awimbawe-awimbawe dan sebuah catatan pinggir*

Marhaban ya kerjaan! Hati kecil saya berteriak tertahan. Hati besar memaki diam-diam. (Isi makian tentu saja tidak dapat dituliskan di blog yang ramah keluarga dan lingkungan ini)

Kalender laptop baru saja terisi oleh jadwal-jadwal baru. Di sana sekarang tercatat bahwa tanggal sekian hingga tanggal sekian ada acara x, sementara tanggal berikutnya ada acara y yang langsung disusul oleh acara A-besar dan B-besar. Sabtu dan Minggu perlahan-lahan menjadi ilusi. Dua hal yang keberadaannya menjurus ke mitos dan legenda. Sementara itu, di sela-sela kubikel juga mulai terdengar bisikan-bisikan resah. Di antara sekat sayup-sayup mulai tersampaikan rencana rahasia. Pihak-pihak terkait ternyata ingin menambahkan satu lagi entri tidak resmi: imigrasi ke Mongolia, jadi pemerah susu kuda, melarikan diri dari dunia nyata.

Marhaban, marhaban! Marhaban ya kerjaan!

Ah, di antara tumpukan kerjaan, layar laptop pun menjadi pelarian. Wallpaper danau dan pegunungan saya pandang lama-lama. Start-up screen ikut diganti menjadi langit yang terbentang luas, biru, dan cerah. Kalau saya tidak bisa pergi liburan, maka liburan yang harus didatangkan!

…semangat yang walaupun patut dipuji dalam hal positifitas dan determinasi, sebenarnya cukup menyedihkan jika dilihat dari sisi-sisi lain. Apalagi saya memandang laptop dengan tatapan kosong. Bengong. Datar. Kelihatannya alam bawah telah sadar bahwa gunung, danau, dan langit biru tidak dapat digapai dalam waktu dekat. Sayang, bagian lain belum siap menerima kenyataan.

Ini bukan situasi yang baik untuk memulai bekerja.

Tapi apa boleh dikata, ternyata membangkitkan kembali semangat tidak semudah mendaki Puncak Himalaya. Saya pun merancang draft surat permohonan suaka ke kedutaan Mongolia. Di dalamnya tertulis, “Duhai Pak Dubes, sudi apalah kiranya saya diberikan perlindungan dari beban kehidupan.”

Tertanda,

Aaaaa——-di-wenn-naaaaaa.

Eh.

Loh.

Kok.

Yang barusan itu bukan saya yang sedang menulis surat.

Yang barusan itu… adalah… hal yang tidak jelas; terdengar seperti pembuka Lion King, tapi jelas-jelas menggunakan nama saya.  Dan, suaranya terdengar dari ruangan Bapak Bos. Apakah itu? Mungkinkah itu? When, where, and why?

Di tengah kebingungan, Pak Bos mulai tampak dari kejauhan. Tangan kanan beliau membawa kopi dengan penuh percaya diri, seperti Rafiki yang mengangkat Simba di tepi jurang.  “Gimana Wirya?”, tanya beliau. Wajahnya menyimpulkan senyum.

“I’m… okay.. Pak”, balas saya. Walau sesungguhnya di antara 5 W dan 1 H pertanyaan di kepala belum ada satupun yang terjawab. Namun beliau tetap tersenyum, dan kemudian berlalu. 

Sambil berjalan, beliau pun mulai bersenandung, dengan tertata dan tegas:

Awimbawe, awimbawe, awimbawe, awimbawe,

Ah… oke.

awimbawe…

awimbawe…

 In the jungle, the mighty jungle,

the lion sleeps tonight.

“Tahu nggak Wirya, lagunya?”, lanjut beliau

“Tahu dong”, ujar saya. Tersenyum. Sambil diam-diam membuang surat permohonan suaka.

Ya. Di Indonesia memang ada setumpuk kewajiban. Tapi kesibukan juga bisa menjadi anugerah Yang Maha Kuasa. Toh, di Mongolia tidak ada hutan.

Di sana juga tidak ada singa. (Kalau tidak salah)

***

*Fiksi ini terinspirasi dari cerita nyata. Pesan moral dari kisah ini adalah: jangan mencari perlindungan ke Kedutaan Mongolia. Selalu mencari pertolongan pada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, ada baiknya pembaca memeriksa kembali validitas klaim keberadaan hutan dan singa di Mongolia.

