Dunia Baru untuk B

Shuttle bus melaju kencang. Menurut brosur yang saya ambil di terminal penyambutan, bus ini memiliki panjang 20 meter dan dapat mencapai kecepatan 300 km/jam. Dia didorong oleh mesin bertenaga matahari. Masih menurut brosur, bus ini juga merupakan kendaraan paling bersih dan efisien yang pernah diciptakan manusia. Para penumpang bebas mengambil makanan dan minuman yang telah disediakan.

Halaman depan brosur sesak oleh tulisan biru muda, warna langit dunia lama: Welcome to Mars.

Di bawahnya tertulis berbagai informasi tentang kota yang akan menjadi tempat tinggal baru saya, Damaskus. Ada informasi tentang sekolah untuk warga baru yang datang bersama anak. Ada informasi tentang pembuangan sampah. Jadwal pembagian makanan. Tempat-tempat hiburan. Arena olahraga. Deretan informasi itu ditutup dengan ucapan terima kasih dalam lima bahasa, yaitu: Inggris, Perancis, Spanyol, Arab, dan China. Bahasa administrasi resmi kota.

Kelihatannya saya akan merindukan bahasa ibu.

Cool title, there.”

Saya sempat bengong sebelum menyadari kalau pria di hadapan saya sedang melihat tas yang saya pangku. Di depannya tertulis nama saya beserta gelar: Bina Pusaka Nagari, Ph.D.

Yup, very cool”, balas saya. I considered being a rock star. But, you know, girls always go for the Ph.D.”

Dia tertawa sedikit. Suaranya berat dan terdengar kasar di ujung tawa, mungkin perokok, mungkin juga nasib.

Pria itu memperkenalkan diri sebagai Ben, Benjamin Sharif, seorang koki. Dia berasal dari Sudan. Saya jawab kalau dia boleh memanggil saya Bi—atau, sesuai ejaan administratif yang telah disempurnakan, Bee.

So, are you a scientist?

Sort of, I am a sociology professor.”

Saya dapat memaklumi ketidakpercayaan Ben. Begitu pula, saya juga dapat memaklumi tawanya yang kali ini membahana. Seperti diketahui pada umumnya, upaya pembukaan dunia baru tidak membutuhkan pemahaman akan hubungan antara individu dengan institusi yang menaungi mereka dalam konteks sejarah dan struktur ekonomi-politik—baca: research interest.

Damaskus sebagai kota pertama, dan satu-satunya, di Mars seyogyanya hanya diisi oleh para “profesional”. Orang dengan pekerjaan yang dapat memberikan kepastian serta menulis laporan yang terukur, yang jauh dari bahasa-bahasa tinggi dan abstrak. Orang-orang semacam itu dan, tentunya, tentara.

Dunia baru nan tak terpetakan bukanlah tempat bagi pengajar dasar-dasar ilmu sosial (3 SKS, semester ganjil).

In my defense, I was also the best plumber on earth.”

I am sure you are”, ujar Ben. Senyumnya lepas. Dia tampak ramah, garis-garis wajahnya memang menyiratkan hidup yang penuh oleh senyuman.

“You are Malaysian, are you not?”

“Uh, no, I am actually from Nusantara.”

The new country?

“Yes, the new country”, timpal saya, merasakan beratnya kalimat itu di ujung tenggorokan. 

Nusantara memang baru merayakan dua tahun kemerdekaannya. Negara baru di dunia lama. Sejarah baru di atas sejarah lama. Tanah tumpah darah tempat darah kembali tumpah. Di sana, manusia sekali lagi membuktikan kemampuan mereka membuka paksa masa depan dengan peluru, mortar, dan korban manusia.

Saya tidak lagi ingat apakah idealisme ataukah tuntutan situasi yang menjadi dorongan, tapi saya ikut membuka jalan bagi Nusantara. Walau pada akhir jalan itu tidak banyak yang tersisa untuk saya. Teman, keluarga, dan rumah adalah kata-kata yang tertinggal maknanya di kamus tanah air tua.

Karena itu, saya langsung mengiyakan tawaran menjadi perwakilan negara di koloni pertama Mars.

Dan kini: planet, kota, serta gravitasi baru. Mars yang merah dan asing. Harapan terakhir bagi orang-orang yang bingung mencari tempat mengubur hantu.

Well, professor, welcome to Mars”, Ben mengulurkan tangannya.

Saya menyambutnya, “bienvenue, Ben.

Seorang pria berpakaian resmi berdiri di ujung bus dan menyampaikan bahwa Damaskus sudah dekat. Dia mempersilahkan kami untuk menengok ke sebelah kanan untuk melihat garis kota, di mana tampak kubah-kubah yang memancarkan cahaya pucat. Di baliknya, bumi tampak sebagai titik.

Jauh, jauh sekali.

***

PS: Ya ampun udah jam segini aja. Paginya kan gue kerja. Aduh, aduh, aduh, bagaimana ini, aduh, aduh.

Advertisements