perkecualian yang akan berakhir saat saya menjadi anak besar. Perdamaianlah yang akan menjadi batu fondasi peradaban manusia.

Berita pagi itu pun menjadi surreal. Saya harus berusaha keras mencerna informasi dan analisis yang disampaikan di layar TV hingga saya sedikit tersentak saat ada yang menepuk bahu saya. Bu Nita, wali kelas sekaligus guru Matematika, ternyata sudah ada di samping saya, bersama beberapa pasang mata berseragam abu-abu yang tidak saya kenal.

“Ayo, waktu istirahat sudah selesai.”, ujar beliau.

“Eh? Eh. Iya bu.”

Walau sedikit tidak rela, saya pun beranjak dari ruang guru. Dengan hati dan perut hampa—karena tidak jadi ke kantin—saya berjalan kembali ke kelas.

Sesampainya di kelas, ternyata pelajaran geografi belum dimulai. Gurunya belum datang.

Melihat saya, teman sebangku menyambut dengan tangan terbuka, “Wir, masih aya donat teu? Bagi lah.”

Teu aya euy. Nggak jadi beli.”

“Ah kamu mah, baca komik di perpustakaan lagi ya?”

Henteu, urang mah tadi baca buku Fisika Kuantum.”

Wae lah kamu baca buku fisika. Judulnya apa?”

“Itu, Femina.”

Tidak berselang lama guru geografi datang. Beliau yang biasanya ramah senyum kini muncul dengan wajah tertekuk.

Setalah mengucapkan salam, beliau melihat ke sekeliling kelas, menatap muridnya satu demi satu.

“Wirya, tadi kamu yang nonton tv di ruang guru ya?”

“Iya, bu.”

Beliau terdiam sejenak.

“Irak jadinya diserang, wir.”

Suatu hari di tahun 2003, saya mendapatkan pelajaran pertama tentang politik internasional.
Ternyata, Doraemon bukan buku teks yang dapat dipercaya.*

 

*Oh who am I kidding, I still read Doraemon furiously!