Image

(Hasil Google Image Search dengan kata kunci “Mongolian horse milk”)

Advertisements

Jadi kutu buku atau petualang? Pilihan absurd

O~oke, saya sedang tidak mood untuk mencoba menulis dengan baik dan benar. Jadi alur tulisan ini akan sedikit sporadis serta dibumbui sedikit omelan. Lebih lanjut, karena ketiadaan keinginan untuk menuliskan paragraf pengantar yang menarik maupun thought-provoking, saya akan membebaskan diri untuk langsung loncat dan berkata, “tema kali ini adalah: membaca.”

Kenapa membaca? Well, saya kutu buku. Kalau saya kutu dari varian lain, tentunya saya akan menulis soal bidang terkait. Kalau saya kutu loncat, misalnya, mungkin saya akan mampu untuk menulis soal diet sehat atlet lompat jauh di Olimpiade Beijing. Sayangnya yang saya sukai adalah memabca, dan karena itu artikel ini pun akan membahas soal dunia baca-membaca. Spesifiknya:tentang anggapan kalau membaca itu lebih rendah kastanya dari mengalami langsung, to experience, to live, to YOLO and beyond!

Saya, sampai saat ini, masih bingung kenapa ada yang merasa harus punya anggapan seperti itu, terlebih lagi mengatakannya.

I dare say that kind of statement is short-sighted.

Saya yang kutu buku juga suka jalan-jalan kok. Foto nelayan di atas blog ini juga saya ambil saat backpacking sendirian di Belitung. Saya mengambil foto itu sesudah berjalan kaki–ternyata transportasi umum di Belitung tidak terlalu banyak–dan menunggu berjam-jam hingga sore saat nelayan mulai melaut. Sesudah membakar tengkuk setelah mengelilingi pantai, saya duduk di atas batang pohon yang terdampar di pantai, lalu membaca.

Yup. The Road. Karya Cormac McCarthy.

Salah satu buku favorit

And it was glorious. Ada perasaan yang… je-ne-sais-quoi dari membaca novel distopian di tengah keindahan alam Indonesia. Saat novel perjalanan ayah-anak itu mulai depressing, saya tinggal melihat ke sekeliling untuk menyerap lingkungan: pohon palem, ombak, pasir putih, batu karang; lalu meneruskan membaca. Saya tidak membaca buku tersebut dengan lebih bahagia saat mengetahui kalau di kehidupan nyata masih ada keindahan. Sebaliknya, kontras antara apa yang kita miliki sekarang dengan kehancuran dunia yang dibayangkan oleh McCarthy menjadikan buku yang saya baca lebih hidup dari biasanya.

Buku fiksi pun bisa saling melengkapi dengan kehidupan nyata, apalagi buku non-fiksi.

Buku-buku sejarah akan membawa kita ke masa-masa lampu yang tidak bisa kita datangi (hingga Doraemon muncul di laci meja belajar Nobita). Buku-buku filsafat bisa membantu kita melakukan eksperimen pemikiran yang sungkan dilakukan di dunia nyata (karena l’enfer, c’est les autres) Buku-buku resep masakan akan membantu kita untuk… ya, tentu saja, goes without saying, sudah pasti, untuk mencuri hati mertua.

Buku membantu kita bertanya, juga kepada buku itu sendiri.

Jadi, kalau kita tergantung pada pengalaman indrawi saja, we’re missing out on a lot of things. Kita tidak akan mengenal Anne Frank, Adam Smith, Bung Hatta, Mahatma Gandhi, Karl Marx, maupun Rasulullah Muhammad SAW. Kita juga tidak akan mengetahui perasaan pemuda Amerika yang dikirim ke Peleliu, ataupun kepala polisi kolonial pada masa penjajahan.

Kalau kita menolak melihat informasi yang terkandung di lemari-lemari perpustakaan, pengetahuan kita akan lebih sempit dari yang seharusnya bisa kita dapatkan. Kita juga akan lebih terbatas oleh geografi dan waktu/perbedaan jaman.

Traveling can be good. Living your life, whatever it means, can be great.

Saya pun sungguh menikmati masa-masa bersepeda mengelilingi desa-desa. Saya juga mensyukuri pembicaraan dengan orang-orang unik yang saya temui selama perjalanan, mulai dari supir bus antar provinsi, pelaut nusantara, pemilik hotel, serdadu Inggris, hingga pensiunan akuntan dari Belanda. Semuanya memang sangat, sangat menarik dan membantu perkembangan saya sebagai manusia.

Namun, terlepas dari semua hal itu, saya tetap membawa buku saat jalan-jalan. Karena bukulah yang membuat hidup saya… *ehm* lebih hidup.

Cerita dari Nottingham, beberapa tahun lalu.

Ini saya, duduk di kursi yang basah. Kaki terasa terlalu berat untuk berjalan ke asrama sementara otak sudah tidak bisa diajak ceria. Musim gugur sedang mundur teratur untuk memberi jalan pada musim dingin. Langit abu-abu dan gerimis yang menjadi ciri musim pergantian ini sama sekali tidak membantu meringankan hati.

How grey. How bleak. How very English, pikir saya tentang cuaca, I was waiting for this. Dan demikian pula saya terduduk tanpa mengerti beban apa yang membuat punggung saya membungkuk. Saya ‘seharusnya’ bersuka cita. Lalu kenapa?

Mungkin ada hubungannya dengan kelelahan. Saya bukan olahragawan… cukup lelah juga membawa 60 kg dari satu gedung ke gedung lainnya. Yah, saya juga sempat ditolak masuk asrama karena masalah pembayaran. Apa karena itu?

Atau mungkin karena saya sebelumnya nyaris tidak bisa pergi. Kabar penolakan aplikasi visa memang baru sampai dua minggu sebelum kuliah mulai. Tapi, bukankah yang terpenting adalah akhirnya saya berhasil mendapatkan visa? Walau harus menulis surat penjelasan dokumentasi, walau harus bolak-balik Bandung-Jakarta-Bandung-Jakarta, walau harus berisap menunggu satu tahun lagi; yang penting saya mendapatkan visa. Persetan dengan keletihan, saya punya dunia untuk diraih!

Sigh.

Ataukah ada hubungannya dengan kelas pertama yang buruk? Tidak bisa konsentrasi, tidak bisa memasukkan pelajaran, dst. dst. But come on, Wirya, MAN UP! Sebagai pria, di dunia ini ada tuntutan yang diharapkan dari kamu. Menye-menye bukanlah salah satunya.

Yah, mungkin ada hubungannya dengan kesendirian.

Cih.

Ini saya, duduk, sendiri, dengan jaket yang mulai kuyup.

Namun, seperti dalam buku cerita, tiba-tiba terdengar suara harmonika. Seorang asing berdiri dan memainkan harmonika beberapa saat. Begitu saja. Akhirnya saya duduk tegak, walau hanya demi melihat permainanya.

Entah berapa menit berlalu sebelum dia menyelipkan harmonika ke dalam saku jaketnya. Lalu dia menatap saya dengan ramah. Have a good day, mate, ujarnya, tersenyum, lalu pergi. Saya tersenyum balik tanpa mengucapkan apa-apa. Ingin rasanya mengatakan thank you, you too, may the force be with you. Tapi semua kata itu tertahan di tenggorokan.

Yah, apapun lah. Langit memang tetap abu-abu. Hujan tetap turun rintik-rintik. Angin dingin masih menggigit.

How very English.

Hei, it is England! And you know what… it’s alright! I am alright!

Dan demikianlah, saya kemudian berjalan pulang sendirian ke pasar supaya nanti malam ada selimut dan bantal, dan makanan di perut. Di asrama saya memasak sandwich ayam paling enak di alam semesta, kemudian memakannya dengan lahap sementara suara Bob Marley terdengar dari earphone…

Don’t worry, about a thing… ’cause every little things gonna be alright. Singing don’t worry..

****

P.S: Awalnya saya nggak mau menuliskan ini karena males nyeritain saya yang lagi menya-menye. Tapi setelah beberapa lama, jadi ingin menulis sebagai ucapan terima kasih untuk mas-mas bule berharmonika. I hope you have a great day, mate!